Bayangkan sebuah tumor yang tumbuh agresif di pangkal lidah, menyebar ke kelenjar getah bening leher, dan kembali muncul bahkan setelah operasi radikal. Itulah gambaran kanker pangkal lidah yang selama puluhan tahun menjadi mimpi buruk para klinisi onkologi. Tingkat kelangsungan hidup pasien nyaris tak bergerak, sementara kemoterapi dan radioterapi punya batas kemampuan. Di sinilah Prof. drg. Supriatno, M.Kes., MDSc., PhD., dari Departemen Ilmu Penyakit Mulut FKG Universitas Gadjah Mada, mencoba membuka jalan yang berbeda: menyuntikkan gen penekan tumor langsung ke dalam jaringan kanker, dipandu oleh pulsa listrik.
Ketika Listrik Membuka Pintu Sel
Teknik yang digunakan dalam penelitian ini disebut electro-gene therapy atau elektroporasi. Prinsipnya sederhana secara konseptual, tetapi menuntut presisi tinggi dalam pelaksanaan: pulsa listrik intensitas tertentu diberikan ke jaringan tumor, membuat membran sel kanker “terbuka” sementara, cukup lama untuk menerima DNA asing yang disuntikkan dari luar.
Dalam eksperimen ini, Prof. Supriatno bersama dr. Inne Suherna Sasmita dari FKG Universitas Padjadjaran menggunakan plasmid pcDNA3.1-p27^Kip1 wild type (wt) sebagai “muatan” genetik. Gen p27^Kip1 adalah inhibitor cyclin-dependent kinase yang bekerja menghambat siklus sel pada fase G1. Pada banyak jenis kanker manusia, ekspresi gen ini justru menurun drastis, sehingga sel tumor terus berproliferasi tanpa rem.
Model yang dipakai adalah xenograft tikus Balb/c nude, dengan sel kanker SP-C3 yang diisolasi dari metastasis kelenjar getah bening serviks pasien kanker pangkal lidah. Sel ini bukan jenis biasa: SP-C3 dikenal memiliki laju pertumbuhan ekstrem, kemampuan invasi tinggi, dan angka kekambuhan lokal yang cepat setelah eksisi radikal.
Gen Masuk, Tumor Mengecil
Hasilnya tidak main-main. Efisiensi transfeksi gen menggunakan kombinasi elektroporasi dan injeksi plasmid mencapai 55 hingga 70 persen sel, jauh melampaui injeksi DNA “telanjang” tanpa pulsa listrik yang hanya memperlihatkan segelintir sel positif. Ini dikonfirmasi lewat ekspresi gen reporter enhanced green fluorescence protein (EGFP) yang terdeteksi di bawah mikroskop fluoresensi.
Lebih penting lagi, tumor pada kelompok yang mendapat pcDNA3.1-p27^Kip1 wt tumbuh jauh lebih lambat dibandingkan kelompok kontrol yang hanya mendapat vektor kosong. Analisis Western blotting mengonfirmasi bahwa protein p27^Kip1 memang terekspresi naik secara signifikan pada jaringan tumor yang ditransfeksi.
“In vivo gene transfer method is a simple procedure and can solve some of the critical drawbacks of the present gene transfer techniques, thus providing a new strategy for gene therapy.”
Pernyataan ini muncul di bagian kesimpulan paper, mencerminkan optimisme yang terukur: bukan klaim penyembuhan, melainkan pembukaan strategi baru yang layak dieksplorasi lebih jauh.
Apoptosis Teraktivasi, Bukan Sekadar Penghambatan
Salah satu temuan paling menarik dari penelitian ini adalah bukti bahwa mekanisme kerja gen p27^Kip1 bukan hanya menghambat pertumbuhan, tetapi juga memicu kematian sel kanker secara terprogram.
Aktivitas proteolitik kaspase-3 pada tumor yang ditransfeksi meningkat 2,9 kali lipat dibandingkan kontrol, sementara kaspase-9 meningkat 1,7 kali lipat, keduanya dengan nilai signifikansi statistik P = 0,001. Kaspase-3 dan kaspase-9 adalah enzim kunci dalam jalur apoptosis intrinsik. Artinya, gen p27^Kip1 tidak hanya “membekukan” sel kanker di fase G1, ia juga mendorong sel tersebut menuju kematian yang teratur.
Yang patut dicatat, selama periode eksperimen tidak ditemukan penurunan berat badan tikus maupun luka bakar pada kulit di area elektroda. Ini mengindikasikan bahwa metode elektroporasi dengan tegangan 80 V pada diameter xenograft 1,0 cm relatif aman secara lokal.
Jalan Panjang Menuju Klinik
Tentu ada batasan yang perlu dipahami. Prof. Supriatno sendiri menyebut bahwa target terapi ini masih terbatas pada tumor lokal. Metastasis multipel di lokasi yang jauh dari elektroda belum bisa dijangkau secara efisien dengan sistem ini. Ke depan, peneliti berencana mengombinasikan transfer gen p27^Kip1 dengan gen-gen lain dan agen antikanker untuk memperluas jangkauan terapeutik.
Namun dalam konteks kanker rongga mulut yang selama dua dekade memiliki rasio mortalitas terhadap insidensi yang nyaris stagnan di angka 0,47-0,48, setiap strategi baru yang menunjukkan efektivitas pra-klinis layak mendapat perhatian serius. Electro-gene therapy dengan p27^Kip1 menawarkan sesuatu yang belum dimiliki pendekatan konvensional: kemampuan menyisipkan instruksi genetik langsung ke dalam tumor, memaksa sel kanker berhenti tumbuh dari dalam, lalu menghancurkan dirinya sendiri.
Tumor pangkal lidah mungkin salah satu kanker mulut yang paling keras kepala. Tapi gen, rupanya, bisa berbicara bahasa yang dipahami sel itu sendiri.
Sumber DOI : https://doi.org/10.24198/pjd.vol21no3.14106
Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Freepik