Selama ini, sebagian pasien yang hendak menjalani foto rontgen gigi menyimpan kekhawatiran diam-diam: apakah paparan radiasi itu aman? Apakah ada sesuatu yang berubah di dalam mulut mereka setelah sinar-X menerpa jaringan lunak gusi dan pipi? Pertanyaan itu kini mendapat jawaban lebih tegas dari sebuah penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Gadjah Mada.
drg. Ryna Dwi Yanuaryska, Ph.D., dosen dari Departemen Radiologi Dentomaxillofasial FKG UGM, bersama koleganya Rellyca Sola Gracea, mempublikasikan hasil studi mereka di jurnal Biomedicine edisi Maret–April 2022. Temuan utamanya cukup melegakan: paparan radiasi dari panoramik analog, panoramik digital, maupun cone beam computed tomography (CBCT) tidak terbukti memicu terjadinya keratosis oral pada mukosa mulut pasien.
Ketika Sel Mukosa Jadi Saksi
Keratosis oral adalah kondisi di mana lapisan permukaan mukosa mulut mengalami penebalan keratin yang abnormal. Sel-sel tanpa inti (anucleated squamous cells/ANSC) adalah penanda utama kondisi ini. Dalam jumlah besar, sel-sel tersebut dapat mengindikasikan perubahan pramalignan, bahkan berkaitan dengan risiko karsinoma sel skuamosa. Rokok, alkohol, dan gesekan mekanis berulang adalah penyebab yang sudah lama dikenal.
Namun ada satu pertanyaan yang belum terjawab: bagaimana dengan radiasi sinar-X dari pemeriksaan gigi rutin?
Penelitian sebelumnya memang telah menunjukkan bahwa paparan panoramik dan CBCT mengubah pola maturasi sel mukosa, yakni meningkatkan proporsi sel intermediet dan menurunkan sel superfisial. Perubahan pola maturasi itu yang kemudian mendorong drg. Ryna dan tim untuk melangkah lebih jauh: apakah perubahan tersebut juga disertai peningkatan sel tanpa inti sebagai tanda keratosis?
Empat Puluh Partisipan, Dua Titik Waktu
Studi ini menggunakan desain observasional potong lintang dengan 40 partisipan berusia 25 tahun ke atas, dibagi ke dalam empat kelompok: panoramik analog, panoramik digital, CBCT, dan kelompok kontrol tanpa paparan radiasi. Masing-masing kelompok terdiri dari sepuluh orang.
Usap sel (smear) diambil dari mukosa gingiva dan mukosa bukal, dua kali: tepat sebelum pemeriksaan radiografi dan sepuluh hari sesudahnya. Pewarnaan Papanicolaou digunakan untuk mengidentifikasi dan menghitung ANSC di bawah mikroskop cahaya. Seluruh pembacaan dilakukan oleh pengamat terlatih yang tidak mengetahui identitas sampel.
Hasilnya konsisten di semua kelompok.
“Analog/digital panoramic radiography and CBCT exposure do not cause increases in anucleated cell numbers, so keratosis may not occur in patients exposed to dental X-ray radiation.” — drg. Ryna Dwi Yanuaryska, Ph.D., dalam laporan penelitian
Tidak ada perbedaan bermakna secara statistik (p > 0,05) antara jumlah ANSC sebelum dan sesudah paparan, baik pada mukosa gingiva maupun mukosa bukal. Kelompok kontrol pun menunjukkan hasil serupa: tidak ada perubahan selama sepuluh hari pengamatan.
Mengapa Tidak Terjadi Keratosis?
Penjelasannya ada pada sifat paparan itu sendiri. Keratosis oral umumnya muncul akibat iritasi kronis dan berulang, bukan paparan sesaat. Rokok dan alkohol merusak mukosa secara terus-menerus; gesekan dari alat ortodontik bekerja hari demi hari. Radiasi sinar-X diagnostik, sebaliknya, bersifat singkat dan tidak konstan bersentuhan dengan jaringan mukosa.
Penelitian ini juga menempatkan CBCT dalam perspektif yang tepat. Meski CBCT menghasilkan dosis radiasi lebih tinggi dibanding panoramik, dosisnya tetap 10–12 kali lebih rendah dibandingkan CT scan konvensional. Studi lain yang dikutip dalam penelitian ini menunjukkan bahwa efek sitotoksik CT scan pada sel bukal pun sudah mereda setelah 20 hari, seiring pergantian sel epitel. Artinya, kerusakan yang mungkin terjadi bersifat sementara dan tidak cukup kuat untuk memicu keratosis.
Lapisan keratin sendiri memiliki laju pergantian enam hingga sepuluh hari. Dalam rentang waktu itu, tidak ada akumulasi ANSC yang terdeteksi pada kelompok yang terpapar radiasi diagnostik.
Catatan untuk Kelompok Berisiko
Meski hasilnya meyakinkan, drg. Ryna dan tim memberi catatan penting. Penelitian ini dilakukan pada individu sehat, bukan perokok, bukan peminum alkohol, dan tidak menggunakan alat ortodontik. Kelompok-kelompok ini, yang mukosanya sudah mengalami stres kronik, belum diteliti secara khusus dalam konteks paparan radiasi berulang.
Studi lanjutan pada kelompok berisiko itu masih diperlukan, terutama bagi pasien yang menjalani pemeriksaan radiografi berulang kali dalam jangka panjang.
Bagi pasien yang selama ini ragu naik ke kursi pemeriksaan radiologi karena takut dampak sinar-X pada jaringan mulutnya, penelitian ini memberikan landasan ilmiah yang lebih kokoh untuk tenang. Rontgen gigi rutin, dalam kondisi normal, tidak mengubah mukosa mulut menjadi sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Sumber DOI : DOI: https://doi.org/10.51248/.v42i2.1262
Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels