Sejauh mata memandang di sepanjang pesisir pantai, sebuah bongkahan berwarna kelabu kehitaman kusam sering kali diabaikan sebagai sekadar batu atau sampah laut biasa. Namun, begitu wacana ambergris atau yang populer dikenal sebagai “muntah paus” merebak ke permukaan, benda kusam tersebut mendadak berubah menjadi incaran bernilai ekonomis fantastis.
Workshop & Uji Sertifikasi Kompetensi Perhimpunan Pengelola Laboratorium Pendidikan Indonesia (PPLPI), NTB 26-29 Agustus 2026
Fenomena yang berulang kali memicu gelombang klaim di tengah masyarakat ini menyisakan satu pertanyaan krusial: bagaimana sains membedakan keberuntungan riil dari sekadar ilusi sosial? Pengalaman Universiti Malaysia Terengganu (UMT) dalam menangani pengujian keaslian ambergris menunjukkan bahwa di balik mistifikasi materi yang kerap disebut floating gold (emas mengapung) ini, terdapat tuntutan pembuktian ilmiah yang teramat ketat. Ambergris, yang secara kimiawi mengandung ambrein (), epi-coprostanol, and coprostanone, tidak dapat dinilai hanya dari bentuk kasatmata, aroma musky, atau sekadar pengujian tradisional seperti pengamatan fisik dan tusukan jarum panas. Oleh karena itu, FKG UGM hadir dan siap untuk melakukan transformasi laboratorium kedoketran gigi. Pemutakhiran sains kedokteran gigi yang kelak akan bersinergi menjadi suatu pusat inovasi.
Perjalanan pengujian keaslian ambergris pun mengalami pergeseran metodologis yang signifikan. Jika dahulu pembuktian bertumpu pada observasi fisik dan uji bakar yang rentan bias, kini dunia ilmiah melangkah ke penggunaan instrumen analisis tingkat tinggi. Teknologi canggih seperti Fourier Transform Infrared (FTIR) dimanfaatkan untuk mengidentifikasi gugus fungsi kimia, Thermogravimetric Analyzer (TGA) untuk menguji titik lebur, Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) untuk kromatografi sampel, serta Nuclear Magnetic Resonance (NMR) untuk memetakan bilangan C-13 dan H-1.
Penggunaan perangkat presisi ini menjadi fondasi utama dalam melangkah menuju pembentukan Makmal Rujukan Nasional (Laboratorium Rujukan Nasional) berbasis standar ISO/IEC 17025. Fasilitas rujukan tertinggi ini berfungsi sebagai infrastruktur kepercayaan bagi penegakan hukum, pelestarian ekosistem, serta pencegahan praktik penipuan perdagangan produk alam. Melalui pendekatan instrumen presisi tersebut, sains berhasil menggeser paradigma keaslian dari sekadar persepsi visual menjadi kepastian analitis. “Keaslian tidak lagi berhenti pada pertanyaan ‘kelihatannya asli atau tidak?’, melainkan ‘apa bukti analitik yang mendukung kesimpulan tersebut?'”
Inisiatif UMT ini melangkah lebih jauh menuju pembentukan laboratorium rujukan nasional yang bukan sekadar ruang dipenuhi instrumen mahal, melainkan sebuah infrastruktur kepercayaan. Di sinilah negara dan hukum bersandar ketika harus menegakkan perlindungan khazanah marin dari penipuan, penyelundupan, hingga memastikan keamanan pangan dan kesehatan publik.
Transformasi Laboratorium: Dari Fasilitas Pendukung Menjadi Pusat Inovasi
Persoalan kepastian ilmiah yang ditunjukkan dalam kasus ambergris sejatinya mencerminkan peran strategis laboratorium secara lebih luas. Di Indonesia, gagasan untuk memperkuat peran laboratorium perguruan tinggi terus didorong. Selama ini, Penata Laboratorium Pendidikan (PLP) atau laboran kerap menghadapi tantangan klasik ketika hendak berinovasi: keterbatasan literatur, kebingungan menentukan tema, hingga kesulitan menemukan akar masalah. Padahal, laboran adalah garda terdepan yang berinteraksi langsung dengan aktivitas praktikum dan penelitian saban hari.
Menjawab tantangan tersebut, Ir. Nana Heryana, M.T., IPU, ASEAN Eng., Pakar dan Ahli Madya PLP dari Institut Teknologi Bandung (ITB), memperkenalkan pendekatan LAB IMPACT Framework. Alur kerangka kerja LAB IMPACT bertumpu pada pergerakan sistematis yang berkesinambungan. Proses inovasi diawali dari tahapan menemukan masalah nyata di lapangan (Lead with Problems), lalu melangkah ke pembedahan akar penyebab masalah secara mendalam (Analyze the Root Cause) menggunakan analisis 5 Why and Fishbone Diagram. Setelah akar persoalan terurai, langkah dilanjutkan ke perancangan dan pengujian solusi (Build, Validate & Measure), sebelum akhirnya berujung pada pelembagaan inovasi menjadi Standar Operasional Prosedur (SOP), pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI), publikasi ilmiah berepustasi, hingga penciptaan nilai strategis bagi institusi.
Bukti nyata dari penerapan kerangka kerja ini ditunjukkan melalui karya inovasi Nana: Purwarupa Catu Daya Arus Tinggi Berdaya Rendah. Dengan memanfaatkan autotransformer efisien berbiaya terjangkau, perangkat ini mampu menginjeksi arus hingga 600 Ampere pada daya kurang dari 100 VA. Inovasi ini hadir sebagai solusi konkret atas ketergantungan pada peralatan impor High Current Source (HCS) yang harganya di pasaran dapat mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah.
Dari dinamika pengujian bahan alam hingga pembaharuan tata kelola laboratorium perguruan tinggi, bermuara sejumlah pokok penting yang saling bertautan. Kasus utama pengujian ketulenan ambergris di Universiti Malaysia Terengganu telah menjadi pemicu pentingnya transisi metodologis dari cara tradisional menuju pengujian berbasis instrumen analitis presisi. Langkah ini sejalan dengan visi strategis pembentukan Makmal Rujukan Nasional demi menjaga kedaulatan hukum, penguatan ekonomi, dan kelestarian hayati laut.
Sementara itu, dari ranah akademis dalam negeri, LAB IMPACT Framework yang digagas oleh Ir. Nana Heryana dari STEI ITB menghadirkan angin segar bagi pemberdayaan para laboran. Menerapkan prinsip utama berawal dari masalah operasional nyata, kerangka ini terbukti mampu mengarahkan efisiensi anggaran dan optimalisasi sumber daya. Pada akhirnya, seluruh gagasan ini bermuara pada satu tujuan besar: mentransformasikan laboratorium dari sekadar ruang pendukung praktikum menjadi pusat inkubasi inovasi, publikasi ilmiah, dan pelindungan kekayaan intelektual yang berdampak nyata.
Sains dan laboratorium tidak hanya berfungsi menguji benda atau memfasilitasi praktikum semata. Lebih dari itu, laboratorium adalah fondasi bagi sebuah bangsa untuk membangun budaya berbasis bukti, klaim-diverifikasi, masalah-diselesaikan, dan efisiensi dijadikan tradisi.
(Kontributor: Beti Indrawati, AMTG, Redaksi: Andri Wicaksono)