Yogyakarta, 7 Januari 2026. Serah terima jabatan pimpinan departemen dan program studi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) periode 2026–2031 menjadi penanda penting regenerasi kelembagaan, sekaligus memperkuat mutu pendidikan kedokteran gigi di Tengah derasnya disrupsi teknologi. Dalam forum yang berlangsung serentak di lingkungan universitas, para pejabat baru ditekankan agar bersikap inovatif, adaptif, serta mengedepankan integritas dalam mengelola tridarma perguruan tinggi.
Regenerasi kepemimpinan di lingkungan fakultas kedokteran gigi tidak lagi dimaknai sebatas pergantian nama pada struktur organisasi. Peralihan itu memikul ekspektasi besar untuk memastikan proses pendidikan dokter gigi, higiene gigi, hingga spesialis dan subspesialis tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat yang terus berubah. Perkembangan seperti digital dentistry, pemanfaatan kecerdasan buatan, dan kedokteran gigi presisi menuntut respons cepat dari tingkat departemen dan prodi.
Program studi maupun departemen di FKG UGM memiliki peran sangat strategis mendidik tenaga kesehatan gigi dan mulut yang kompeten, beretika, dan berdaya saing nasional serta global. Namun, ke depan institusi dihadapkan pada tantangan tidak ringan, mulai dari pemenuhan standar akreditasi berkelanjutan, keterbatasan sarana pendidikan klinik, hingga tuntutan peningkatan riset dan publikasi ilmiah. Di sisi lain, karakteristik generasi mahasiswa yang cenderung ingin serba instan ikut mengubah pendekatan pembelajaran.
Perwakilan pejabat manajerial FKG UGM periode 2026–2031 Dr Leny Pratiwi Arie Sandy S.Kp.G., MDSc. Selaku Kaprodi Higiene Gigi menegaskan, keberhasilan institusi bergantung pada kerja tim yang solid. ”Kami menyadari jabatan ini bukan posisi formal, melainkan tanggung jawab besar yang menuntut integritas, dedikasi, dan kerja keras. Capaian periode sebelumnya akan kami lanjutkan dan tingkatkan,” ujarnya.
Sementara itu, Prof. Dr. drg. Widowati Siswomihardjo, M.S. dalam sambutannya mewakili pimpinan pejabat lama, disampaikan bahwa pengalaman mengelola pendidikan pascasarjana memperlihatkan dimensi manusiawi yang kompleks. Pendidikan pascasarjana bukan hanya ruang akademik, tetapi medan pergulatan yang memuat rasa takut, kelelahan, persoalan keluarga, bahkan konflik antara mahasiswa dan pembimbing maupun antar pembimbing. Kondisi itu menjadi pengingat bahwa tugas kaprodi bukan sekadar administratif, melainkan juga pendampingan hati. Pesan yang diterapkan adalah membimbing mahasiswa dengan empati, “guide your students with your heart”.

Dekan FKG UGM dalam paparannya menautkan tantangan eksternal dengan kebutuhan merumuskan strategi baru. Ia mencontohkan langkah studi banding dan inisiasi kerja sama dengan Universitas Terbuka (UT) untuk menjangkau daerah yang secara geografis sulit mengakses pendidikan lanjut. Efisiensi pengelolaan UT dengan 1,5 juta mahasiswa memberi inspirasi bagi UGM mengembangkan prodi jarak jauh, terutama untuk program yang tidak memerlukan penelitian laboratorium besar.
Beban perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN-BH) juga disebut menjadi realitas baru. Fakultas dituntut mandiri menanggung sebagian kewajiban, kepemimpinan kedepan harus solid dan dinamis dalam menyikapi setiap perubahan jaman serta peka terhadap segala potensi yang dimiliki oleh Fakultas.
”Kami memberanikan diri membangun dengan kemandirian internal, tidak hanya bergantung pada hibah. Gedung baru diproyeksikan untuk adaptasi teknologi, seperti laboratorium digital dentistry,” kata dekan. Ia menambahkan, seluruh proses perencanaan harus terbebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme sehingga nilai integritas sungguh dijunjung tinggi.
Dokumen Keputusan Rektor UGM Nomor 1660 hingga 1671 Tahun 2025 mencatat pengangkatan para ketua dan sekretaris prodi serta departemen di FKG UGM periode 2026–2031, termasuk Ketua Program Sarjana Prodi Kedokteran Gigi, Ketua Prodi Higiene Gigi, Ketua Program Profesi Dokter Gigi, hingga ketua program magister dan doktor. Nama-nama pejabat yang diangkat secara elektronik ditetapkan di Yogyakarta pada 31 Desember 2025 oleh Rektor Ova Emilia
Forum sertijab itu diharapkan menjadi momentum meneguhkan visi ”mengakar kuat menjulang tinggi” yang berdampak langsung pada pelayanan kesehatan gigi masyarakat di berbagai daerah. Kebutuhan sumber daya manusia kedokteran gigi di wilayah seperti Lamandau dan Tabalong disebut masih minim sehingga kehadiran pendidikan jarak jauh dari UGM kelak dapat membuka akses peningkatan kualifikasi.

Lebih jauh, para dosen dan tenaga kependidikan diingatkan agar terlibat aktif memperbarui kurikulum berbasis kebutuhan, meningkatkan kompetensi dosen melalui kolaborasi riset, serta mendorong penyediaan sarana prasarana optimal. Seruan itu menempatkan regenerasi sebagai ikhtiar kolektif, bukan kerja individual.
Serah terima jabatan di FKG UGM akhirnya menautkan dua kepentingan besar: kesinambungan tradisi akademik yang kuat dan keberanian merangkul teknologi modern. Di antara keduanya, integritas menjadi jangkar utama agar setiap inovasi tetap bermuara pada kepentingan publik. Regenerasi kepemimpinan pun menemukan makna lebih luas sebagai jalan panjang menjaga relevansi pendidikan kedokteran gigi Indonesia. Selamat bekerja !
(Reporter: Andri Wicaksono, Fotografi: Fajar Budi Harsakti)