News

/

Latest News

Teknologi 3D Perkuat Tindakan Bedah Presisi

Dari data CBCT ke meja operasi, teknologi pemodelan dan pencetakan 3D membuka jalan baru bagi perencanaan tindakan bedah yang lebih presisi. FKG UGM dan ITS mengembangkan kolaborasi yang mempertemukan radiologi, rekayasa teknologi, dan kebutuhan klinis.

Sebelum tindakan bedah dilakukan pada pasien, dokter gigi kini dapat terlebih dahulu melihat anatomi rahang dalam bentuk tiga dimensi. Letak saraf, struktur tulang, hingga batas jaringan tumor dapat dipetakan secara lebih nyata. Bukan lagi sekadar gambar dua dimensi hasil pemindaian radiologi, melainkan rekonstruksi digital yang dapat menjadi dasar perencanaan tindakan.

Teknologi itu diperkenalkan secara langsung kepada para residen Program Studi Spesialis Radiologi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada melalui Kuliah Pakar dan Praktikum 3D Modeling & 3D Printing. Kegiatan tersebut menghadirkan Djoko Kuswanto, S.T., M.Biotech., pakar biomedical engineering sekaligus dosen Program Studi Teknologi Kedokteran, Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Tidak sekadar membawa pengetahuan dari ruang kuliah, tim ITS juga membawa seperangkat peralatan fabrikasi digital dan printer 3D dari Surabaya ke Laboratorium Pre-Klinik FKG UGM. Para peserta kemudian diajak mengolah data radiologi hingga menghasilkan model tiga dimensi yang dapat digunakan untuk memahami anatomi pasien secara lebih presisi.

Bagi pendidikan radiologi kedokteran gigi, perubahan ini bukan semata soal penggunaan perangkat teknologi baru. Lebih jauh, pemodelan tiga dimensi menggeser posisi radiologi dari sekadar aktivitas menghasilkan dan menginterpretasikan citra medis menjadi informasi diagnostik dan bagian penting dari proses pengambilan keputusan klinis.

“Kami tidak ingin residen Radiologi Kedokteran Gigi UGM hanya sekadar menjadi pengamat atau pencetak gambar rontgen semata. Radiologi adalah fondasi dari seluruh tindakan klinis, baik untuk dokter spesialis Bedah Mulut, Prostodonsia, Ortodonsia, Periodonsia, maupun bidang kedokteran gigi lain”. papar Dr. drg. Rini Widyaningrum, M.Biotech., Sp.RKG selaku dosen penanggung jawab mata kuliah Radiologi Kedokteran Gigi Digital dan Deteksi Otomatis di Prodi Spesialis Radiologi Kedokteran Gigi FKG UGM.

Pengembangan teknologi tersebut menjadi upaya membangun jembatan antara data tiga dimensi hasil pemindaian radiologi dan kebutuhan klinis di meja operasi. Kolaborasi dengan ITS dinilai menjadi bagian dari kebaruan pendidikan RKG di UGM.

Dari citra dua dimensi menuju anatomi tiga dimensi

Dalam praktikum, para residen mempelajari bagaimana data Cone Beam Computed Tomography (CBCT) dan format Digital Imaging and Communications in Medicine (DICOM) diolah menggunakan perangkat lunak dan diproses menjadi model tiga dimensi rahang dan tengkorak.

Perubahan tersebut memiliki konsekuensi penting bagi perencanaan operasi. Dokter dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai posisi struktur anatomi sebelum tindakan dilakukan. Struktur saraf yang sensitif maupun batas jaringan tumor dapat divisualisasikan terlebih dahulu.

Dengan demikian, ruang operasi tidak lagi menjadi satu-satunya tempat bagi dokter untuk menentukan langkah teknis. Sebagian keputusan dapat dipersiapkan melalui simulasi dan rekonstruksi digital sebelum pasien menjalani tindakan.

Djoko Kuswanto menilai, perkembangan tersebut tidak dapat dilepaskan dari kualitas data radiologi. Teknologi rekayasa membutuhkan data anatomi yang akurat agar dapat menghasilkan model yang dapat dipercaya.

“Insinyur membutuhkan jembatan untuk memahami anatomi tubuh, dan dokter membutuhkan kepastian presisi sebelum melakukan tindakan. Penentunya ada di tangan teman-teman radiologi,” ujar Djoko.

Ia menekankan bahwa presisi data radiologi menjadi dasar bagi berbagai tahap berikutnya, mulai dari perencanaan operasi, pembuatan implan, hingga pengembangan kecerdasan buatan atau AI di bidang kesehatan.

