Angka 88,8 persen. Itulah proporsi penduduk Indonesia yang tercatat mengidap penyakit gigi dan mulut menurut RISKESDAS 2018 — sebuah angka yang seharusnya mengejutkan, tapi justru kerap diabaikan. Di Kabupaten Sleman saja, tercatat 41.235 kasus karies gigi, dan pada 2019 penyakit ini masuk dalam daftar sepuluh penyakit terbanyak di wilayah itu. Kecamatan Ngaglik adalah salah satu titiknya.
Di sinilah Dr. drg. Indra Bramanti, M.Sc., Sp.KGA(K) dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak Universitas Gadjah Mada, bersama tim lintas institusi, memutuskan untuk turun langsung. Bukan hanya membawa alat peraga, melainkan membawa pertanyaan mendasar: seberapa jauh warga Ngaglik memahami kesehatan gigi dan mulut mereka sendiri?
Ketika Gigi Baru Sakit, Baru ke Dokter
Pola yang ditemukan tim di lapangan bukan hal baru, tapi tetap memprihatinkan. Sebagian besar warga baru mendatangi dokter gigi saat gigi sudah berlubang dalam, jaringan sekitar sudah meradang, atau rasa nyeri sudah tak tertahankan. Pencegahan bukan prioritas. Edukasi tentang menyikat gigi yang benar, tentang peran gula dalam pembentukan karies, atau tentang pentingnya pemeriksaan rutin — semua itu belum menyentuh keseharian mereka.
Kondisi ini diperparah oleh fakta yang diakui langsung oleh pengurus Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngaglik: belum pernah ada satu pun kegiatan penyuluhan kesehatan gigi dan mulut yang diselenggarakan di wilayah mereka. Bukan karena tidak mau, tapi karena memang belum ada yang datang.
Tim pengabdian masyarakat yang terdiri dari Dwi Aji Nugroho dari Departemen Biomaterial Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Fitri Yuniawati dari Departemen Periodonsia UMY, serta Dr. drg. Indra Bramanti dari FKG UGM pun merancang intervensi dalam dua tahap. Tahap pertama adalah koordinasi teknis dengan ketua dan staf PCM Ngaglik. Tahap kedua adalah inti dari segalanya: penyuluhan langsung kepada 30 peserta komunitas, dilengkapi dengan pretest dan posttest untuk mengukur perubahan pengetahuan secara terukur.
Angka yang Bicara Sendiri
Hasilnya berbicara lebih keras dari dugaan awal. Sebelum penyuluhan, peserta perempuan mencatat rata-rata skor pretest 62,5, sementara peserta laki-laki 73,33. Setelah sesi edukasi berlangsung, skor posttest peserta laki-laki mencapai sempurna: 100. Peserta perempuan menyusul di angka 95,83.
Yang menarik adalah pola berdasarkan usia. Kelompok usia di atas 60 tahun justru mencatat lonjakan terbesar — dari rata-rata 55 sebelum penyuluhan menjadi 95 setelahnya, peningkatan 40 poin. Kelompok usia 51-60 tahun naik 36 poin. Ini menunjukkan bahwa warga yang lebih tua bukan tidak bisa menyerap informasi kesehatan — mereka hanya belum pernah mendapatkannya dalam format yang tepat dan mudah dipahami.
Analisis statistik dengan uji Paired Sample T-test mengonfirmasi bahwa perbedaan antara pretest dan posttest signifikan secara ilmiah, dengan nilai p = 0,000. Artinya, perubahan yang terjadi bukan kebetulan.
“Pengetahuan adalah hasil dari mengetahui, yang terjadi ketika manusia mempersepsi suatu objek tertentu. Ini menunjukkan bagaimana pendidikan kesehatan mulut memengaruhi informasi, pengetahuan, sikap, dan perilaku komunitas dalam menjaga dan meningkatkan kesehatan mulut.”
Kutipan dari kajian yang dirujuk tim peneliti ini menjadi fondasi filosofis dari seluruh kegiatan: bahwa perubahan perilaku dimulai dari perubahan pengetahuan, dan perubahan pengetahuan dimulai dari pertemuan antara informasi dan manusia yang siap menerimanya.
Gigi Susu Bukan Sekadar Sementara
Satu aspek yang kerap luput dari perhatian publik muncul dalam diskusi tim: peran orang tua, khususnya dalam masa tumbuh kembang gigi anak. Gigi susu sering dianggap tidak penting karena “toh akan tanggal sendiri.” Padahal, kondisi gigi susu sangat menentukan arah tumbuhnya gigi permanen, terutama pada anak usia sekolah dasar. Karies pada gigi susu yang dibiarkan bisa mengganggu ruang tumbuh gigi permanen, memengaruhi pola makan anak, bahkan berdampak pada tumbuh kembang secara keseluruhan.
Inilah mengapa keterlibatan Dr. drg. Indra Bramanti, spesialis kedokteran gigi anak konsultan dari FKG UGM, menjadi krusial dalam program ini. Pendekatan preventif pada anak tidak bisa dilepaskan dari edukasi kepada orang tuanya.
Dari Ngaglik, untuk yang Lebih Luas
Program ini mungkin hanya menjangkau 30 orang dalam satu sesi. Tapi di balik angka kecil itu tersimpan pelajaran besar: intervensi sederhana berupa penyuluhan terstruktur mampu mengubah pengetahuan secara signifikan dalam waktu singkat. Persoalannya bukan pada kapasitas masyarakat untuk belajar, melainkan pada ketersediaan akses terhadap informasi yang benar dan mudah dipahami.
Tim merekomendasikan agar kegiatan serupa dijadikan program rutin di PCM Ngaglik — bukan sekadar acara sekali jalan. Karies gigi tidak datang dalam semalam, dan pencegahannya pun membutuhkan pembiasaan jangka panjang.
Sleman sudah punya datanya. Yang dibutuhkan sekarang adalah lebih banyak tim yang bersedia turun, dan lebih banyak komunitas yang diberi kesempatan untuk tahu.
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels