News

/

Latest News

Penyambutan Mahasiswa Baru PPDGS RKG FKG UGM, Perkuat Kurikulum Terintegrasi & Peluang Beasiswa LPDP

Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis (PPDGS) Radiologi Kedokteran Gigi (RKG) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) mempertegas arah strategis pendidikannya dalam menghadapi tantangan pelayanan kesehatan modern. Berstatus sebagai program studi spesialis termuda di FKG UGM, PPDGS RKG terus mematangkan integrasi kurikulum berbasis pemangku kepentingan (stakeholders) serta memanfaatkan skema beasiswa pemerintah untuk menjawab percepatan kebutuhan tenaga medis spesialis radiologi kedokteran gigi di Indonesia.

Langkah strategis tersebut dipaparkan secara komprehensif dalam acara resmi penyambutan mahasiswa baru dan sosialisasi prodi yang dihadiri oleh pimpinan fakultas, pengelola prodi, dosen pengajar, tenaga kependidikan, serta para residen. Total mahasiswa aktif PPDGS RKG saat ini tercatat sebanyak 21 mahasiswa, yang terbagi atas 10 residen angkatan 01 dan 11 residen angkatan 02.

Ketua Program Studi PPDGS RKG UGM, drg. Isti Rahayu Suryani, M.Biotech., Sp. RKG, Subsp. RDP(K), Ph.D., memaparkan bahwa kurikulum prodi disusun selama 6 semester dengan beban total 55 SKS. Perumusan ini mengacu pada Peraturan Rektor, Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), serta hasil audiensi langsung bersama pengelola rumah sakit dan studi banding.

“Visi PPDGS RKG adalah menjadi program studi spesialis Radiologi Kedokteran Gigi yang terkemuka di tingkat nasional maupun internasional yang global dan inovatif, berguna bagi masyarakat, dijiwai nilai-nilai ke-UGM-an dan budaya bangsa berdasarkan Pancasila. Visi keilmuan kami berfokus menghasilkan lulusan dalam deteksi dini manifestasi penyakit degeneratif di oral dan maksilofasial untuk tercapainya optimasi diagnosis klinis dan perawatan serta peningkatan kualitas hidup pasien. Harapannya, lulusan dari PPDGS RKG akan mampu berperan sebagai care provider, lecturer, decision maker, researcher, sekaligus manager.” Ujar drg. Isti

Dalam struktur kurikulumnya, mahasiswa mulai berfokus pada ranah klinis terintegrasi di semester 3 dan 4. Memasuki semester 5, residen mengikuti skema deployment di rumah sakit-rumah sakit jejaring untuk melakukan praktik terintegrasi, pengabdian masyarakat, dan pendalaman interpretasi citra 2D serta 3D. Pada semester 6, fokus dialihkan pada pemantapan riset tesis, pendalaman RKG Forensik, serta kewajiban publikasi ilmiah di forum nasional maupun internasional.

Fleksibilitas pembelajaran juga didukung penuh oleh tim pengajar. Salah satu dosen homebase, drg. Rellyca Sola Gracea, Sp.RKG (K), yang saat ini sedang menempuh studi di Eropa, tetap menjalankan tugas pelayanannya sebagai Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) untuk instalasi gawat darurar (IGD) secara jarak jauh dengan memanfaatkan efisiensi perbedaan zona waktu.

Kehadiran PPDGS RKG mendapat apresiasi tinggi dari Dekan FKG UGM, Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D. Namun, di balik perkembangan pesat prodi muda ini, pimpinan memberikan catatan kritis terkait dinamika regulasi dan lanskap pendidikan kedokteran gigi nasional. Pemerintah berencana menambah sekitar 30 Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) baru di Indonesia. Rencana ekspansi ini menciptakan peluang karier akademis yang luas bagi para lulusan spesialis baru, namun di sisi lain menuntut adaptasi ketat pada aturan rasio bimbingan dosen-mahasiswa.

Dekan FKG UGM menyampaikan apresiasi mendalam atas akselerasi PPDGS RKG sekaligus memberikan arahan strategis terkait tantangan regulasi dan kebijakan pendidikan nasional.

“Saya sangat salut melihat Radiologi Kedokteran Gigi, berdiri pertama kali gerakannya begitu cepat dan prestasinya luar biasa. Walaupun paling muda di FKG, saya yakin kalau akreditasi pasti unggul. Tadi pagi diinformasikan bahwa akan ada tambahan 30 FKG baru lagi, sehingga Adik-adik sekalian berpeluang menjadi dosen. Tapi yang pusing saya sebagai Dekan, karena aturan membimbing mahasiswa sekarang semakin ketat dan meningkat. Saya sangat tertarik dengan penyusunan kurikulum, Bu Isti yang melibatkan stakeholder rumah sakit sebagai pengguna. Selama ini banyak prodi yang ditutup oleh kementerian karena dianggap tidak relevan lagi dengan kebutuhan masyarakat. Relevan atau tidak itu tergantung bagaimana prodi kreatif menghubungkannya dengan permasalahan di masyarakat. Kalau selalu dihubungkan, pasti ada benang merahnya.” Urai Prof. drg.Suryono

Sebagai wujud konkret penyelesaian masalah pemerataan tenaga spesialis, FKG UGM berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk menawarkan skema bantuan pembiayaan melalui Beasiswa LPDP. Tawaran ini diprioritaskan bagi residen jalur mandiri yang berkomitmen untuk ditempatkan di daerah-daerah yang membutuhkan.

“Bagi adik-adik yang diterima di semester ganjil ini dari program mandiri, kalau bersedia menerima beasiswa LPDP silakan mendaftar. Syaratnya, mau ditempatkan sesuai prioritas pemerintah. Ini sebagai exercise pengembangan beasiswa untuk dunia kedokteran gigi, dan akan terus kita perjuangkan.” tambah Prof. drg. Suryono

Integrasi antara kurikulum yang terhubung dengan kebutuhan rumah sakit, pemanfaatan riset teknologi pencitraan, serta dukungan beasiswa penempatan daerah menjadikan PPDGS RKG UGM sebagai pendorong utama transformasi pendidikan spesialis kedokteran gigi yang adaptif, terjangkau, dan berdampak langsung bagi masyarakat.

(Reporter: Andri Wicaksono, Photo: Fajar Budi Harsakti)

Tags

Share News

Related News
18 August 2026

SKDGI 2026 Pertajam Kompetensi Dokter Gigi

18 August 2026

FKG UGM Gelar SENSASI Spesial 81 Tahun Kemerdekaan RI, Perkuat Sinergi Akademisi Kesehatan Melalui Senam & Jalan Sehat

13 August 2026

SI-OBA: Ketika Angka Harus Membuktikan Kompetensi

en_US