Lebih dari separuh penduduk Indonesia, sekitar 57,6 persen, mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut. Namun hanya 10,2 persen yang mendapatkan perawatan. Angka itu sudah cukup mengkhawatirkan, tapi ada fakta lain yang lebih mengusik: 72,8 persen anak muda Indonesia mengaku sikat gigi dua kali sehari, namun hanya 7,4 persen yang benar-benar melakukannya pada waktu yang tepat — pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur. Tahu caranya, tapi tidak melakukannya. Itulah kesenjangan yang coba dijembatani oleh penelitian terbaru dari dosen FKG UGM, Rieski Prihastuti, S.Kp.G., MPH., Ph.D., bersama tim dari Universitas Tokushima, Jepang. Hasilnya dipublikasikan di jurnal internasional BDJ Open pada tahun 2025 dan menunjukkan bahwa sebuah video tiga menit per hari, selama 21 hari, mampu mengubah perilaku kebersihan gigi dan mulut mahasiswa secara signifikan.
Kesenjangan yang Sudah Lama Dibiarkan
Selama ini, edukasi kesehatan gigi cenderung berhenti di level pengetahuan. Orang diberitahu bahwa sikat gigi itu penting, diajarkan tekniknya, lalu dibiarkan begitu saja. Hasilnya bisa ditebak: informasi masuk, kebiasaan tidak berubah.
Rieski dan tim menguji pendekatan yang berbeda. Mereka merancang intervensi berbasis Theory of Planned Behavior (TPB) — sebuah kerangka psikologi yang menjelaskan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh sikap, norma sosial, dan keyakinan bahwa ia mampu melakukan perubahan tersebut. Teori ini menegaskan bahwa untuk mengubah perilaku, tidak cukup hanya memberi tahu orang apa yang harus dilakukan. Mereka perlu percaya bahwa tindakan itu penting, bahwa orang-orang di sekitar mereka juga melakukannya, dan bahwa mereka sendiri mampu melakukannya.
Uji klinis acak ini melibatkan 71 mahasiswa dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, yang berlangsung dari November 2022 hingga Maret 2023. Mereka dibagi menjadi dua kelompok: kelompok kontrol yang hanya mendapat edukasi kesehatan gigi konvensional, dan kelompok intervensi yang mengikuti program video berbasis web selama 21 hari.
Program 21 Hari: Dari Pengetahuan ke Aksi
Videonya tidak panjang. Hanya tiga menit. Durasinya sengaja dirancang selaras dengan waktu ideal menyikat gigi ditambah pembersihan sela gigi dan lidah, sehingga peserta bisa menontonnya sambil menjalankan rutinitas malam atau pagi mereka.
Selama tiga minggu, konten video disusun secara bertahap. Minggu pertama memperkenalkan dasar-dasar rongga mulut dan masalah yang bisa timbul. Minggu kedua membahas kaitan antara pola makan, merokok, dan kesehatan umum. Minggu ketiga berfokus pada praktik: cara menyikat gigi yang benar, penggunaan sikat sela gigi (interdental brushes), dan pembersihan lidah. Setiap video diikuti kuis singkat. Pada hari ke-7, 14, dan 21, peserta mendapat video rangkuman untuk memperkuat ingatan.
Kelompok kontrol tidak mendapat program ini. Mereka hanya menerima instruksi singkat di awal studi — seperti yang biasa terjadi di kunjungan dokter gigi pada umumnya.
Hasilnya: Angka yang Berbicara
Tiga bulan setelah intervensi selesai, perbedaannya terlihat jelas.
Score Oral Hygiene Behavior Index (OHBI) — indeks yang mengukur perilaku kebersihan gigi dan mulut secara menyeluruh — naik dari rata-rata 9,76 menjadi 10,79 pada kelompok intervensi. Sementara pada kelompok kontrol, skor justru turun dari 10,45 menjadi 9,76. Perbedaan antara dua kelompok ini terbukti signifikan secara statistik.
“Tanpa intervensi berulang, perilaku kebersihan gigi dan mulut dapat memburuk seiring waktu,” tulis tim peneliti dalam artikel yang diterbitkan di BDJ Open.
Tidak hanya perilaku yang membaik. Hasil pemeriksaan objektif pun mendukung. Tingkat aktivitas karies — yang diukur melalui uji resazurin untuk mendeteksi aktivitas bakteri kariogenik dalam air liur — menunjukkan perbaikan pada kelompok intervensi. Kadar hemoglobin dalam air liur, yang berkaitan dengan peradangan gusi dan kondisi periodontal, juga turun secara signifikan, mengindikasikan gusi yang lebih sehat. Jumlah total bakteri di lidah memang tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik, meski tren penurunannya tetap terlihat.
Pengetahuan kesehatan gigi dan mulut (oral health knowledge) pun meningkat pada kelompok intervensi — dari rata-rata 8,27 menjadi 8,94 — dengan perbedaan yang bermakna dibanding kelompok kontrol.
Implikasi untuk Edukasi Kesehatan Gigi
Penelitian ini bukan sekadar membuktikan bahwa video pendek itu efektif. Lebih dari itu, ia menunjukkan bahwa pendekatan berbasis teori psikologi perilaku bisa menjadi fondasi yang lebih kuat untuk program edukasi kesehatan gigi, terutama untuk kelompok usia muda yang sering luput dari perhatian.
Metode pengukuran yang digunakan pun patut dicatat. Tim memilih alat-alat yang cepat, non-invasif, dan praktis untuk digunakan di luar klinik — uji aktivitas karies, kadar hemoglobin air liur, dan hitung bakteri total. Ini membuka peluang bagi program kesehatan gigi berbasis komunitas yang tidak memerlukan peralatan klinis yang berat dan mahal.
Tentu ada keterbatasan. Studi ini hanya berlangsung tiga bulan, pesertanya mayoritas perempuan, dan berasal dari satu institusi. Apakah efeknya bertahan lebih lama? Apakah hasilnya bisa digeneralisasi ke populasi yang lebih beragam? Pertanyaan-pertanyaan itu masih menunggu jawaban dari penelitian lanjutan.
Yang jelas, sebuah video tiga menit ternyata bisa menjadi lebih dari sekadar tontonan. Ia bisa menjadi jembatan antara tahu dan melakukan, antara niat dan kebiasaan, antara pengetahuan yang tersimpan di kepala dan gerakan sikat gigi yang terjadi setiap malam sebelum tidur.
Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam
Photo: Freepik
Sumber DOI: https://doi.org/10.1038/s41405-025-00368-y