Lebih dari separuh peserta penelitian itu ternyata memiliki kadar LDL yang tinggi. Angkanya mencengangkan: 61,54 persen. Dan ketika para peneliti mulai mencocokkan data laboratorium darah dengan kondisi gusi para lansia tersebut, sebuah pola yang tak bisa diabaikan mulai terlihat.
Itulah yang mendorong drg. Elastria Widita, MSc, PhD bersama tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Gadjah Mada untuk menggali lebih dalam hubungan antara kesehatan periodontal dan profil lipid darah pada populasi lanjut usia di Yogyakarta. Hasilnya dipublikasikan dalam Journal of Dentistry Indonesia edisi Desember 2017, dan temuan utamanya cukup untuk membuat siapa pun berpikir dua kali soal pentingnya menjaga kebersihan gigi dan gusi.
Ketika Gusi Meradang, Darah Pun Ikut Terdampak
Penelitian ini melibatkan 78 peserta berusia 60 hingga 76 tahun, yang seluruhnya merupakan pasien layanan kesehatan primer di Gadjah Mada Medical Centre UGM. Mereka menjalani pemeriksaan gigi di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Prof. Soedomo FKG UGM, sekaligus pengambilan darah untuk mengukur kadar kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliserida.
Yang diukur dari sisi periodontal adalah dua indikator utama: kedalaman poket gigi (pocket depth/PD) dan kehilangan perlekatan (loss of attachment/LoA). Kedua parameter ini mencerminkan seberapa parah kerusakan jaringan penyangga gigi yang telah terjadi.
Hasil analisis regresi logistik menunjukkan temuan yang signifikan. Peserta dengan loss of attachment lebih dari 6 mm memiliki risiko 5,3 kali lebih tinggi mengalami kadar kolesterol total yang tidak normal, dan 2,87 kali lebih berisiko memiliki kadar LDL yang tinggi, dibandingkan peserta dengan kondisi periodontal yang lebih baik. Sementara itu, kedalaman poket saja tidak menunjukkan asosiasi yang bermakna secara statistik.
“Temuan ini mengindikasikan bahwa subjek dengan kehilangan perlekatan yang lebih besar secara signifikan berkaitan dengan kadar kolesterol total dan LDL yang lebih tinggi dalam serum. Ini berpotensi menempatkan lansia dengan kondisi periodontal buruk pada risiko gangguan profil lipid darah.”
Demikian simpulan yang dituliskan tim peneliti, yang juga melibatkan drg. Lisdrianto Hanindriyo, drg. Rini Widyaningrum, Prof. Bambang Priyono, dan Prof. Dewi Agustina dari FKG UGM.
Bakteri di Gusi, Kolesterol di Pembuluh Darah
Bagaimana mekanisme biologisnya? Para peneliti menjelaskan bahwa peradangan kronis pada jaringan periodontal bisa memicu serangkaian reaksi sistemik. Bakteri patogen periodontal melepaskan lipopolisakarida (LPS) yang masuk ke aliran darah dan memicu respons inflamasi. Respons ini, pada akhirnya, dapat mengubah profil lipoprotein menjadi lebih pro-aterogenik, yakni kondisi yang mendukung pembentukan plak di dinding pembuluh darah.
LDL yang teroksidasi, misalnya, adalah salah satu pemain kunci dalam proses aterosklerosis. Dan bakteri seperti Porphyromonas gingivalis, yang dikenal sebagai patogen utama periodontitis, dilaporkan dalam literatur ilmiah dapat meningkatkan kadar LDL sekaligus memicu hiperkolesterolemia. Di sisi lain, HDL yang seharusnya berfungsi sebagai pelindung dengan menetralisir LPS justru tidak menunjukkan perubahan signifikan dalam studi ini, konsisten dengan temuan penelitian serupa sebelumnya.
Gambaran peserta penelitian ini sendiri cukup mengkhawatirkan. Lebih dari 53 persen memiliki kedalaman poket 6 mm atau lebih, dan 59 persen mengalami kehilangan perlekatan di atas 6 mm. Padahal, 98,7 persen dari mereka mengaku menyikat gigi lebih dari dua kali sehari. Namun, tidak satu pun yang menggunakan benang gigi. Artinya, kebiasaan membersihkan sela-sela gigi masih sangat rendah, bahkan di kalangan populasi dengan pendidikan tinggi sekalipun: 97,4 persen peserta termasuk dalam kategori pendidikan tinggi.
Mengapa Lansia Yogyakarta Perlu Lebih Waspada
Konteks demografis membuat penelitian ini semakin relevan. Proyeksi statistik nasional memperkirakan Yogyakarta akan menjadi salah satu provinsi dengan populasi lansia terbanyak di Indonesia pada 2035, dengan lebih dari 10 persen penduduknya berusia 65 tahun ke atas. Bersamaan dengan itu, penyakit kardiovaskular terus menjadi penyebab kematian utama akibat penyakit tidak menular di tingkat global maupun nasional.
Studi ini memang memiliki keterbatasan. Desain cross-sectional tidak bisa membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. Jumlah sampel pun terbilang kecil. Tim peneliti sendiri menyarankan perlunya studi longitudinal dengan sampel yang lebih besar dan beragam untuk memperkuat temuan ini.
Namun satu hal yang sudah jelas dari penelitian drg. Elastria Widita dan rekan-rekannya: kondisi gusi bukan sekadar urusan mulut. Pada lansia, jaringan periodontal yang rusak parah bisa menjadi cermin sekaligus kontributor bagi masalah kesehatan yang jauh lebih serius. Pemeriksaan gigi rutin, dalam konteks ini, bukan lagi sekadar soal estetika atau nyeri gigi, melainkan bagian dari strategi pencegahan penyakit jantung yang sering kali luput dari perhatian.
Sumber DOI : doi: 10.14693/jdi.v24i3.1056
Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Freepik