Berita

/

Berita Terbaru

Hubungan Kesehatan dan Integritas

Rangkaian tes kesehatan dan kejiwaan yang umum dipakai saat ini dinilai belum dapat menghasilkan sosok pemimpin publik yang berintegritas. Standar kelayakan pejabat saat ini sering kali mengabaikan aspek paling krusial dalam pencegahan praktik korupsi, yakni kesehatan spiritual.

Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM), Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D., menilai maraknya oknum pemangku kebijakan yang menyalahgunakan wewenang bersumber dari hilangnya dimensi ketuhanan. Hal ini ditegaskan Suryono saat mengkritik rendahnya moral pejabat publik dalam khutbah Jumat di Masjid Kampus UGM, Jumat (17/7).

“Pejabat yang kaya raya dan masih korupsi itu adalah sakit spiritualnya. Akalnya sehat, tapi sudah tidak ada takwa. Mereka tak paham lagi apa itu dosa dan pahala, yang halal dan yang haram,” ucap Dekan Suryono.

Fenomena tersebut menjadi ironi di tengah masyarakat Indonesia yang memegang teguh nilai-nilai religius. Menurutnya, akar masalah ini berpangkal pada konsep pencapaian hidup yang keliru. Ketika seseorang berada di puncak karier tanpa ditopang fondasi agama, kekuasaan yang dimiliki rentan diselewengkan.

Suryono menyoroti Teori Piramida Kebutuhan Manusia yang digagas oleh Abraham Maslow. Teori psikologi populer ini menempatkan aktualisasi diri sebagai puncak pencapaian hidup setelah kebutuhan dasar, rasa aman, sosial, dan penghargaan terpenuhi.

Kerangka berpikir ini rupanya meniadakan elemen paling esensial bagi umat beragama yaitu kebutuhan spiritual. Tidak adanya dimensi ketuhanan membuat orang-orang di tahap aktualisasi diri amat rentan melencengkan kekuasaannya menjadi praktik koruptif.

Sebagai upaya untuk menutup celah tersebut, konsep kesehatan wajib mencakup tiga pilar keseimbangan secara utuh yaitu jasmani, rohani, dan spiritual.

Suryono mengibaratkan kondisi batin seseorang layaknya raga yang perlu dilakukan pemeriksaan medis berkala/spiritual check-up. Indikator pemeriksaan ini meliputi kualitas ibadah (habluminallah), kejujuran dalam berelasi sosial (habluminannas), ketenangan kalbu, serta sensitivitas akal saat merespons sebuah godaan.

Sebagai langkah preventif, beliau meresepkan terapi pemulihan batin yang perlu dilakukan secara rutin. “Muhasabah sebagai sarana diagnosisnya, taubat dan istigfar sebagai sarana detoksnya, tadabur kitab suci dan majelis ilmu sebagai vitaminnya, serta bersedekah dan berbuat baik sebagai bentuk olahraganya,” pungkasnya.

Sumber video: Memaknai Sehat dalam Perspektif Islam

Penulis: Fajar Budi Harsakti
Foto: Tangkapan Layar Youtube Masjid Kampus UGM

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
20 Juli 2026

Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak FKG UGM Perkuat Mutu Pendidikan melalui Workshop Evaluasi Kurikulum OBE Tahap II

20 Juli 2026

FKG UGM ‘Bedah’ Kurikulum & Tantangan Regulasi Baru Penyelenggaraan Pendidikan Dokter Gigi Spesialis (Sp-2)

20 Juli 2026

Ketika Tikus Transgenik Membuka Jendela Baru Memahami Kanker Mulut

id_ID