News

/

Artikel, Latest News

Rahasia di Balik Luka yang Tak Kunjung Sembuh: Riset Doktoral drg. Isti Rahayu Suryani tentang Obat, Rahang, dan Risiko yang Tersembunyi

Bayangkan seorang pasien kanker yang baru saja mencabut gigi. Lukanya tidak sembuh dalam dua minggu, tidak pula dalam sebulan. Delapan minggu berlalu, tulang rahangnya mulai terekspos, nyeri menetap, dan tidak ada tanda-tanda pemulihan. Kondisi inilah yang disebut medication-related osteonecrosis of the jaw, atau MRONJ — osteonekrosis rahang akibat obat-obatan. Dan pertanyaan yang selama ini belum terjawab tuntas adalah: siapa saja yang paling berisiko mengalaminya?

drg. Isti Rahayu Suryani, M.Biotech., Sp. RKG, Subsp. RDP(K), PhD, dosen Departemen Radiologi Kedokteran Gigi FKG Universitas Gadjah Mada, menghabiskan lima tahun menjawab pertanyaan itu. Pada Juni 2024, ia menyelesaikan disertasi doktoralnya di KU Leuven, Belgia, di bawah bimbingan Prof. dr. Reinhilde Jacobs. Hasilnya: serangkaian temuan yang mengubah cara kita memahami hubungan antara polifarmasi, saliva, dan kehancuran tulang rahang.

Semakin Banyak Obat, Semakin Besar Bahaya

Polifarmasi — penggunaan beberapa obat secara bersamaan — bukan sekadar urusan lansia dengan segudang penyakit. Pada pasien kanker, kombinasi obat antiresorptif seperti bisfosfonate dan denosumab, ditambah kemoterapi, kortikosteroid, dan imunosupresan, sudah menjadi rutinitas pengobatan. Masalahnya, tidak ada yang benar-benar tahu seberapa besar dampak kombinasi ini terhadap penyembuhan luka pasca pencabutan gigi.

Isti memulai dengan menggali rekam medis digital 3.977 pasien di Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial, UZ Leuven, selama enam tahun (September 2015 hingga April 2021). Dari jumlah itu, 353 pasien memenuhi kriteria inklusi. Semuanya laki-laki, rata-rata berusia 67,4 tahun.

Hasilnya mengejutkan. Pasien berusia di atas 80 tahun yang mengonsumsi kombinasi obat antiresorptif dan non-antiresorptif memiliki peluang 14,68 kali lebih tinggi mengalami keterlambatan penyembuhan dibanding kelompok kontrol. Mereka yang masuk kategori hyper polypharmacy — mengonsumsi 10 obat atau lebih — berisiko 58,86 kali lebih besar mengembangkan MRONJ.

Angka itu bukan sekadar statistik. Ia merepresentasikan pasien nyata yang tulang rahangnya perlahan mati karena tubuh tidak lagi mampu menyembuhkan diri sendiri.

Yang menarik, kortikosteroid ternyata menjadi pelaku terbesar dalam kasus MRONJ, dengan odds ratio 2,18. Bisfosfonate, yang selama ini paling banyak disalahkan, justru lebih sering dikaitkan dengan keterlambatan penyembuhan biasa. Temuan ini membuka pertanyaan baru tentang bagaimana protokol klinis selama ini dirancang.

Alat Prediksi untuk Dokter Gigi di Garis Depan

Menemukan faktor risiko saja tidak cukup. Isti selangkah lebih jauh: ia memvalidasi sebuah alat penilaian risiko yang disebut Adapted-University of Connecticut Osteonecrosis Numerical Scale (A-UCONNS). Alat ini menggabungkan kondisi patologi awal, prosedur gigi, komorbiditas, kebiasaan merokok, jenis dan durasi obat, serta penggunaan obat antiresorptif dalam satu skor numerik.

Hasilnya menjanjikan. Setiap kenaikan satu poin pada skor A-UCONNS meningkatkan peluang terjadinya MRONJ sebesar 1,347 kali. Pasien dengan skor “risiko signifikan” (16 ke atas) terbukti memiliki waktu penyembuhan yang jauh lebih buruk dibanding mereka yang masuk kategori risiko minimal.

“A-UCONNS could act as a valuable tool for enhancing care in medically compromised patients, where it can enable a clinician to identify high-risk patients who are more prone to develop MRONJ.” — Suryani IR et al., Health Science Reports, 2024

Artinya, sebelum mencabut gigi seorang pasien onkologi yang mengonsumsi banyak obat, dokter gigi kini punya instrumen untuk memperkirakan apa yang mungkin terjadi — dan merencanakan tindakan pencegahan sejak awal.

Saliva dan Luas Soket: Dua Faktor Lokal yang Selama Ini Terabaikan

Separuh disertasi Isti berfokus pada faktor lokal, bukan sistemik. Dua pertanyaan diajukan: apakah perubahan saliva akibat obat-obatan berkontribusi pada MRONJ? Dan apakah luas permukaan soket alveolar setelah pencabutan ganda berpengaruh pada risiko?

Untuk pertanyaan pertama, Isti dan tim melakukan tinjauan sistematis terhadap 765 studi, yang akhirnya menyaring 10 artikel memenuhi kriteria dengan total 272 kasus MRONJ. Temuannya: penurunan aliran saliva dan perubahan protein saliva — termasuk interleukin-6, MMP9, dan hipotaurin — secara signifikan berkaitan dengan perkembangan MRONJ. Pasien yang mengonsumsi lima obat atau lebih memiliki prevalensi mulut kering (xerostomia) hingga 71 persen, dan kejadian MRONJ pada kelompok ini hampir tiga kali lebih tinggi dibanding pasien tanpa obat.

Untuk pertanyaan kedua, Isti bersama Rellyca Sola Gracea menganalisis 40 pasien yang menjalani pencabutan gigi multipel — 20 pasien polifarmasi dan 20 kontrol sehat. Menggunakan pemindaian CBCT (cone beam computed tomography) dan model 3D digital, mereka menghitung luas permukaan soket alveolar untuk setiap jenis gigi.

Temuan yang paling mencolok: dari seluruh gigi yang dicabut pada pasien polifarmasi, 40 persen berujung pada MRONJ. Di rahang bawah, angkanya mencapai 44 persen. Lebih jauh, ditemukan nilai ambang batas kritis — pencabutan empat akar gigi atau lebih di rahang bawah secara signifikan meningkatkan risiko MRONJ. Korelasi antara jumlah akar yang dicabut dan soket yang berkembang menjadi MRONJ sangat kuat (r = +0,861, p < 0,001).

Ini adalah studi pertama di dunia yang secara langsung mengaitkan luas permukaan soket alveolar dengan risiko MRONJ pada pasien polifarmasi.

Dari Leuven ke Yogyakarta

Lima tahun di Leuven bukan perjalanan mudah. Isti menjalaninya sambil menjadi ibu, istri, dan peneliti sekaligus. Disertasinya, yang terdiri dari lima artikel ilmiah yang diterbitkan atau diterima di jurnal internasional terindeks, merupakan kontribusi nyata dari Indonesia untuk ilmu pengetahuan global — dan lebih konkret lagi, untuk pasien-pasien yang selama ini berisiko tanpa tahu bahwa mereka berisiko.

Kini, setelah kembali ke FKG UGM, pertanyaan yang ia bawa pulang bukan hanya tentang MRONJ. Ia membawa peta yang lebih lengkap tentang apa yang terjadi di dalam mulut pasien yang tubuhnya sedang berjuang melawan kanker, osteoporosis, dan tumpukan obat yang harus ia telan setiap hari.

Bagi dokter gigi yang setiap harinya berhadapan dengan pasien lansia atau onkologi — yang rekam medisnya penuh daftar obat — riset ini adalah pengingat bahwa pencabutan gigi bukan prosedur sederhana. Ia adalah pintu masuk ke proses penyembuhan yang bisa berjalan lancar, atau tidak sama sekali.

Sumber DOI : doi: 10.1007/s00784-021-04331-7

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Share News

Related News
20 July 2026

Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak FKG UGM Perkuat Mutu Pendidikan melalui Workshop Evaluasi Kurikulum OBE Tahap II

20 July 2026

Hubungan Kesehatan dan Integritas

20 July 2026

FKG UGM ‘Bedah’ Kurikulum & Tantangan Regulasi Baru Penyelenggaraan Pendidikan Dokter Gigi Spesialis (Sp-2)

en_US