Dari hampir empat ribu rekam medis pasien di Rumah Sakit Universitas Leuven, Belgia, satu angka kecil ternyata bisa menjadi penentu: apakah luka bekas cabut gigi seseorang akan sembuh normal, berlarut-larut, atau justru berkembang menjadi kondisi yang jauh lebih serius. Itulah inti dari penelitian yang melibatkan drg. Isti Rahayu Suryani, M.Biotech., Sp.RKG, Subsp.RDP(K), PhD, dosen Departemen Radiologi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, bersama tim peneliti internasional dari KU Leuven dan Karolinska Institutet.
Studi ini diterbitkan dalam jurnal Health Science Reports pada 2024 dan menawarkan sebuah alat skrining berbasis skor yang berpotensi mengubah cara dokter gigi mengelola pasien dengan kondisi medis kompleks.
Ketika Cabut Gigi Bukan Sekadar Prosedur Rutin
Bagi kebanyakan orang, pencabutan gigi adalah prosedur yang selesai dalam hitungan menit dan sembuh dalam beberapa hari. Namun bagi pasien dengan kondisi medis tertentu, seperti penderita kanker prostat, mieloma multipel, osteoporosis, atau diabetes yang juga mengonsumsi berbagai obat sekaligus, proses penyembuhan bisa jauh lebih rumit.
Salah satu komplikasi paling ditakuti adalah medication-related osteonecrosis of the jaw (MRONJ), kondisi di mana tulang rahang gagal pulih dan jaringan tulang mati terbuka, bahkan hingga lebih dari delapan minggu pasca prosedur. Kondisi ini kerap dikaitkan dengan penggunaan obat-obat antiresorptif seperti bisfosfat dan denosumab yang lazim digunakan dalam terapi osteoporosis dan kanker.
Masalahnya, selama ini belum ada instrumen klinis yang cukup andal untuk memprediksi siapa saja pasien yang berisiko tinggi mengalami komplikasi tersebut sebelum tindakan dilakukan.
Skor yang Berbicara Lebih dari Sekadar Angka
Tim peneliti mengadaptasi sebuah skala yang sudah ada sebelumnya, yaitu University of Connecticut Osteonecrosis Numerical Scale (UCONNS), menjadi versi yang lebih komprehensif: Adapted-UCONNS atau A-UCONNS. Skala ini mempertimbangkan empat parameter utama: kondisi patologis awal pasien, prosedur gigi yang dilakukan, komorbiditas termasuk kebiasaan merokok dan jenis obat yang dikonsumsi, serta penggunaan obat antiresorptif.
Setiap parameter diberi bobot berbeda, lalu dijumlahkan menjadi satu skor total. Skor di bawah 10 masuk kategori risiko minimal, 10 hingga 15 risiko moderat, dan 16 ke atas risiko signifikan.
Dari 3.977 rekam medis yang ditelaah, 353 pasien laki-laki dengan usia rata-rata 67,4 tahun memenuhi kriteria inklusi. Hasilnya cukup mengejutkan: 18,69% pasien mengembangkan MRONJ, sementara 12,46% mengalami penyembuhan yang tertunda. Hanya sekitar 65% yang sembuh secara normal.
“Setiap kenaikan satu unit skor A-UCONNS dikaitkan dengan peluang 1,347 kali lebih besar untuk mengalami MRONJ dibandingkan penyembuhan normal.”
Analisis regresi logistik multinomial menunjukkan bahwa penggunaan obat antiresorptif memiliki hubungan paling kuat dengan kejadian MRONJ, dengan odds ratio sebesar 4,6. Artinya, pasien yang mengonsumsi obat-obatan golongan ini memiliki peluang hampir lima kali lebih besar untuk mengalami MRONJ dibandingkan pasien yang tidak menggunakannya. Terapi gigi yang dilakukan, seperti jenis prosedur dan kondisi periodontal, juga berkontribusi signifikan.
Analisis kelangsungan hidup menggunakan kurva Kaplan-Meier semakin memperkuat temuan ini: pasien dengan skor risiko tinggi secara konsisten membutuhkan waktu pemulihan lebih lama dibandingkan mereka yang masuk kategori risiko rendah.
Siapa yang Paling Rentan, dan Mengapa
Di antara seluruh pasien yang diteliti, penderita kanker prostat mendominasi kelompok sampel dengan 58 kasus. Dari jumlah itu, 35 di antaranya mengembangkan MRONJ. Pasien yang menjalani kemoterapi dalam 12 bulan terakhir juga menunjukkan angka yang mengkhawatirkan: 56% dari mereka berakhir dengan MRONJ.
Ini bukan kebetulan. Secara biologis, agen kemoterapi menghambat migrasi sel ke luka, menekan produksi kolagen, dan melemahkan proliferasi fibroblas, serangkaian proses yang justru krusial dalam fase penyembuhan. Efek samping kemoterapi seperti neutropenia, anemia, dan trombositopenia semakin memperburuk kondisi dengan menurunkan pasokan oksigen ke jaringan dan meningkatkan risiko infeksi.
Kortikosteroid pun tidak luput dari sorotan. Obat ini secara langsung menghambat aktivitas osteoklas, osteoblas, dan osteosit, tiga jenis sel yang memainkan peran sentral dalam proses remodeling tulang. Ketika sel-sel ini tidak bekerja optimal, tulang rahang kehilangan kemampuannya untuk memperbarui diri.
Dari Leuven ke Klinik Gigi di Mana Pun
Penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan yang diakui para peneliti secara terbuka: desain retrospektif yang membatasi klaim kausalitas, data farmakologi yang tidak selalu lengkap, variasi durasi tindak lanjut antar pasien, serta sampel yang hanya mencakup pasien laki-laki. Studi longitudinal dengan cakupan lebih luas dan lebih beragam tentu diperlukan sebelum A-UCONNS dapat diterapkan secara luas sebagai standar klinis.
Namun demikian, kontribusi penelitian ini tidak bisa diabaikan. Dalam praktik klinis sehari-hari, dokter gigi kerap berhadapan dengan pasien lansia yang membawa daftar panjang obat-obatan dan riwayat penyakit yang kompleks. Alat seperti A-UCONNS memberi mereka bahasa yang sama untuk menilai risiko secara terstruktur, bukan hanya berdasarkan intuisi klinis semata.
Bagi pasien dengan skor risiko moderat, pemantauan lebih ketat dan tindakan preventif mungkin sudah cukup. Namun bagi mereka yang masuk kategori risiko tinggi, strategi yang lebih personal, mulai dari penundaan prosedur hingga protokol perawatan pasca-ekstraksi yang intensif, bisa menjadi pembeda antara pemulihan yang berhasil dan komplikasi yang berkepanjangan.
Penelitian ini mengingatkan bahwa di balik setiap tindakan pencabutan gigi yang tampak sederhana, ada ekosistem biologis yang rumit, dan pada pasien tertentu, ekosistem itu membutuhkan perhatian yang jauh lebih seksama.
Sumber DOI : DOI: 10.1002/hsr2.2184
Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels