Behind the silence of the laboratory and the repetition of experimental processes, Prof. drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D., a Professor at FKG UGM, has pursued a long journey that often remains unseen by the public. She has chosen consistency as her guiding principle—dedicating decades to biomedical research on carbonate apatite until its outcomes truly deliver benefits to patients.
This decision was made early in her academic career. For Prof. Ika, being a scientist is not about shifting from one popular topic to another, but about remaining committed to a single field and exploring it in depth. “Once you choose a research path, you must remain consistent,” she stated. This principle has led to numerous innovations in bone grafts and biomaterials.
Her research outcomes extend far beyond academic publications. One of her most notable innovations, GamaCHA (Gamma Carbonate Hydroxyapatite)bone graft, has been produced continuously since 2014 and is used in hospitals across Indonesia. The product has even been included in the national e-catalog, allowing access for patients covered by BPJS, an achievement rarely attained by university-based research.
Perjalanan menuju hilirisasi itu bukan proses singkat. Riset graf tulang Prof. Ika dilisensikan sejak 2012 kepada perusahaan rintisan UGM, PT Swaya Saprakarsa. Dua tahun kemudian, produk mulai diproduksi massal. Seiring berkembangnya kebutuhan klinis, riset tersebut melahirkan turunan lain, mulai dari Seraspone, hemostatic sponge untuk operasi dental dan bedah umum, hingga Serafold, membran biomedis yang kini telah mengantongi izin edar.

Bagi Prof. Ika, hilirisasi riset bukan sekadar soal bisnis atau komersialisasi. Ia memaknainya sebagai bentuk tanggung jawab moral ilmuwan terhadap masyarakat. “Kalau riset hanya berhenti di jurnal, manfaatnya sangat terbatas. Padahal pasien membutuhkan solusi nyata,” katanya.
Nevertheless, the path has not been without challenges. Prof. Ika frequently highlights systemic issues in Indonesia’s research ecosystem, particularly short-term funding schemes that are incompatible with the nature of experimental research. She emphasized that research cannot be forced to conclude within a few months simply to meet administrative outputs. “Thinking and experimentation take time. They cannot be simplified,” she noted.

Prof. Ika juga kritis terhadap minimnya keterlibatan industri sejak tahap awal riset. Menurutnya, industri cenderung baru datang ketika produk sudah hampir jadi dan menjanjikan keuntungan. Padahal, kolaborasi sejak awal justru dapat mempercepat lahirnya inovasi yang relevan dan aplikatif.
Di tengah berbagai keterbatasan itu, Prof. Ika tetap memilih bertahan di jalur riset. Ia bahkan kerap mengingatkan mahasiswa dan peneliti muda agar tidak menjadi “ilmuwan Ajinomoto istilah yang ia gunakan untuk menggambarkan peneliti yang ingin cocok di semua bidang, tetapi tidak mendalam di satu keahlian pun.
Keteguhan itu kini berbuah pengakuan. Setelah meraih penghargaan penerima kategori Ilmuwan Senior Terbaik di Bidang STEM Prof. drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D. Silver Winner pada Anugerah Ditsainstek 2025. Meski demikian, ia menganggap penghargaan bukan tujuan akhir. Baginya, keberhasilan riset diukur dari keberlanjutan produk dan dampaknya bagi pasien.
“Selama produk itu masih diproduksi dan dipakai, artinya riset itu hidup,” tuturnya.
Prof. Ika masih terus aktif mengawal pengembangan produk, melakukan optimasi produksi agar lebih terjangkau, serta membimbing generasi muda agar berani tekun di jalan riset. Sebab baginya, inovasi besar tidak lahir dari loncatan cepat, melainkan dari kesetiaan pada satu bidang yang dijalani dengan sabar, konsisten, dan penuh tanggung jawab.
(Reporter: Andri Wicaksono, Fotografi: Fajar Budi Harsakti & Tangkapan Layar Official Youtube Kemedikti Sainstek)