“Jika data yang dihasilkan dari Anda presisi dan terstandar, maka perencanaan operasi, pembuatan implan, hingga kecerdasan buatan (AI) yang kami kembangkan akan berhasil menyelamatkan pasien,” katanya.

Salah satu perubahan paling signifikan dari teknologi pemodelan tiga dimensi terletak pada kemampuan membuat perangkat yang dirancang secara khusus berdasarkan anatomi pasien.

Dalam tindakan seperti reseksi rahang atau pembersihan tumor, perencanaan sebelumnya dapat membantu dokter memahami batas tindakan yang diperlukan. Hasil pemodelan dari data CBCT kemudian dapat digunakan untuk membuat surgical guide atau surgical cutting guide menggunakan bahan biokompatibel.

Pemandu tersebut dapat dipasang pada rahang pasien ketika operasi berlangsung. Dokter bedah kemudian memiliki acuan yang lebih presisi untuk melakukan pemotongan tulang maupun pemasangan implan gigi.

Materi yang disampaikan dalam pelatihan menyebutkan bahwa pendekatan tersebut berpotensi mempersingkat waktu operasi, mengurangi perdarahan, sekaligus membantu melindungi jaringan saraf penting dari risiko kerusakan.

Di sinilah teknologi 3D menemukan makna klinisnya. Teknologi bukan sekadar membuat bentuk anatomi pasien menjadi lebih mudah dilihat. Ia mengubah cara dokter mempersiapkan keputusan sebelum tindakan dilakukan.

Prinsipnya sederhana: semakin baik dokter memahami medan operasi sebelum memasuki ruang operasi, semakin besar peluang tindakan dapat dilakukan secara terencana.

Membawa teknologi ke layanan pasien

Namun, perjalanan teknologi ini belum selesai. Pemanfaatan pemodelan dan pencetakan 3D masih terus dikembangkan dalam ranah akademik dan penelitian pre-klinik.

FKG UGM menyatakan komitmen untuk mengintegrasikan teknologi pemodelan dan pencetakan 3D tersebut ke dalam layanan operasional di Rumah Sakit Gigi dan Mulut UGM. Langkah itu menjadi tantangan berikutnya: bagaimana teknologi yang berhasil diuji di lingkungan pendidikan dan penelitian dapat diterjemahkan menjadi layanan klinis yang aman, terukur, dan berkelanjutan.

Persoalan itu penting karena transformasi digital di bidang kedokteran tidak berhenti pada ketersediaan perangkat. Dibutuhkan tenaga kesehatan yang memahami data, dokter yang mampu menerjemahkan model digital menjadi keputusan klinis, serta insinyur yang memahami kebutuhan medis.

Kolaborasi FKG UGM & ITS memperlihatkan bahwa batas antara ilmu kedokteran dan rekayasa teknologi semakin tipis. Radiologi, dalam konteks ini, bukan lagi berada di belakang layar pelayanan klinis. Data yang dihasilkannya dapat menjadi fondasi bagi perencanaan operasi, desain implan, hingga pengembangan teknologi berbasis AI.

FKG UGM bahkan menempatkan langkah tersebut sebagai bagian dari upaya menjadi salah satu pionir pendidikan spesialis radiologi kedokteran gigi di Indonesia yang mengawinkan ilmu kedokteran dengan teknologi fabrikasi digital.

Pada akhirnya, teknologi 3D bukan sekadar tentang mesin pencetak atau perangkat lunak pemodelan. Intinya adalah bagaimana teknologi membantu mempercepat dokter gigi kelak dalam mengambil keputusan dengan informasi yang lebih lengkap sebelum tindakan dilakukan.

Masa depan bedah presisi tidak lagi sepenuhnya berada di ruang operasi. Sebagian prosesnya telah dimulai jauh sebelumnya di layar komputer, dalam data tiga dimensi, dan pada kolaborasi antara dokter dan insinyur.

(Reporter: Andri Wicaksono, Photo: Fajar Budi Harsakti)

Tags

Share News

Related News
20 October 2026

Kedaulatan Alat Kardiovaskular Nasional: Kolaborasi Riset UGM dan INA-Stent Buka Jalan bagi Kemandirian Teknologi Kesehatan Indonesia

20 October 2026

FKG UGM Menerima Kunjungan Benchmarking FK Undip, Perkuat Tata Kelola Pendidikan Dokter Gigi

19 October 2026

8 Mahasiswa Prodi PSHG & 4 Mahasiswa S1 PDG FKG UGM Dinyatakan Lulus dalam Yudisium Periode Oktober 2026