Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Foto Rontgen Gigi Bisa Deteksi Risiko Osteoporosis Lebih Awal pada Perempuan Pascamenopause

Bayangkan seorang perempuan berusia 60 tahun datang ke klinik gigi untuk memeriksakan giginya. Dokter mengambil foto rontgen periapikal prosedur rutin yang murah dan cepat. Namun dari gambar hitam putih itu, tersimpan informasi yang jauh lebih besar dari sekadar kondisi akar gigi: ada petunjuk tentang kepadatan tulangnya secara keseluruhan, termasuk risiko osteoporosis yang mungkin belum terdeteksi.

Itulah inti temuan penelitian yang diterbitkan di Journal of Oral Biology and Craniofacial Research (2025), yang melibatkan Dr. drg. Rurie Ratna Shantiningsih, MDSc dari Departemen Radiologi Dentomaksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, bersama tim peneliti dari Universitas Airlangga. Penelitian ini mengeksplorasi kemungkinan menggunakan analisis pola trabekular tulang alveolar pada foto rontgen periapikal sebagai penanda awal osteoporosis khususnya pada perempuan pascamenopause.

Mengapa Tulang Rahang Bisa Mencerminkan Kondisi Tulang Seluruh Tubuh

Osteoporosis adalah kondisi berkurangnya kepadatan tulang yang membuat tulang rapuh dan rentan patah. Lebih dari 200 juta perempuan di seluruh dunia diperkirakan terdampak kondisi ini, dan risiko meningkat tajam setelah menopause karena kadar estrogen yang turun drastis. Standar emas diagnosisnya adalah pemeriksaan Dual-Energy X-ray Absorptiometry (DXA), yang mengukur Bone Mineral Density (BMD). Masalahnya, DXA mahal, tidak selalu tersedia, dan tidak menggambarkan arsitektur tulang secara detail.

Di sinilah radiografi gigi masuk sebagai alternatif yang menarik. Foto rontgen periapikal yang umum dilakukan di hampir semua klinik gigi mampu menampilkan struktur trabekular tulang alveolar mandibula. Dengan metode analisis Fractal Dimension (FD), pola kompleks jaringan trabekular itu bisa diukur secara kuantitatif.

Tim peneliti menganalisis 93 foto rontgen periapikal dari 31 perempuan pascamenopause berusia di atas 55 tahun. Setiap peserta juga memiliki data BMD dari pemeriksaan DXA. Data radiografi diperoleh dari Rumah Sakit Gigi dan Mulut Prof. Soedomo UGM, sementara data BMD bersumber dari rekam medis pasien di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta.

Satu Angka Kecil, Satu Petunjuk Besar

Penelitian ini mengukur dua parameter utama dari analisis FD: Alveolar Bone Density (ABD), yaitu rasio area tulang terhadap total area yang dianalisis, dan D value, yaitu jumlah titik terminal trabekular per sentimeter persegi. Keduanya diukur pada region anterior (simfisis mandibula) dan posterior (distal foramen mentale) menggunakan perangkat lunak ImageJ.

Hasilnya cukup mengejutkan dalam dua hal sekaligus. Pertama, tidak ditemukan perbedaan signifikan antara nilai FD di region anterior dan posterior artinya, penurunan kepadatan tulang akibat osteoporosis pada perempuan pascamenopause terjadi secara merata di seluruh rahang. Ini konsisten dengan teori bahwa defisiensi estrogen berdampak sistemik, memengaruhi distribusi aliran darah dan nutrisi tulang secara seragam.

Kedua, dan ini yang lebih penting secara klinis: ABD menunjukkan korelasi positif yang signifikan dengan status BMD (r = 0,383, p < 0,05). Semakin tinggi nilai ABD, semakin baik kepadatan mineral tulang secara keseluruhan. Lebih spesifik lagi, ABD di region anterior mandibula berkorelasi signifikan dengan T-score (r = -0,357, p < 0,05) skor yang digunakan untuk mendiagnosis osteoporosis berdasarkan standar WHO.

“ABD dapat menjadi indikator potensial untuk mendeteksi risiko osteoporosis pada perempuan pascamenopause, khususnya di region anterior, menggunakan foto rontgen periapikal.”

Sementara itu, D value tidak menunjukkan korelasi bermakna dengan BMD maupun T-score. Para peneliti menduga hal ini berkaitan dengan keterbatasan inheren foto rontgen dua dimensi: trabekular yang saling tumpang tindih menyulitkan penghitungan titik terminal secara akurat, sehingga D value kurang reliabel dalam konteks ini.

Dari Kursi Dokter Gigi ke Deteksi Dini Osteoporosis

Temuan ini membuka implikasi praktis yang cukup luas. Sebagian besar peserta dalam penelitian ini memiliki kondisi yang mencerminkan populasi perempuan lanjut usia di Indonesia: 71 persen tidak aktif berolahraga, 71 persen tidak pernah mengonsumsi susu, 90,3 persen tidak pernah mendapat terapi kalsium, dan 45,1 persen termasuk kategori obesitas berat berdasarkan BMI. Meski demikian, sebagian besar (61,29 persen) terklasifikasi osteopenia berdasarkan DXA, dan 29,03 persen sudah masuk kategori osteoporosis.

Angka-angka itu menunjukkan betapa besar beban osteoporosis yang tidak terdiagnosis di komunitas, dan betapa strategisnya posisi klinik gigi sebagai titik kontak pertama layanan kesehatan. Foto rontgen periapikal sudah rutin dilakukan yang dibutuhkan hanyalah langkah tambahan berupa analisis FD menggunakan perangkat lunak yang tersedia bebas.

Tentu ada keterbatasan yang diakui para peneliti. Jumlah sampel yang terbatas (31 orang) mengurangi kekuatan statistik studi ini. Tidak ada data longitudinal, sehingga perubahan kepadatan tulang dari waktu ke waktu belum bisa dievaluasi. Variasi kondisi intraoral antarpartisipan juga tidak sepenuhnya terkontrol. Penelitian lanjutan dengan skala lebih besar dan desain kohort prospektif akan diperlukan sebelum metode ini bisa direkomendasikan sebagai protokol skrining standar.

Namun arahnya sudah jelas. Foto rontgen yang selama ini hanya dilihat sebagai alat diagnostik gigi, perlahan-lahan sedang mendapatkan peran baru: menjadi jendela kecil yang memberi tanda-tanda tentang kesehatan tulang perempuan yang menua jauh sebelum ada tulang yang patah.

Sumber DOI : https://doi.org/10.1016/j.jobcr.2025.06.025

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
21 Juli 2026

FKG UGM Usung Konsep Green Dentistry pada Summer Course 2026

21 Juli 2026

Ketika Karier Mandek, Siapa yang Bertanggung Jawab?

21 Juli 2026

Nanokitosan Lawan Bakteri Tersembunyi di Balik Kawat Gigi

id_ID