Berita

/

Berita Terbaru

FKG UGM Menerima Kunjungan UKDW, Jajaki Kerja Sama Pendirian Prodi Kedokteran Gigi

Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta menginisiasi langkah strategis untuk mendirikan Program Studi Kedokteran Gigi di bawah naungan Fakultas Kedokteran. Langkah nyata penyiapan kelembagaan ini diawali dengan kunjungan audiensi resmi jajaran pimpinan Rektorat UKDW yakni: Rektor UKDW Dr.-Ing. Wiyatiningsih, S.T., M.T., Wakil Rektor Bidang Akademik UKDW Dr. Rosa Delima, S.Kom., M.Kom., Dekan FK UKDW dr. The Maria Meiwati Widagdo, Ph.D., Direktur RS Bethesda dr. Eddy Wibowo, Sp.M (K), MPH. & Dr. drg. MM Suryani Hutomo, MDSc. diterima langsung oleh Jajaran Dekanat FKG UGM beserta tenaga kependidikan untuk menjajaki kerja sama pendirian Prodi Kedokteran Gigi UKDW (04/09/2026).

Pertemuan tersebut menjadi ruang diskusi komprehensif antara calon pengelola prodi baru dengan calon tim pembina FKG UGM guna membahas skema Perjanjian Kerja Sama (PKS), kualifikasi dosen, hingga penyiapan wahana Rumah Sakit Pendidikan Utama.

Dekan FKG UGM sekaligus Ketua AFDOKGI, Prof. Dr. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D., menguraikan betapa mendesaknya pemenuhan dokter gigi di tanah air. Pemerintah bahkan menaruh perhatian khusus pada isu ini dengan menargetkan pembukaan hingga 30 prodi kedokteran gigi baru di berbagai perguruan tinggi Indonesia.

“Di Jawa Barat saja ada sekitar 241 puskesmas yang tidak punya dokter gigi. Data terkini Kemenkes mencatat kita kekurangan sekitar 127.000 dokter gigi. Di DIY mungkin relatif terisi, namun di berbagai pelosok Indonesia kondisinya sangat prihatin karena dokter gigi menumpuk di kota-kota besar,” jelas Prof. Suryono.

Prof. Suryono menegaskan bahwa akselerasi pendirian prodi baru harus berjalan seiring dengan penjagaan standar mutu pendidikan agar lulusan yang dihasilkan benar-benar berkompeten. Berdasarkan aturan terbaru dari Kemendikbudristek, batasan maksimal perguruan tinggi pembina yang sebelumnya hanya diperbolehkan membimbing tiga institusi kini telah dicabut dan disesuaikan dengan kekuatan masing-masing FKG pembina. Sejauh ini, FKG UGM telah berhasil membimbing tiga universitas, yakni Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (UMPR), Universitas Negeri Padang (UNP), dan Universitas Kristen Petra Surabaya.

“Dulu regulasi membatasi satu FKG pembina maksimal membimbing tiga institusi, tapi aturan itu dicabut. Namun kami sangat menekankan agar antarinstitusi pendidikan bisa saling melengkapi, bukan saling menjatuhkan. Jangan sampai ada aksi bajak-membajak dosen hanya karena iming-iming finansial. Regulasi pembinaan dan PKS ini kami rancang agar persaingan tidak sehat itu tidak terjadi dan standar kualifikasi nasional tetap terjaga,” tegas Prof. Suryono.

Rektor UKDW, Dr. Ir. Wiyatiningsih, S.T., M.T., mengungkapkan bahwa rencana pendirian Program Studi Kedokteran Gigi di UKDW bukanlah sebuah gagasan yang muncul secara mendadak. Langkah ini merupakan wujud komitmen panjang institusi yang telah diinisiasi sejak beberapa tahun silam.

