News

/

Artikel, Latest News, SDG 12, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Tambalan Lama, Kawat Baru: Bahaya Tersembunyi di Balik Senyum Behel

Pasien itu mungkin tidak pernah curiga. Kawat behel di giginya tampak mengkilap, tambalan amalgam di gigi belakang sudah bertahun-tahun setia menutup lubang, dan mulut terasa baik-baik saja. Namun jauh di lapisan molekuler, dua logam yang bersentuhan dalam genangan air liur itu tengah menjalankan reaksi kimia yang diam-diam melepaskan ion nikel ke dalam tubuh.

Itulah inti temuan riset laboratoris yang dipublikasikan Dr. drg. Andi Triawan, Sp.Ort. dalam jurnal Mutiara Medika. Penelitian ini menelusuri seberapa besar pengaruh sel galvanik antara kawat busur ortodontik dengan tambalan amalgam terhadap pelepasan ion nikel, dan hasilnya cukup mengusik.

Ketika Dua Logam Bertemu dalam Satu Elektrolit

Rongga mulut bukan sekadar tempat mengunyah. Ia adalah lingkungan elektrokimia yang kompleks: suhu berfluktuasi, pH berubah, enzim bekerja, dan bakteri berkoloni. Ketika dua logam berbeda jenis bertemu di dalamnya, terjadilah apa yang disebut korosi galvanik, proses di mana logam yang lebih reaktif bertindak sebagai anoda dan terurai lebih cepat.

Nikel, kandungan utama kawat ortodontik, memiliki nilai potensial elektroda sebesar -0,23, sementara merkuri dalam amalgam bernilai +0,80. Perbedaan yang besar ini menjadikan nikel sebagai anoda yang rentan terkorosi ketika berpasangan dengan amalgam. Semakin besar selisih potensial elektroda antara dua logam, semakin deras arus galvanik yang mengalir, dan semakin cepat korosi terjadi.

Fakta ini relevan karena banyak pasien ortodontik yang datang ke klinik dengan tambalan amalgam yang sudah terpasang di gigi-gigi posterior mereka. Perawatan ortodontik sendiri berlangsung dua hingga tiga tahun, waktu yang cukup panjang bagi ion-ion logam untuk terus-menerus terlepas ke dalam saliva.

Angka yang Berbicara Sendiri

Dalam eksperimen ini, Dr. drg. Andi Triawan, Sp.Ort. membagi sampel menjadi empat kelompok: kawat Australia saja, kawat Australia berpasangan dengan amalgam, kawat NiTi saja, serta kawat NiTi berpasangan dengan amalgam. Semua kelompok direndam dalam saliva tiruan pH normal pada suhu 37°C selama tujuh hari, meniru kondisi rongga mulut manusia. Pengukuran ion nikel dilakukan pada hari ketiga, kelima, dan ketujuh menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) di Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu UGM.

Hasilnya tegas. Kawat Australia yang berpasangan dengan amalgam melepaskan ion nikel rata-rata 0,042 ppm pada hari ketiga dan meningkat hingga 0,047 ppm pada hari ketujuh. Bandingkan dengan kawat Australia tanpa amalgam yang hanya melepaskan 0,013 ppm pada hari ketiga. Pola serupa ditemukan pada kawat NiTi: pasangan dengan amalgam melepaskan ion nikel tiga kali lebih banyak dibanding kawat NiTi yang berdiri sendiri.

“Pemakaian amalgam secara berpasangan dengan kawat Australia dan kawat NiTi meningkatkan jumlah pelepasan ion nikel kawat Australia dan kawat NiTi.”

Analisis statistik dengan ANAVA dua jalur dan uji-t mengonfirmasi perbedaan ini sangat bermakna (p<0,01). Bukan kebetulan. Bukan noise data.

Kawat Australia vs. NiTi: Tidak Setara dalam Kerentanan

Satu temuan lain yang tak kalah penting: kawat Australia secara konsisten melepaskan ion nikel lebih banyak daripada kawat NiTi, baik saat berdiri sendiri maupun saat berpasangan dengan amalgam.

Penjelasannya terletak pada komposisi material. Kawat Australia adalah kawat stainless steel yang mengandalkan lapisan pasif kromium sebagai pelindung dari korosi. Lapisan ini kurang tangguh dibandingkan lapisan titanium oksida yang terbentuk secara alami pada kawat NiTi. Titanium, sebagai logam dengan daya tahan korosi dan biokompatibilitas tinggi, membentengi nikel di dalamnya lebih efektif. Hasilnya, kawat NiTi lebih tahan, meski tetap tidak kebal terhadap efek galvanik amalgam.

Implikasi klinisnya cukup serius. Selain risiko toksisitas dan reaksi alergi pada pasien yang sensitif terhadap nikel, pelepasan ion ini juga mempercepat degradasi sifat fisik kawat busur itu sendiri. Kawat yang terkorosi lebih cepat berarti kekuatan mekanik untuk menggerakkan gigi pun menurun lebih awal dari yang seharusnya.

Pertimbangan yang Kerap Terlewat di Kursi Dokter Gigi

Selama ini, dokter gigi ortodontis dan dokter gigi restoratif kerap bekerja dalam silo yang terpisah. Pasien datang dengan kawat behel di satu sisi dan tambalan amalgam di sisi lain, tanpa ada percakapan lintas disiplin tentang potensi interaksi kedua material itu.

Riset Dr. drg. Andi Triawan, Sp.Ort. ini memberi dasar ilmiah untuk mendorong percakapan itu. Penggunaan amalgam bersamaan dengan alat cekat ortodontik, sebut penelitian ini, perlu dipertimbangkan kembali, terutama pada pasien yang memiliki riwayat sensitivitas terhadap nikel.

Pertanyaan yang tersisa, dan yang peneliti sendiri dorong untuk ditelusuri lebih jauh, adalah: sampai kapan ion nikel terus terakumulasi? Pada titik mana kadarnya benar-benar mengancam? Berapa lama sebelum kawat kehilangan kekuatan mekaniknya secara klinis bermakna?

Mulut yang tampak sehat dari luar mungkin menyimpan percakapan kimia yang belum selesai di dalamnya.

Penulis :Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Share News

Related News
23 July 2026

Apa itu Penulisan Systematic Review?

23 July 2026

Jarak Sedot Aerosol dan Risiko Bakteri di Balik Face Shield Dokter Gigi

23 July 2026

Aerogel TiO₂: Terobosan Material Sel Surya dari Laboratorium UI

en_US