Berita

/

Berita Terbaru, SDG 4

FKG UGM ‘Bedah’ Kurikulum & Tantangan Regulasi Baru Penyelenggaraan Pendidikan Dokter Gigi Spesialis (Sp-2)

FKG UGM sukses menyelenggarakan workshop akademik strategis guna mempersiapkan pembukaan program studi Spesialis 2 (SP2) atau Subspesialis Prostodonsia. Acara penting yang mempertemukan para pakar dan tim task force kurikulum ini berlangsung dengan antusias di Gedung Margono Soeradji Lantai 3, FKG UGM.

Workshop dihadiri oleh Dekan FKG UGM, Prof. Dr. drg. Suryono, S.H., Ph.D., Ketua Senat FKG UGM, para Ketua Departemen, Ketua Program Studi Spesialis, tim penyusun naskah akademik, serta jajaran Kepala Kantor dan Administrasi di lingkungan FKG UGM. Guna memberikan pembekalan yang komprehensif, FKG UGM menghadirkan dua pakar dari Universitas Hasanuddin (Unhas) sebagai narasumber. Dalam sambutannya, Dekan FKG UGM Prof. Suryono menekankan pentingnya institusi untuk bergerak cepat (gercep) dalam menangkap peluang dan menghadapi tantangan regulasi baru terkait pendidikan tenaga medis. Beliau menyoroti perubahan terminologi krusial di tingkat kementerian, salah satunya wacana perubahan status Rumah Sakit Pendidikan menjadi Rumah Sakit Pendidikan

“Mari kita gerak cepat. Kita bukalah wawasan kita, jangan cuma mengurusi yang namanya gigi dan mulut saja, tetapi lihatlah dinamika yang berkembang di eksternal yang berdampak pada dunia pendidikan,” ujar Prof. Suryono di hadapan para peserta workshop.

Prof. Suryono juga mengingatkan tim penyusun untuk menggunakan strategi double track dalam menyusun naskah akademik. Strategi ini melibatkan pembuatan dokumen prodi sub-spesialis dengan banyak minat (multidisiplin) sekaligus menyiapkan dokumen prodi dengan minat spesifik yang diunggulkan. Langkah ini diambil agar FKG UGM tetap adaptif terhadap format apa pun yang disyaratkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Lebih lanjut, Dekan FKG UGM mengapresiasi kemandirian prodi seperti Bedah Mulut yang telah berhasil mengoptimalkan fasilitas internal kampus di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) UGM serta Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM. Pola ini diharapkan mampu meminimalisasi ketergantungan pada rumah sakit vertikal eksternal dan memperkuat posisi tata kelola pendidikan (good governance) yang ideal di bawah naungan universitas.

Dalam suasana diskusi yang interaktif, lokakarya ini menghadirkan drg. Acing Habibie Mude., Ph.D., Sp.Pros., Subsp. OGST(K) sebagai pemateri dari FKG UNHAS yang membedah dinamika pengelolaan sumber daya dosen serta strategi penyusunan kurikulum di tengah perubahan regulasi. Jalannya workshop dipandu secara dinamis oleh drg. Intan Ruspita, M.Kes., Ph.D., Sp.Pros., Subsp. OGST(K) yang bertindak sebagai moderator.

Menavigasi “Bongkar Pasang” Dosen & Paradoks Regulasi

Dalam paparannya, drg. Acing Habibie Mude., Ph.D., Sp.Pros., Subsp. OGST(K) menyoroti tantangan klasik yang kerap dihadapi institusi dalam membuka program studi baru, khususnya terkait pemetaan home base dosen. “Masalah yang sering muncul adalah kompleksitas dosen yang kerap berganti-ganti atau harus dibongkar pasang demi memenuhi tuntutan administrasi home base saat prodi baru dibuka,” ujarnya.

Untuk menyiasati hal tersebut, penting bagi institusi membangun fondasi home base yang solid sejak awal. Beruntung, saat ini ketersediaan dosen pengajar dinilai cukup memadai dengan adanya 15 orang tim ahli yang siap didistribusikan untuk mengajar di berbagai jenjang, mulai dari S1, profesi, Spesialis 1 (SP1), hingga menjadi dosen kompleks di jenjang Spesialis 2 (SP2).

 Selain masalah internal SDM, diskusi juga menghangat saat membahas “paradoks regulasi”. Kebijakan pemerintah yang mendorong merampingkan jumlah program studi dinilai bertolak belakang dengan kebutuhan di lapangan. Menghadapi tantangan ini, salah satu strategi konkret yang ditawarkan adalah penyusunan platform biaya mandiri yang terproyeksi dengan matang. Melalui kalkulasi yang tepat seperti menghitung batas minimal jumlah mahasiswa dan standar biaya mengajar per jam prodi baru diharapkan dapat segera mencapai titik mandiri tanpa terus-menerus bergantung pada subsidi universitas.

Merumuskan Visi Ilmiah dan Penyederhanaan CPL

Hal penting lain yang ditekankan dalam workshop ini adalah pentingnya merumuskan Scientific Vision (visi ilmiah) yang spesifik dan memiliki keunggulan lokal, bukan sekadar menyalin visi organisasi secara umum. Visi yang kuat ini nantinya akan menjadi pembeda dan daya tarik utama program studi di mata eksternal maupun para asesor.

Terkait dengan terbitnya berbagai regulasi baru, pemateri menyarankan agar tim penyusun kurikulum bergerak cepat namun taktis. Salah satu langkah efisien yang direkomendasikan adalah melakukan kondensasi atau penyederhanaan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL). Alih-alih menjabarkan belasan poin sikap dan keterampilan umum secara bertele-tele, tim task force disarankan memadatkannya menjadi maksimal 10 JKl (Jangkauan Kelulusan) yang lebih fokus dan terukur agar proses evaluasi pembelajaran menjadi jauh lebih efektif.

Workshop ini diharapkan menjadi katalisator bagi FKG UGM dalam mempercepat proses administrasi dan penjaminan mutu, sehingga pembukaan program Spesialis 2 (SP2) Prostodonsia dapat segera terealisasi demi menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang semakin kompleks di Indonesia.

(Reporter: Nanda Ayu, Redaksi: Andri Wicaksono, Fotografer: Fajar Budi Harsakti)

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
20 Juli 2026

Hubungan Kesehatan dan Integritas

20 Juli 2026

Ketika Tikus Transgenik Membuka Jendela Baru Memahami Kanker Mulut

20 Juli 2026

Cacar Ular Salah Obat, Wajah Pun Lumpuh: Pelajaran dari Satu Kasus yang Hampir Terlewat

id_ID