“Inisiasi pembukaan prodi Kedokteran Gigi ini sebenarnya sudah berproses sejak tahun 2017. Sudah tiga generasi rektor di UKDW yang terus mengawal proses ini. Namun karena ada berbagai kendala prioritas di tingkat pimpinan & situasi pandemi kala itu, prosesnya sempat tertunda. Tahun ini kami merasa momentumnya sangat tepat untuk melangkah lebih serius agar cita-cita ini benar-benar terwujud ” papar Rektor UKDW

Rektor UKDW menegaskan bahwa keberadaan Fakultas Kedokteran UKDW yang saat ini telah menyelenggarakan Pendidikan Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, serta persiapan PPDS Neurologi, menjadi fondasi kuat untuk memperluas rumpun ilmu kesehatan melalui pembukaan Prodi Kedokteran Gigi.

“Kami sowan ke FKG UGM untuk berkonsultasi untuk arahan teknis agar FKG UGM bersedia menjadi institusi pendamping kami. Kami optimis, dengan arahan dari FKG UGM dan dukungan jaringan Rumah Sakit Bethesda, proses ini dapat diakselerasi dengan baik,” pungkas Rektor UKDW.

Salah satu sorotan kritis dalam proses pendirian prodi kedokteran gigi adalah syarat ketersediaan wahana pendidikan klinis atau Rumah Sakit Pendidikan. Berbeda dengan regulasi era sebelumnya yang mewajibkan setiap FKG memiliki Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) mandiri, aturan terbaru memberikan fleksibilitas bagi perguruan tinggi.

Wakil Dekan Bidang Kerjasama, Riset & Pengabdian Masyarakat FKG UGM, drg. Trianna Wahyu Utami, MDSc., Ph.D., dan Wakil Dekan Bidang SDM, Aset & Keuangan FKG UGM drg. Heribertus Dedy Kusuma Yulianto, M.Biotech., Ph.D menjelaskan bahwa calon prodi dapat mengoptimalkan Rumah Sakit Umum milik institusi atau mitra yang memiliki unit/fasilitas pelayanan kesehatan gigi terpadu sebagai Rumah Sakit Pendidikan Utama (RSPU). Dalam skema ini, UKDW menggandeng Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta sebagai mitra strategis wahana pendidikan. Direktur RS Bethesda, dr. Edy Wibowo, Sp. M (K), yang turut hadir dalam audiensi menyatakan kesiapan penuh jajaran rumah sakit dalam mendukung operasionalisasi Prodi Kedokteran Gigi FK UKDW.

“Meskipun mahasiswa baru akan masuk ke tahap profesi klinis sekitar 4 tahun setelah jenjang S1 berjalan, kami di RS Bethesda sudah mulai berbenah sejak awal. Kesiapan RS Pendidikan akan dinilai langsung oleh asesor saat visitasi awal. Kami berkomitmen melengkapi persyaratan akreditasi RS Pendidikan, mulai dari kecukupan rasio dental unit, pemisahan ruang pelayanan anak dan dewasa, hingga rasio dokter spesialis pembimbing,” ungkap Direktur RS Bethesda.

Di balik kemudahan regulasi wahana rumah sakit, analisis teknis menunjukkan bahwa batu sandungan utama pembukaan prodi kedokteran gigi baru terletak pada pemenuhan kualifikasi tenaga pengajar (dosen). Sesuai ketentuan Ditjen Diktiristek, calon prodi kedokteran gigi wajib memiliki minimal 13 orang dosen berlatar belakang akademis yang sesuai. Dari jumlah tersebut, setidaknya harus ada 5 dokter gigi yang mencakup bidang keilmuan spesifik dan dasar kedokteran gigi, seperti Oral Biologi, Biomaterial, serta Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat (IKGM). Guna menjembatani keterbatasan SDM pada tahap awal pendirian, regulasi memungkinkan skema peminjaman dosen dari perguruan tinggi pembina (FKG UGM). Namun, drg. Trianna mengingatkan bahwa skema peminjaman ini bersifat sementara dan memiliki batasan yang sangat ketat.

“Berdasarkan konsensus, jumlah dosen yang dapat dipinjam dari perguruan tinggi pembina maksimal hanya 3 orang. Dosen pembina tidak bisa dipinjam secara keseluruhan karena kami juga harus menjaga pemenuhan Tri Dharma dan beban kerja dosen di FKG UGM sendiri. Jangan sampai beban mengajar di luar mengganggu penilaian kinerja dan kenaikan pangkat dosen kami,” terang drg. Trianna

Oleh karena itu, FKG UGM mewajibkan UKDW untuk menyusun planning atau roadmap pengembangan SDM yang jelas dalam Perjanjian Kerja Sama (PKS). UKDW diminta memetakan gap kebutuhan dosen dan menyekolahkan (task learning) calon dosen internal ke jenjang S2 atau Spesialis (seperti Radiologi Kedokteran Gigi dan Biomaterial) sejak dini. Begitu izin operasional turun dan mahasiswa mulai berkuliah, dosen yang sedang menempuh pendidikan tersebut diharapkan segera lulus sehingga skema peminjaman dosen dapat diakhiri secara bertahap.

Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FKG UGM, Prof. Dr. drg. Rosa Amalia, M.Kes., Ph.D., menambahkan bahwa selain kesiapan SDM dan sarana prasarana, aspek penting yang akan dinilai oleh verifikator Kementerian dan Kolegium adalah kurikulum serta keunikan (uniqueness) prodi.

“Dalam pendampingan akademik, kami akan membantu transfer kurikulum dan memberikan pelatihan bagi calon dosen. Namun yang tidak kalah penting, UKDW harus mampu mengeksplorasi dan menentukan keunikan prodinya sendiri. Keunikan ini harus tercermin secara jelas di dalam struktur kurikulum, fokus penelitian, hingga kegiatan pengabdian masyarakat. Jika keunikan institusi sudah tergambar kuat di kurikulum, proses akreditasi dan visitasi biasanya akan berjalan sangat lancar,” urai Prof. Rosa.

Pertemuan strategis ini ditutup dengan kesepakatan bahwa tim teknis UKDW akan segera melakukan inventarisasi dan pemetaan gap kebutuhan. Tim internal UKDW di bawah koordinasi tim pembentukan prodi tengah menyelesaikan penyusunan dokumen Feasibility Study (FS) dan perumusan draf Perjanjian Kerja Sama (PKS) khusus dengan FKG UGM. Pimpinan UKDW menargetkan pengunggahan berkas usulan pembukaan Prodi Kedokteran Gigi ke sistem Kementerian Kesehatan dapat diselesaikan secepatnya

Melalui kolaborasi erat antara FKG UGM sebagai pembina, UKDW sebagai penyelenggara pendidikan kedokteran gigi, dan RS Bethesda sebagai wahana pelayanan klinis, pendirian Prodi Kedokteran Gigi baru ini diharapkan tidak sekadar menambah kuantitas institusi pendidikan kedokteran gigi semata, melainkan menjadi solusi nyata dalam melahirkan dokter gigi yang profesional, berintegritas, serta siap melayani masyarakat di seluruh pelosok Tanah Air.

(Reporter: Andri Wicaksono, Foto: Fajar Budi Harsakti)

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
31 Agustus 2026

Pengabdian Masyarakat FKG UGM Hadir di Festival Budaya Warga 2026, Dorong Kesadaran Kesehatan Gigi & Mulut Masyarakat

31 Agustus 2026

3 Dosen FKG UGM Sebagai Invited Speaker, Perkuat Riset Biomedical Engineering di ICIBEL 2026 Malaysia

31 Agustus 2026

FKG UGM Menerima Kunjungan Universitas Bosowa, Siapkan Fakultas Kedokteran Gigi, Perkuat Kesehatan Gigi & Mulut Indonesia Timur