Selama ini, foto rontgen panoramik dianggap prosedur rutin yang aman. Pasien duduk, dagu menempel pada sandaran, mesin berputar mengelilingi kepala, selesai. Tapi di balik kesederhanaan itu, ada reaksi kimia kecil yang terjadi di jaringan lunak mulut, sesuatu yang tidak terlihat, tidak terasa, namun bisa diukur.
Dr. drg. Rurie Ratna Shantiningsih, MDSc, dari Departemen Radiologi Kedokteran Gigi FKG Universitas Gadjah Mada, sudah lama menaruh perhatian pada pertanyaan itu. Bersama tim penelitinya, ia mengembangkan sebuah inovasi sederhana namun cerdas: plester mukoadesif berbahan beta-karoten yang ditempelkan pada gusi sebelum pasien menjalani paparan radiografi panoramik.
Gusi yang Merespons Radiasi
Cairan sulkus gingiva, atau gingival crevicular fluid (GCF), adalah eksudat yang disekresikan dari mukosa gingiva, lapisan jaringan yang melapisi leher gigi. Volume cairan ini bisa menjadi petunjuk kondisi jaringan di sekitar gigi. Saat terjadi iritasi atau peradangan, volume GCF meningkat karena permeabilitas pembuluh darah kapiler di sekitar gingiva turut meningkat.
Paparan sinar-X panoramik, meski dalam dosis rendah, ternyata cukup untuk memicu respons itu. Studi-studi sebelumnya sudah menunjukkan bahwa radiasi dari radiografi panoramik dapat merusak sel melalui reaksi oksidatif, termasuk pembentukan mikronukleus sebagai penanda kerusakan kromosom, serta ekspresi 8-oxo-dG, biomarker kerusakan DNA akibat reaksi oksidatif.
Pertanyaan yang kemudian muncul: bisakah kerusakan itu dicegah, atau setidaknya ditekan?
Plester Kuning di Balik Senyum
Penelitian ini melibatkan 20 subjek yang memang memerlukan pemeriksaan radiografi panoramik. Sebelum paparan, kelompok sampel mendapatkan aplikasi plester mukoadesif beta-karoten pada mukosa gingiva di sekitar gigi 11 dan 21 (gigi seri atas tengah kiri dan kanan). Kelompok kontrol menjalani prosedur yang sama tanpa plester. Lima menit setelah paparan, GCF dikumpulkan dari sisi labial kedua gigi tersebut menggunakan kertas saring steril.
Pengukuran volume GCF dilakukan dengan meneteskan larutan ninhidrin 2% pada kertas saring. Warna ungu yang muncul diukur dengan kaliper digital. Sementara kadar 8-oxo-dG diukur menggunakan metode Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA), teknik yang mampu mendeteksi biomarker kerusakan DNA secara kuantitatif.
Hasilnya berbicara sendiri. Kelompok yang menggunakan plester beta-karoten menunjukkan volume GCF yang lebih rendah secara signifikan dibandingkan kelompok kontrol (p < 0,05). Kadar 8-oxo-dG pun lebih rendah: rata-rata 0,767 ± 0,368 pada kelompok sampel, dibandingkan 1,082 ± 0,547 pada kelompok kontrol, dengan perbedaan yang juga bermakna secara statistik (p = 0,036).
“Beta-karoten mucoadhesive gingival patch dapat disarankan untuk mencegah efek paparan radiografi panoramik pada GCF.” — Dr. drg. Rurie Ratna Shantiningsih, MDSc
Cara Kerja Beta-Karoten di Jaringan Gusi
Beta-karoten bukan sekadar pigmen oranye pada wortel. Dalam konteks biologi sel, ia bekerja sebagai antioksidan potensial. Pada penelitian ini, mekanismenya dijelaskan melalui dua jalur utama.
Pertama, beta-karoten mampu menekan akumulasi reactive oxygen species (ROS), molekul oksigen reaktif yang menjadi pemicu utama kerusakan DNA dan respons peradangan. Penekanan ROS ini sekaligus menghambat aktivasi NF-κB, protein yang berperan dalam ekspresi gen-gen inflamasi. Kedua, secara fisikokimia, plester ini bekerja dengan menetralisasi oksigen singlet dan meningkatkan komunikasi antar sel melalui peningkatan marker koneksin-43.
Dengan kata lain, plester ini tidak hanya bertindak sebagai penghalang fisik, tapi juga sebagai perisai kimia yang aktif bekerja di tingkat molekuler.
Dari Prinsip ALARA ke Inovasi Klinis
Dalam praktik radiologi kedokteran gigi, prinsip ALARA (As Low As Reasonably Achievable) menjadi panduan utama: dosis radiasi harus ditekan serendah mungkin yang masih bisa dicapai secara wajar. Penggunaan apron timbal, kolimasi berkas sinar, dan seleksi ketat indikasi pemeriksaan adalah bagian dari prinsip ini.
Plester beta-karoten ini hadir sebagai lapisan perlindungan tambahan, terutama untuk jaringan lunak rongga mulut yang tidak selalu terlindungi secara memadai oleh alat proteksi konvensional. Penelitian ini menjadi lanjutan dari serangkaian studi sebelumnya yang sudah menguji efektivitas plester serupa pada model kelinci New Zealand, dan kini diperkuat dengan data klinis pada manusia.
Yang menarik, bahan dasarnya bukan sesuatu yang eksotis. Beta-karoten mudah diperoleh, relatif murah, dan dikenal aman untuk jaringan biologis. Tantangan berikutnya adalah mengoptimalkan formulasi, dosis, dan metode aplikasi agar bisa diadopsi secara praktis di klinik gigi.
Setiap kali pasien duduk di kursi radiologi dan mesin panoramik mulai berputar, ada ribuan reaksi kimia yang berlangsung dalam hitungan detik di dalam jaringan lunak mulutnya. Penelitian seperti ini mengingatkan bahwa perlindungan terbaik tidak selalu datang dari perisai besar, tapi kadang dari selembar plester kecil berwarna kuning yang menempel diam di gusi.
Sumber DOI : https://doi.org/10.1063/1.5098429
Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels