News

/

Artikel, Latest News

Timbangan Badan dan Gigi Lansia: Apa Hubungannya?

Rata-rata lansia di Daerah Istimewa Yogyakarta masih menyimpan sekitar 22 gigi di dalam mulutnya. Angka itu terdengar cukup baik, sampai peneliti mulai menghubungkannya dengan berat badan, dan hasilnya tidak sesederhana yang dibayangkan.

Sebuah studi yang diterbitkan di Majalah Kedokteran Gigi Klinik (MKGK) UGM edisi April 2022 menemukan bahwa indeks massa tubuh (IMT) pada lansia ternyata berkaitan erat dengan kondisi gigi dan mulut mereka, mulai dari jumlah gigi yang tersisa, kebersihan mulut, hingga kesehatan jaringan periodontal. Penelitian ini melibatkan 186 lansia berusia 60 hingga 84 tahun dari delapan Posyandu Lansia di DIY, empat di kawasan pedesaan dan empat di perkotaan.

Bukan Sekadar Soal Berat Badan

Tim peneliti yang terdiri dari Fitrina Rachmadanty Siregar, Lisdrianto Hanindriyo, Elastria Widita, Dr. drg. Rini Widyaningrum, M.Biotech, Bambang Priyono, dan Dewi Agustina memeriksa enam aspek kesehatan mulut setiap partisipan: jumlah gigi, indeks kebersihan mulut (OHI), indeks karies (DMFT), perdarahan saat probing (BOP), kedalaman poket periodontal (PPD), dan kehilangan perlekatan klinis (CAL).

Hasilnya menunjukkan pola yang menarik. Lansia dengan IMT lebih tinggi cenderung memiliki lebih banyak gigi yang tersisa (r = 0,233). Ini masuk akal secara biologis: gigi yang cukup memungkinkan seseorang mengunyah makanan bergizi dengan lebih baik, sehingga asupan nutrisi terjaga dan berat badan tidak mudah turun. Sebaliknya, lansia yang banyak kehilangan gigi kerap menghindari makanan bertekstur keras seperti daging dan kacang-kacangan, yang justru kaya protein dan nutrisi penting.

Namun ada temuan yang sedikit mengejutkan. Kebersihan mulut justru menunjukkan hubungan negatif dengan IMT (r = -0,384). Artinya, lansia dengan IMT lebih tinggi cenderung memiliki kebersihan mulut yang lebih baik, bukan lebih buruk. Para peneliti menduga ini terkait dengan akses: penduduk perkotaan yang rata-rata ber-IMT lebih tinggi (25,0) lebih mudah menjangkau fasilitas dan informasi kesehatan gigi dibandingkan penduduk pedesaan (IMT rata-rata 22,7).

Lemak Tubuh, Radang, dan Poket Periodontal

Hubungan IMT dengan jaringan periodontal membuka perspektif lain yang lebih dalam. Pada kondisi kelebihan berat badan, sel-sel lemak (adiposit) melepaskan sitokin proinflamasi seperti TNF-α dan IL-6. Keduanya tidak hanya memicu peradangan sistemik, tetapi juga merangsang produksi osteoklas yang secara langsung merusak tulang alveolar dan jaringan ikat penyangga gigi.

Studi ini menemukan hubungan positif antara IMT dan persentase sisi gigi dengan kedalaman poket lebih dari 4 mm (r = 0,177). Kedalaman poket yang melebihi batas ini adalah penanda periodontitis, kondisi infeksi kronis pada jaringan penyangga gigi yang bila dibiarkan dapat berujung pada tanggalnya gigi. Semakin bertambah usia, akumulasi paparan bakteri periodontal pun semakin panjang, membuat risiko ini tidak bisa diabaikan.

“Lansia dengan kesehatan mulut yang buruk dapat memengaruhi status gizi dan kesehatannya. Gangguan di rongga mulut berkontribusi pada kenyamanan saat makan.” — Siregar dkk., MKGK UGM, 2022

Karies Tidak Bicara Soal Berat Badan

Satu hal yang tidak terbukti dalam studi ini: hubungan antara IMT dan karies gigi (nilai p = 0,063, tidak signifikan). Temuan ini sebenarnya sejalan dengan berbagai penelitian sebelumnya yang juga gagal menemukan korelasi konsisten antara kedua variabel tersebut.

Penjelasannya terletak pada kompleksitas karies itu sendiri. Kerentanan genetik, kebiasaan diet individual, frekuensi menyikat gigi, dan kondisi saliva setiap orang begitu bervariasi sehingga IMT saja tidak cukup untuk menjelaskan risiko karies. Bahkan sebuah studi longitudinal di Swedia selama satu dekade menunjukkan bahwa prevalensi karies pada lansia tidak meningkat secara signifikan, mengisyaratkan bahwa lansia pun bisa mempertahankan kesehatan giginya bila menjaga kebersihan mulut dengan baik.

Gigi Tiruan Bukan Pilihan Terakhir

Studi ini membawa pesan praktis yang penting, terutama bagi tenaga kesehatan yang bekerja di Posyandu Lansia: kehilangan gigi bukan sekadar masalah estetika. Ia berkaitan langsung dengan kemampuan mengunyah, pilihan makanan, asupan gizi, dan pada akhirnya, berat badan serta kualitas hidup.

Mengganti gigi yang hilang dengan gigi tiruan bukan kemewahan, melainkan intervensi fungsional yang berdampak pada status gizi lansia. Di sisi lain, temuan bahwa akses informasi kesehatan gigi berbeda antara kota dan desa mengingatkan kita bahwa kesehatan mulut lansia adalah juga persoalan pemerataan layanan.

Pada usia di mana tubuh sudah tidak sepenuhnya bisa melawan sendiri, menjaga gigi tetap ada di tempatnya mungkin adalah salah satu investasi terbaik yang bisa dilakukan, jauh sebelum timbangan berbicara lebih keras.

Sumber DOI : doi: 10.1111/idh.12490

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Share News

Related News
18 August 2026

FKG UGM Hadiri Upacara HUT RI ke-81, UGM Teguhkan Komitmen Kampus Merakyat yang Berdampak

18 August 2026

Penyambutan Mahasiswa Baru PPDGS RKG FKG UGM, Perkuat Kurikulum Terintegrasi & Peluang Beasiswa LPDP

18 August 2026

SKDGI 2026 Pertajam Kompetensi Dokter Gigi

en_US