News

/

Artikel, Latest News

Sinar-X Dental Ubah Pola Kematangan Sel Mukosa: Apa Artinya bagi Pasien yang Rutin Rontgen Gigi?

Sepuluh hari setelah sesi foto rontgen panoramik, sesuatu yang tak kasatmata terjadi di dalam mulut pasien. Sel-sel epitel mukosa bukal dan gingiva bergeser komposisinya: sel superfisial berkurang, sementara sel intermediate meningkat secara signifikan. Perubahan ini bukan gejala klinis yang bisa dirasakan, tapi terbaca jelas di bawah lensa mikroskop cahaya dengan pembesaran 400 kali.

Itulah temuan utama penelitian yang dipublikasikan di Brazilian Journal of Oral Sciences oleh tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, dipimpin drg. Ryna Dwi Yanuaryska, Ph.D. Penelitian ini menjadi yang pertama secara spesifik mengevaluasi pola kematangan epitel oral setelah paparan tiga metode radiografi dental yang umum digunakan: panoramik analog, panoramik digital, dan cone beam computed tomography (CBCT).

Sel yang Bergeser Tanpa Keluhan

Mukosa oral bekerja seperti mesin regenerasi yang tak pernah berhenti. Sel baru lahir di lapisan parabasal, bermigrasi ke atas, matang menjadi sel intermediate, lalu akhirnya menjadi sel superfisial di permukaan paling luar sebelum terkelupas secara alami. Pola ini disebut kematangan epitel normal, dan gangguan terhadapnya dikenal sebagai penanda awal perubahan sel yang berpotensi patologis.

Selama ini, para peneliti sudah membuktikan bahwa paparan sinar-X menyebabkan kematian sel melalui mekanisme sitotoksik, ditandai pyknosis, karyolisis, dan karyorrhexis. Tapi apakah paparan itu juga mengacaukan proses kematangan sel secara keseluruhan? Pertanyaan itulah yang mendorong drg. Ryna dan timnya merancang studi ini.

Sebanyak 40 subjek berusia 25 tahun ke atas yang memenuhi kriteria ketat dilibatkan, terbagi dalam empat kelompok: tiga kelompok paparan radiografi dan satu kelompok kontrol tanpa paparan. Semua subjek bukan perokok, bukan peminum alkohol, dan tidak memiliki lesi mukosa yang terlihat. Apusan sitologi diambil dari mukosa bukal dan gingiva sebelum paparan, lalu diulang sepuluh hari kemudian. Pewarnaan Papanicolaou digunakan untuk menghitung proporsi sel parabasal, intermediate, dan superfisial.

Panoramik Digital Paling Tajam Dampaknya

Hasilnya cukup mengejutkan. Pada kelompok kontrol, tidak ada perubahan bermakna dalam komposisi sel selama sepuluh hari pengamatan. Sebaliknya, ketiga metode radiografi menghasilkan perubahan yang serupa: sel intermediate meningkat signifikan (p < 0,05) dan sel superfisial menurun signifikan (p < 0,05), baik pada mukosa bukal maupun gingiva.

Yang menarik, panoramik digital justru menunjukkan pergeseran paling besar di antara ketiganya. Pada mukosa bukal, sel intermediate meningkat dari rata-rata 69,70% menjadi 81,20% setelah paparan panoramik digital, sementara sel superfisial turun drastis dari 30,50% menjadi 17,83%. Angka ini lebih besar dibandingkan perubahan yang tercatat pada kelompok CBCT maupun panoramik analog.

“Penelitian ini merupakan yang pertama menilai pola kematangan setelah pencitraan dental menggunakan metode sitopatologi. Hasil kami menunjukkan bahwa paparan radiografi analog/digital panoramik dan CBCT dapat menginduksi sitotoksisitas dengan mengubah pola kematangan sel mukosa bukal dan gingiva.” — drg. Ryna Dwi Yanuaryska, Ph.D., Fakultas Kedokteran Gigi UGM

Tidak ada perbedaan bermakna antara mukosa bukal dan gingiva dalam hal besarnya perubahan sel, yang berarti kedua jaringan merespons radiasi dengan cara yang kurang lebih sama.

Bukan Berarti Rontgen Harus Dihindari

Temuan ini bukan seruan untuk menghentikan penggunaan radiografi dental. Panoramik dan CBCT tetap menjadi alat diagnostik yang esensial dalam perawatan gigi: mulai dari evaluasi gigi impaksi, perencanaan implan, hingga deteksi kelainan rahang yang tidak terlihat secara klinis. Tanpa pencitraan radiografi, banyak diagnosis akan meleset.

Namun, penelitian ini memberi dasar ilmiah yang kuat untuk prinsip yang sebenarnya sudah lama dianjurkan dalam radioproteksi: prinsip ALARA (as low as reasonably achievable). Artinya, paparan radiasi harus dijaga seminimal mungkin, dan setiap permintaan foto rontgen harus didasarkan pada indikasi klinis yang jelas, bukan rutinitas atau kebiasaan.

Pergeseran pola kematangan sel yang ditemukan dalam studi ini memiliki kemiripan dengan perubahan yang terjadi pada jaringan mukosa akibat paparan tembakau dan alkohol, dua faktor risiko kanker mulut yang sudah mapan. Ini bukan berarti rontgen gigi setara dengan merokok, tapi temuan tersebut mengingatkan bahwa radiasi ionisasi, dalam kadar berapapun, tidak bekerja tanpa konsekuensi biologis.

Para peneliti juga menyarankan penelitian lanjutan yang mengukur indeks keratinisasi, yaitu proporsi sel superfisial anukleasi, sebagai penanda tambahan untuk deteksi dini perubahan sel kanker mulut. Celah ini terbuka lebar untuk dieksplorasi lebih jauh.

Bagi pasien yang bertanya-tanya apakah rontgen gigi tahunan mereka aman, jawabannya tetap: ya, bila memang diperlukan. Tapi “diperlukan” adalah kata kunci yang tidak boleh diabaikan.

Sumber DOI : doi: 10.1016/j.mrgentox.2004.05.008.

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Share News

Related News
20 July 2026

Hubungan Kesehatan dan Integritas

20 July 2026

FKG UGM ‘Bedah’ Kurikulum & Tantangan Regulasi Baru Penyelenggaraan Pendidikan Dokter Gigi Spesialis (Sp-2)

20 July 2026

Ketika Tikus Transgenik Membuka Jendela Baru Memahami Kanker Mulut

en_US