Rencana Universitas Bosowa mendirikan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) tidak sekadar diarahkan untuk menambah jumlah institusi pendidikan dokter gigi di Indonesia. Kampus yang berbasis di Makassar, Sulawesi Selatan, itu justru menyiapkan model pendidikan kedokteran gigi dengan kekhususan pada kesehatan industri, masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil, transformasi digital, serta penguatan jejaring kesehatan Indonesia Timur.
Gagasan tersebut mengemuka ketika jajaran Universitas Bosowa meliputi: Dr. Sutia Budi, S.Pi, M.Si. (Wakil Rektor I), Prof. Dr. Ir. Hadijah, M.Si (Sekretaris Universitas Bosowa), & drg. Ulfah Nurul Huda, Mars melakukan kunjungan ke FKG UGM, diterima langsung oleh jajaran Dekanat FKG UGM menjadi bagian dari persiapan Universitas Bosowa sebelum merealisasikan rencana pembukaan program studi maupun fakultas kedokteran gigi (28/08/2026).
Wakil Rektor I Universitas Bosowa, Dr. Sutia Budi, S.Pi., M.Si., Ph.D., mengatakan kunjungan ke FKG UGM bukan sekadar agenda kunjungan semata. Universitas Bosowa ingin mempelajari secara langsung tata kelola, budaya akademik, kurikulum, sumber daya manusia, sarana-prasarana, hingga ekosistem penelitian dan pengabdian masyarakat yang telah dibangun FKG UGM.
Bagi Bosowa, langkah tersebut sekaligus merupakan upaya untuk menghindari kesalahan sejak tahap awal. Pendirian pendidikan kedokteran gigi memiliki persyaratan akademik, mutu, sumber daya manusia, fasilitas, dan sistem pendidikan yang tidak sederhana.
“Kami akan banyak belajar. Jangan sampai kami sudah lari kencang ternyata salah arahnya. Kalau salah paham mungkin tidak apa-apa, kalau pahamnya yang salah di kami itu yang agak susah nantinya kami kembali ke jalan yang benar,” ujar Setia Budi.

Menjawab Kesenjangan Dokter Gigi di Indonesia Timur
Rencana pendirian FKG Bosowa berangkat dari persoalan yang lebih luas: ketimpangan akses layanan kesehatan gigi dan mulut, khususnya di kawasan Indonesia Timur. Universitas Bosowa melihat kebutuhan tersebut bukan hanya dari perspektif akademik, tetapi juga dari kondisi geografis Sulawesi Selatan dan kawasan timur Indonesia yang memiliki banyak masyarakat pesisir serta pulau-pulau kecil. Setia Budi menyebut Sulawesi Selatan memiliki sekitar 315 pulau. Sebagian wilayah tersebut masih menghadapi keterbatasan tenaga kesehatan, termasuk tenaga kesehatan gigi.
“Ini juga melandasi kami. Masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil itu sangat minim terkait dengan tenaga medis, termasuk di gigi,” katanya. Persoalan itu, menurutnya, tidak bisa hanya dijawab dengan memperbanyak lulusan dokter gigi. Institusi pendidikan juga perlu membentuk dokter gigi yang memahami karakter masyarakat dan tantangan geografis tempat mereka kelak bekerja.
Karena itu, Universitas Bosowa ingin menjadikan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil sebagai salah satu laboratorium sosial pendidikan, penelitian, serta pengabdian masyarakat. “Hampir setiap bulan, setiap semester, kami mengirim anak-anak kami KKN, praktik di pulau-pulau kecil. Dan memang sangat miris terkait dengan kesehatan mereka, termasuk di gigi,” ujarnya. Situasi tersebut, kata Setia Budi, membuat perguruan tinggi memiliki tanggung jawab sosial yang lebih besar. “Tidak bisa diabaikan, harus ada peran kami.”
Lima Pilar Diferensiasi
Dalam tahap awal perancangannya, Universitas Bosowa telah menyiapkan sejumlah fokus yang akan menjadi pembeda FKG yang akan didirikan.
Pertama, kesehatan industri. Kedua, kesehatan berbasis masyarakat, khususnya masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil. Ketiga, pengembangan pendidikan kedokteran berbasis teknologi. Keempat, digital dentistry. Kelima, penguatan jejaring Indonesia Timur.
Kelima fokus tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai slogan institusi. Universitas Bosowa ingin menerjemahkannya ke dalam kurikulum, profil lulusan, penelitian, pengabdian masyarakat, hingga jejaring layanan kesehatan.
Dalam konteks kesehatan industri, misalnya, pendidikan dokter gigi akan diarahkan pada isu kesehatan gigi pekerja, kesehatan mulut dalam lingkungan industri, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), hingga corporate dental health program.“Kami mengarahkan semua prodi, termasuk FK dan nantinya FKG ini, ke arah industri dan pekerja,” kata Setia Budi.
Pilihan tersebut memiliki relevansi khusus karena Universitas Bosowa berada dalam ekosistem bisnis yang memiliki banyak unit usaha. Dengan basis tersebut, perguruan tinggi melihat adanya peluang untuk mengembangkan pendidikan kedokteran gigi yang lebih dekat dengan kebutuhan dunia kerja.
Namun, pendekatan industri tersebut tidak dimaksudkan untuk menggeser fungsi sosial pendidikan tinggi. Setia Budi menegaskan bahwa semangat korporasi Bosowa tidak berarti pendidikan akan semata-mata dikomersialisasikan. Pendidikan tetap diarahkan untuk memberikan dampak sosial bagi masyarakat.

Dari Industri ke Hilirisasi Riset
Gagasan Universitas Bosowa tersebut mendapat respons positif dari FKG UGM. Dekan FKG UGM, Prof. Dr. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D., menilai diferensiasi yang dirancang Universitas Bosowa justru dapat menjadi kekuatan apabila dikembangkan secara konsisten. Ia melihat fokus pada kesehatan industri dan masyarakat pesisir sebagai sesuatu yang relatif belum banyak dikembangkan oleh institusi pendidikan dokter gigi. “Tidak pernah ada yang mengarah ke jejaring wilayah Timur, kemudian pulau-pulau kecil, apalagi background-nya ke arah industri,” kata Prof. Suryono.
Menurutnya, kekhasan tersebut dapat menjadi keunggulan kompetitif FKG Bosowa apabila diterjemahkan secara serius ke dalam desain pendidikan dan riset. “Ini menarik tentu akan menjadi satu keunggulan ke depannya dibanding 50 yang lain yang sudah berdiri hingga saat ini,”
Pada saat yang sama, FKG UGM melihat potensi lain yang lebih besar, yakni membangun mata rantai antara pendidikan, penelitian, industri, dan hilirisasi inovasi kedokteran gigi.
Wakil Dekan FKG UGM Bidang Riset, Kerjasama & Pengabdian Masyarakat, drg. Trianna Wahyu Utami, MD.Sc., Ph.D. menyoroti fakta bahwa sebagian besar material dan peralatan kedokteran gigi di Indonesia masih bergantung pada produk impor. Kondisi tersebut menunjukkan adanya ruang besar bagi perguruan tinggi dan industri nasional untuk membangun kemandirian. “Hampir 90 persen material untuk alat bahan kedokteran gigi kita masih bergantung pada luar negeri, kita masih impor,” ujarnya.
Dalam konteks itu, ekosistem bisnis Bosowa dinilai dapat menjadi salah satu peluang untuk memperkuat hilirisasi hasil riset perguruan tinggi. FKG UGM sendiri telah memiliki pengalaman dalam pengembangan inovasi dan hilirisasi penelitian. Karena itu, kolaborasi dengan ekosistem industri Universitas Bosowa dinilai berpotensi membawa kerja sama ke tingkat yang lebih konkret.
“Tidak hanya hal-hal yang sifatnya edukasi, perawatan kesehatan, tetapi juga mungkin produk-produk yang justru akan menunjang pendidikan kedokteran gigi itu sendiri dan juga untuk meningkatkan kesehatan masyarakat,” papar drg. Triana.
Wakil Dekan FKG UGM Bidang Akademik, Prof. Dr. drg. Rosa Amalia, M.Kes menekankan pentingnya membangun kurikulum berdasarkan visi keilmuan dan karakteristik kebutuhan daerah.
Dalam pendekatan Outcome-Based Education (OBE), desain pendidikan harus dimulai dari profil lulusan yang hendak dibentuk. Profil tersebut kemudian diterjemahkan menjadi capaian pembelajaran, kurikulum, metode pembelajaran, fasilitas, serta penelitian yang saling terhubung.
“Kalau sudah ada visi, kemudian nanti akan ada lanjutan untuk graduate profile-nya sampai dengan pembuatan kurikulum dan nantinya pemenuhan fasilitas maupun juga penelitian juga bisa diarahkan menjadi satu benang merah yang sama,” ujar Prof. Rosa.
Dengan demikian, kekhasan Indonesia Timur tidak boleh hanya menjadi identitas administratif. Ia harus menjadi fondasi akademik yang membedakan lulusan FKG Bosowa dari lulusan institusi lainnya.
Pendekatan tersebut sekaligus membuka peluang bagi FKG UGM untuk menjadi mitra akademik dalam proses pengembangan kurikulum dan sistem pendidikan FKG Bosowa.

