News

/

Artikel, Latest News

Semakin Banyak Obat, Semakin Lambat Luka Sembuh: Temuan Penting Pasca Cabut Gigi pada Pasien Onkologi

Bayangkan seorang pasien berusia 80 tahun baru saja menjalani pencabutan gigi. Ia minum lebih dari sepuluh jenis obat setiap hari, termasuk bisphosphonate untuk tulangnya yang rapuh dan kortikosteroid untuk mengendalikan peradangan. Dua minggu berlalu, soket giginya belum menutup. Sebulan kemudian, tulang rahangnya mulai terekspos. Ini bukan kasus langka, dan penelitian terbaru dari KU Leuven membuktikannya dengan angka yang mengejutkan.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Stomatology Oral and Maxillofacial Surgery mengungkap bahwa pasien yang mengonsumsi kombinasi obat antiresorptif (AR) dan non-antiresorptif (non-AR) memiliki peluang mengalami keterlambatan penyembuhan hingga 14,68 kali lebih tinggi dibandingkan pasien tanpa obat-obatan tersebut. Penelitian ini melibatkan drg. Isti Rahayu Suryani, M.Biotech., Sp. RKG, Subsp. RDP(K), PhD, peneliti dari Departemen Radiologi Kedokteran Gigi FKG Universitas Gadjah Mada, yang turut berkontribusi sebagai penulis utama dalam studi multisenter ini.

Dari Ribuan Rekam Medis, 353 Pasien Bicara Banyak

Tim peneliti menelusuri rekam medis digital dari 3.977 pasien yang menjalani pencabutan gigi di Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial, UZ Leuven, Belgia, selama periode enam tahun (September 2015 hingga April 2021). Setelah melewati seleksi ketat, 353 pasien laki-laki berusia 40 hingga 90 tahun memenuhi kriteria inklusi.

Pasien dibagi ke dalam tiga kelompok: mereka yang mengonsumsi polypharmacy non-AR, kombinasi AR dan non-AR, serta kelompok kontrol tanpa obat apapun dalam 12 bulan terakhir. Hasil penyembuhan diklasifikasikan menjadi tiga kategori: penyembuhan normal (kurang dari 14 hari), penyembuhan terlambat (14 hari hingga 8 minggu), dan medication-related osteonecrosis of the jaw atau MRONJ, yakni kondisi di mana tulang rahang mati dan tidak menunjukkan tanda pemulihan lebih dari 8 minggu.

Polypharmacy sendiri dinilai menggunakan skor yang dikategorikan sebagai minor (0–2 obat), moderate (3–5 obat), major (6–9 obat), hingga hyper (lebih dari 10 obat). Skor inilah yang ternyata menjadi salah satu prediktor terkuat dalam studi ini.

Angka yang Tak Bisa Diabaikan

Hasil analisis multivariat menunjukkan pola yang konsisten dan mengkhawatirkan. Pasien berusia 80 tahun ke atas memiliki risiko keterlambatan penyembuhan hampir 7 kali lipat (OR=6,98) dibandingkan kelompok usia lebih muda. Sementara itu, pasien dengan skor polypharmacy major menghadapi risiko 15 kali lebih tinggi untuk mengalami penyembuhan terlambat (OR=15,37).

Yang lebih mengejutkan: pasien dengan skor hyper polypharmacy yang mengonsumsi obat non-AR memiliki risiko mengembangkan MRONJ hampir 59 kali lebih tinggi (OR=58,86) dibandingkan kelompok kontrol. Angka ini bukan sekadar statistik, ini adalah sinyal keras bahwa beban obat yang tinggi bisa mengubah prosedur cabut gigi yang tampak sederhana menjadi komplikasi serius.

“Penyembuhan luka pada pasien yang mengonsumsi polypharmacy non-AR maupun kombinasi AR dan non-AR terganggu secara signifikan setelah pencabutan gigi. Faktor risiko lain seperti usia lanjut dan skor polypharmacy tinggi turut berkontribusi terhadap terjadinya keterlambatan penyembuhan dan MRONJ.”

Dari sisi jenis obat spesifik, bisphosphonate menunjukkan kemungkinan tertinggi menyebabkan keterlambatan penyembuhan (OR=3,12), sementara kortikosteroid menjadi obat dengan risiko MRONJ tertinggi (OR=2,18). Kortikosteroid diketahui meningkatkan apoptosis osteoblas dan osteosit, sehingga secara langsung menghambat perbaikan tulang dan jaringan lunak.

Satu temuan yang menarik: lokasi pencabutan gigi dan status merokok tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap gangguan penyembuhan dalam analisis multivariat. Artinya, faktor obat-obatan dan usia jauh lebih dominan dibandingkan kebiasaan merokok sekalipun.

Mengapa Ini Penting bagi Dokter Gigi dan Pasien

Dalam praktik klinis sehari-hari, dokter gigi sering berhadapan dengan pasien lansia yang datang dengan daftar obat panjang, terutama mereka yang sedang atau pernah menjalani terapi kanker. Studi ini menegaskan bahwa penilaian menyeluruh terhadap profil obat pasien bukan sekadar formalitas administratif, melainkan langkah klinis yang menentukan.

Implikasinya nyata: sebelum melakukan tindakan dentoalveolar pada pasien dengan polypharmacy tinggi, dokter perlu mempertimbangkan konsultasi lintas spesialisasi, modifikasi protokol bedah, bahkan kemungkinan penyesuaian dosis obat bersama dokter spesialis terkait. Pemantauan radiologis pasca-ekstraksi, seperti melalui radiograf panoramik, juga menjadi krusial untuk mendeteksi tanda-tanda awal MRONJ sebelum kondisi berkembang menjadi lebih parah.

Para peneliti mengakui keterbatasan studi ini, terutama desainnya yang retrospektif dan minimnya informasi dosis obat. Seluruh subjek juga berjenis kelamin laki-laki, sehingga generalisasi ke populasi perempuan masih memerlukan penelitian tersendiri. Meski begitu, studi ini membuka jalan bagi penelitian prospektif yang lebih terstruktur untuk menjawab pertanyaan yang belum terjawab: apakah penyesuaian jenis atau dosis obat dapat mencegah komplikasi penyembuhan?

Bagi pasien, pesannya sederhana namun sering terlewat: beritahu dokter gigi Anda tentang semua obat yang sedang dikonsumsi, sekecil apapun tampaknya. Sebuah daftar obat yang lengkap bisa menjadi perbedaan antara soket yang sembuh dalam dua minggu dan rahang yang bermasalah selama berbulan-bulan.

Sumber DOI : https://doi.org/10.1016/j.jormas.2023.101645

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Share News

Related News
20 July 2026

Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak FKG UGM Perkuat Mutu Pendidikan melalui Workshop Evaluasi Kurikulum OBE Tahap II

20 July 2026

Hubungan Kesehatan dan Integritas

20 July 2026

FKG UGM ‘Bedah’ Kurikulum & Tantangan Regulasi Baru Penyelenggaraan Pendidikan Dokter Gigi Spesialis (Sp-2)

en_US