News

/

Artikel, Latest News

Wanita Samurai dan Bahasa Perlawanan: Ketika Patriotisme Melampaui Batas Gender

Dalam drama televisi Jepang berjudul Byakkotai yang dirilis tahun 2007, ada adegan yang terasa menohok: seorang ibu bernama Shige berulang kali mendinginkan sikapnya kepada sang putra, Mineji, bukan karena benci, melainkan karena cinta yang ia sembunyikan rapat-rapat di balik kewajiban kepada klan. Ia mendidik Mineji untuk siap mati dengan terhormat demi Klan Aizu. Bagi Dr. drg. Sri Widiati, MPH, justru momen-momen seperti itulah yang menyimpan kekayaan wacana gender yang layak dikaji secara serius.

Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (JPBJ) edisi Februari 2021 ini mengangkat lima tokoh perempuan dalam drama Byakkotai sebagai objek analisis wacana kritis feminisme. Kajian ini menelaah bagaimana bahasa yang digunakan para tokoh perempuan mencerminkan otoritas, identitas, dan peran sosial mereka di tengah budaya patriarki zaman Edo Jepang.

Lima Perempuan, Satu Semangat yang Sama

Kelima tokoh yang dikaji masing-masing membawa karakter yang berbeda tajam, namun mengarah pada satu tujuan: mempertahankan kehormatan Klan Aizu.

Shige, sang ibu yang tampak dingin, menyembunyikan kelembutannya di balik kata-kata keras. Sementara Shinko, ibu dari Gisaburou, memilih mendidik putranya dengan kelembutan penuh kasih, bahkan menyanyikan lagu pengantar tidur anak-anak (komamori uta) agar sang putra membawa kenangan bahagia ke medan perang. Ketika Gisaburou akhirnya gugur bersama pasukan Byakkotai setelah melakukan harakiri, Shinko justru tampil tegar dan membesarkan hati Mineji yang selamat dengan berkata:

“Daripada Gisaburou dan lainnya yang telah tiada, mulai sekarang perjuangan bagi kalian yang masih hiduplah yang lebih berat. Hiduplah dan bekerjalah dengan gigih demi mereka.”

Sayako, tokoh perempuan muda yang terampil menggunakan pedang, hadir dengan karakter paling tegas secara verbal. Ia melatih tiga samurai muda tanpa ragu, dan bahkan berkata: “Jika hanya selevel kemampuan kalian, maka saya sudah cukup untuk mengajar kalian.” Kalimat itu bukan kesombongan, melainkan pernyataan bahwa perempuan pun mampu menjadi garda perlindungan klan.

Bahasa Sebagai Cermin Kekuasaan Perempuan

Penelitian ini menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis Feminisme (Feminist Critical Discourse Analysis/FCDA) yang dikembangkan oleh Michelle M. Lazar. Pendekatan ini tidak sekadar menganalisis kata-kata secara harfiah, melainkan menghubungkan bahasa dengan konteks sosial, budaya, dan relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan.

Hasilnya mengungkap sesuatu yang menarik: meskipun hidup dalam masyarakat yang sangat patriarkal, kelima perempuan dalam Byakkotai tidak serta-merta menjadi kelompok yang “terbungkam” (muted group) sebagaimana konsep yang diajukan Kramarae. Mereka justru menemukan cara masing-masing untuk mengekspresikan otoritas dan kontribusi.

Chieko, istri penasihat klan, memilih menjadi kekuatan diam di balik suaminya yang tidak setuju dengan keputusan berperang. Ia meyakini bahwa pemikiran suaminya adalah pemikiran modern yang belum dapat diterima zamannya. Teru Hime, adik pemimpin klan, mengubah istana menjadi tempat perlindungan rakyat dan bahkan merobek kimono berharganya untuk membalut luka para korban perang.

Dari kelima tokoh ini, penelitian menyimpulkan bahwa ideologi samurai bukan hanya meresap dalam jiwa kaum laki-laki. Perempuan menanggungnya dengan cara yang berbeda, namun tidak kalah beratnya.

Transformasi Gender di Balik Drama Sejarah

Temuan penelitian ini memberi pesan yang melampaui batas drama televisi. Transformasi gender, menurut kajian ini, sudah terjadi jauh sebelum gerakan feminisme modern dikenal luas. Dalam budaya Jepang era Byakkotai, perempuan memang tidak berdiri di garis terdepan medan perang dalam pengertian harfiah, tetapi bahasa mereka menunjukkan bahwa mereka hadir secara penuh: sebagai pendidik, penyemangat, pelindung, dan pejuang dalam pengertian yang lebih luas.

Penggunaan bahasa oleh para tokoh perempuan dalam drama ini memperlihatkan konteks sosial dan budaya yang hidup, sekaligus membuktikan bahwa otoritas perempuan bisa diartikulasikan bahkan dalam sistem yang secara struktural membatasinya.

Shige mungkin tidak pernah memegang pedang. Tapi kalimatnya kepada Mineji yang selamat dari perang, “Kau sudah berusaha keras. Kau sudah berusaha, dan kau hidup, kau kembali pada Ibu,” adalah bukti bahwa cinta dan perjuangan bisa hidup berdampingan dalam satu helaan napas, bahkan di zaman yang paling keras sekalipun.

Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam

Photo: Pexels

Sumber DOI: https://doi.org/10.1177/0957926502013006751

Tags

Share News

Related News
21 July 2026

FKG UGM Usung Konsep Green Dentistry pada Summer Course 2026

21 July 2026

Ketika Karier Mandek, Siapa yang Bertanggung Jawab?

21 July 2026

Nanokitosan Lawan Bakteri Tersembunyi di Balik Kawat Gigi

en_US