Tantangan Terbesar: Bukan Sekadar Mendirikan Gedung
Di tengah optimisme tersebut, tantangan pendirian FKG tetap besar. Gedung dan laboratorium memang menjadi bagian penting, tetapi bukan satu-satunya penentu keberhasilan. Kualitas dosen, budaya akademik, sistem pendidikan klinis, rumah sakit jejaring, mutu penelitian, tata kelola, dan keberlanjutan pembiayaan justru akan menentukan apakah sebuah FKG mampu menghasilkan dokter gigi berkualitas.
FKG UGM sendiri menggambarkan bahwa pembangunan ekosistem pendidikan kedokteran gigi membutuhkan keterhubungan berbagai unsur tersebut. Karena itu, keputusan Universitas Bosowa untuk tidak memisahkan ruang pembelajaran dan laboratorium menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan yang terintegrasi.
Universitas Bosowa saat ini memiliki beberapa kampus dan tengah menyiapkan pemanfaatan fasilitas yang tersedia. Namun, untuk pendidikan kedokteran gigi, integrasi ruang belajar, laboratorium, fasilitas klinis, serta jejaring rumah sakit tetap menjadi perhatian. Dengan kata lain, tantangannya bukan sekadar “seberapa cepat FKG berdiri”, melainkan “seberapa kuat sistem akademiknya dibangun sejak hari pertama.”
Menariknya, FKG UGM tidak memandang kehadiran FKG baru sebagai ancaman persaingan. Prof. Suryono justru mengusung pendekatan kolaboratif. Menurut dia, bertambahnya institusi pendidikan kedokteran gigi dapat menjadi kekuatan bersama apabila diarahkan untuk menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat.
“Saya tidak pernah menganggap ada FKG baru di mana pun itu sebagai kompetitor, tapi komplementer, bisa saling melengkapi,” katanya. Pandangan tersebut penting di tengah kebutuhan dokter gigi nasional yang masih besar dan distribusinya belum merata.
Menurut Prof. Suryono, persoalan kekurangan tenaga dokter gigi bukan hanya soal jumlah lulusan, tetapi juga distribusi dan kesesuaian antara lulusan dengan kebutuhan daerah. Karena itu, penguatan pendidikan dokter gigi di kawasan Indonesia Timur memiliki nilai strategis. Prof. Suryono menyarankan untuk membuka peluang agar FKG Bosowa nantinya memberi perhatian khusus pada putra-putri daerah, termasuk dari Papua, dengan harapan mereka dapat kembali mengabdi di daerah asal. “Tujuannya biar bisa pulang. Pulang ke kampung halamannya,” ujarnya. Membangun Dokter Gigi yang Pulang ke Daerah
Pada titik inilah rencana kelak FKG Bosowa berdiri, memiliki dimensi sosial yang lebih luas. Pendidikan dokter gigi tidak cukup menghasilkan tenaga profesional yang kompeten secara klinis. Tantangan Indonesia Timur membutuhkan dokter gigi yang memahami konteks sosial, geografis, industri, budaya, dan karakter masyarakat tempat mereka bekerja.
Model ini sejalan dengan gagasan Universitas Bosowa mengenai jejaring Indonesia Timur. Sulawesi, Maluku, Papua, dan kawasan kepulauan lainnya tidak dipandang sebagai wilayah pinggiran, melainkan sebagai ruang strategis pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian.

Menjembatani Kampus, Industri, dan Masyarakat
Jika rencana tersebut dapat diwujudkan secara konsisten, Universitas Bosowa berpotensi menghadirkan model baru pendidikan kedokteran gigi di Indonesia: kampus yang tidak hanya mencetak dokter gigi, tetapi membangun ekosistem kesehatan gigi berbasis industri dan masyarakat kepulauan. Tantangan berikutnya adalah menjaga agar lima pilar yang telah dirumuskan tidak berhenti sebagai dokumen visi-misi.
Kesehatan industri harus menghasilkan riset dan layanan yang nyata bagi pekerja. Fokus masyarakat pesisir harus melahirkan model pelayanan yang mampu menjawab persoalan geografis. Digital dentistry harus menghasilkan inovasi teknologi yang relevan. Jejaring Indonesia Timur harus memperkuat distribusi pengetahuan dan tenaga kesehatan.
Di sinilah kelak kerja sama Universitas Bosowa dan FKG UGM dapat menghadirkan Hubungan sinergis. UGM memiliki pengalaman akademik dan riset, sedangkan Bosowa memiliki ekosistem bisnis dan jaringan sosial-ekonomi yang luas. Pertemuan kedua institusi tersebut pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana mendirikan sebuah fakultas baru. Lebih jauh, pertemuan itu membuka pertanyaan yang lebih mendasar: dapatkah pendidikan kedokteran gigi Indonesia bergerak dari sekadar mencetak lulusan menuju pembangunan ekosistem kesehatan yang benar-benar menjawab persoalan masyarakat.
(Reporter & Foto: Andri Wicaksono)