Bayangkan dua foto seseorang, diambil dari samping. Satu sebelum perawatan kawat gigi, satu sesudahnya. Apakah mata remaja bisa membedakan mana yang lebih menarik? Jawabannya: ya, dan perbedaannya bermakna secara statistik.
Itulah inti temuan penelitian terbaru dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada yang diterbitkan pada 2025. Penelitian yang dibimbing oleh Dr. drg. Cendrawasih Andusyana Farmasyanti, M.Kes., Sp.Ort(K) ini menelusuri bagaimana remaja mempersepsikan estetika profil wajah pasien maloklusi skeletal kelas I setelah menjalani perawatan ortodonti, khususnya pada populasi keturunan Jawa.
Gigi Maju, Wajah Bercerita
Maloklusi skeletal kelas I adalah kondisi di mana hubungan tulang rahang atas dan bawah tergolong normal, namun posisi gigi insisivus atas mengalami protrusi, menonjol ke depan melebihi batas ideal. Kondisi ini memengaruhi profil wajah tampak samping, dan pada kelompok remaja, tampilan wajah bukan sekadar soal estetika, melainkan menyentuh identitas dan kepercayaan diri.
Peneliti utama, Dihya Dzaky Gibran, bersama Dr. drg. Cendrawasih Andusyana Farmasyanti, M.Kes., Sp.Ort(K) dan drg. Rr. Paramita Noviasari, merancang studi kuantitatif dengan pendekatan survei kuesioner. Sebanyak 386 mahasiswa non-medika angkatan 2024 UGM dipilih melalui rumus Slovin sebagai responden. Mereka diminta menilai dua belas fotogram profil wajah, enam sebelum dan enam sesudah perawatan ortodonti, terdiri atas tiga fotogram perempuan dan tiga fotogram laki-laki.
Setiap pasang foto mewakili tiga derajat protrusi gigi insisivus atas: rendah, sedang, dan tinggi. Pada perempuan, ukuran protrusinya adalah 5,5 mm, 8 mm, dan 9,74 mm. Pada laki-laki, angkanya lebih besar: 12,5 mm, 13 mm, dan 16,82 mm. Penilaian dilakukan menggunakan skala Likert lima poin, dari “sangat tidak menarik” hingga “sangat menarik.”
Angka yang Bicara Lebih Keras dari Cermin
Hasilnya tidak ambigu. Foto pasca perawatan ortodonti mendapatkan skor rata-rata 4 pada skala Likert, lebih tinggi secara signifikan dibanding foto sebelum perawatan, dengan nilai p < 0,05 melalui uji Wilcoxon Signed-Rank Test. Artinya, di mata para remaja yang menjadi responden, wajah setelah perawatan ortodonti memang lebih menarik, bukan sekadar kesan subjektif.
Yang menarik adalah temuan dari uji Mann-Whitney. Foto pasca perawatan dengan derajat protrusi tinggi dinilai berbeda bermakna dibanding foto dengan protrusi sedang maupun rendah. Namun, tidak ada perbedaan signifikan antara kelompok protrusi rendah dan sedang (p > 0,05). Dengan kata lain, perubahan yang paling dirasakan secara visual terjadi justru pada kasus-kasus dengan protrusi yang paling ekstrem.
“Perawatan ortodonti berpengaruh signifikan terhadap peningkatan persepsi estetika profil wajah remaja.” — Kesimpulan penelitian Dihya Dzaky Gibran, Dr. drg. Cendrawasih Andusyana Farmasyanti, M.Kes., Sp.Ort(K), dan drg. Rr. Paramita Noviasari, FKG UGM, 2025
Mengapa Remaja, Mengapa Jawa?
Pilihan responden remaja bukan tanpa alasan. Masa remaja adalah periode pembentukan citra diri yang intens. Perubahan fisik, tekanan sosial, dan kesadaran akan penampilan mencapai puncaknya di usia ini. Dalam konteks ini, persepsi terhadap profil wajah bukan hal sepele, melainkan berhubungan langsung dengan kesejahteraan psikologis.
Pemilihan populasi keturunan Jawa juga mencerminkan kesadaran bahwa standar estetika wajah tidak bersifat universal. Karakteristik kraniofasial, termasuk pola protrusi gigi, bervariasi antar kelompok etnis. Penelitian yang menggunakan referensi populasi Barat sebagai patokan berisiko menghasilkan standar yang tidak relevan secara klinis bagi pasien Indonesia.
Dengan berfokus pada populasi Jawa, studi ini menawarkan data yang lebih kontekstual, sesuatu yang selama ini masih jarang tersedia dalam literatur ortodonti Indonesia.
Lebih dari Sekadar Penampilan
Temuan ini memiliki implikasi yang melampaui ruang klinik ortodonti. Bagi para klinisi, data ini memperkuat argumen bahwa perawatan ortodonti, khususnya pada kasus protrusi tinggi, menghasilkan perubahan estetika yang nyata dan dapat dirasakan oleh orang di sekitar pasien, bukan hanya oleh pasien itu sendiri.
Bagi masyarakat umum, penelitian ini mengingatkan bahwa di balik kawat gigi dan alat ortodonti yang tampak sederhana, ada proses ilmiah yang terukur. Setiap milimeter pergerakan gigi insisivus membawa perubahan pada profil wajah yang terbaca oleh mata remaja sekalipun.
Dan bagi remaja yang sedang mempertimbangkan perawatan ortodonti, ada satu hal yang kini bisa disandarkan pada data: perubahan itu memang terlihat.
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels