Di ruang pelatihan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM), sebanyak 14 dokter gigi peminatan radiologi kedokteran gigi dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul. Mereka bukan sekadar mengikuti kursus teknis. Di balik layar pelatihan Advance Cone Beam Computed Tomography (CBCT) untuk dental implan ini, tersingkap persoalan fundamental, yakni: krisis tenaga spesialis radiologi kedokteran gigi & ketimpangan layanan kesehatan oral nasional.
Pelatihan batch ke-2 yang diselenggarakan Departemen Radiologi Kedokteran Gigi dan Dentomaksilofasial FKG UGM, bekerja sama dengan (Interdisciplinary Dentistry Skills Development Center) IDSDC dan Ikatan Radiologi Kedokteran Gigi Indonesia (IKARGI), menjadi semacam mikrokosmos masalah struktural pendidikan dan layanan kesehatan gigi Indonesia.
Ketua Panitia CBCT FKG UGM pada Februari 2026 Dr. drg. Rini Widyaningrum, M.Biotech dalam sambutannya mengatakan, untuk batch 1 sudah diselenggarakan di akhir tahun 2025 dengan peserta 19 orang. Untuk yang batch kedua pada Februari 2026 ini 14 orang. Diharapkan Pelatihan CBCT RKG di FKG UGM dapat berkelanjutan untuk ‘memotret’ perkembangan jaman dunia radiologi kedokteran gigi.

RADIOLOGI KEDOKTERAN GIGI: KOMPETENSI STRATEGIS YANG LANGKA
Dalam sambutan pembukaan, Dekan FKG UGM Prof. drg. Suryono, SH, MM, PhD, secara terbuka mengakui bahwa kebutuhan dokter gigi spesialis radiologi jauh dari terpenuhi, terutama di luar Jawa.
“Kebutuhan spesialis radiologi kedokteran gigi sangat kurang. Di daerah, akses layanan radiologi gigi masih menjadi persoalan serius,” ujar Suryono.
Pernyataan ini bukan basa-basi seremonial. Data internal pendidikan kedokteran gigi menunjukkan bahwa jumlah lulusan radiologi gigi tidak sebanding dengan laju pertumbuhan klinik, rumah sakit, dan teknologi pencitraan, terutama CBCT yang kini menjadi standar emas dalam perencanaan dental implan, bedah mulut, hingga endodontik kompleks.
Akibatnya, tidak sedikit fasilitas kesehatan yang mengoperasikan CBCT tanpa supervisi spesialis, mengandalkan interpretasi lintas disiplin yang tidak selalu memadai, atau bahkan menunda pelayanan karena ketiadaan tenaga yang kompeten.

CBCT BUKAN SEKADAR ALAT, TAPI TANGGUNG JAWAB KLINIS
Pelatihan ini menegaskan satu hal penting, CBCT bukan teknologi netral. Ia menuntut kompetensi klinis, etika, dan kolaborasi antarspesialis.
Narasumber utama, drg. M. Novo Perwira Lubis, Sp. R.K.G, Subsp. Rad.D. (K), yang juga Ketua IKARGI, menekankan bahwa radiolog gigi tidak lagi bisa berperan pasif sebagai “pembaca gambar”.
“Perencanaan implan adalah kompetensi radiolog. Kita tidak bisa hanya melihat tulang. Kita harus memahami kebutuhan prostodonti, periodonsia, dan bedah mulut. Inilah era kolaborasi digital dentistry,” tegas Novo.
Dalam sesi praktik, peserta diajak menyusun perencanaan implan berbasis prosthetic-driven planning, memanfaatkan penggabungan data dengan STL (intraoral scan), hingga penggunaan AI-assisted nerve tracing. Pendekatan ini menempatkan radiolog sebagai pengambil keputusan klinis strategis, bukan sekadar operator teknis.
Mayoritas peserta datang dari luar Yogyakarta: Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Bali, Jawa Barat, hingga rumah sakit daerah di Balikpapan dan Bandung.
Sebagian besar adalah residen atau praktisi yang harus menempuh perjalanan jauh untuk mengakses pelatihan mutakhir, menjadi sebuah indikator bahwa transfer pengetahuan masih tersentralisasi di kota-kota besar.
Suryono bahkan secara eksplisit menyebut perlunya prioritas afirmatif bagi putra daerah dalam pendidikan spesialis, sebuah pernyataan yang jarang terdengar lugas di forum akademik.
REGULASI, PENGAKUAN, DAN PERAN NEGARA
Pelatihan ini juga terhubung dengan sistem Satu Sehat Kementerian Kesehatan, termasuk unggahan materi, post-test, dan sertifikasi. Ini menandakan adanya upaya formalisasi kompetensi, namun sekaligus membuka pertanyaan:
Apakah regulasi dari Dikti–Kemenkes sudah cukup adaptif terhadap perkembangan digital dentistry?
Tanpa kebijakan afirmatif yang kuat, baik dalam bentuk beasiswa, kuota daerah, maupun percepatan pembukaan program studi, pelatihan semacam ini semoga tidak sekadar berlalu.

LEBIH DARI SEKADAR WORKSHOP
Pelatihan CBCT di FKG UGM bukan sekadar agenda akademik semata, hal ini menjadi penanda pergeseran paradigma, dari pendidikan sektoral menuju pendidikan kolaboratif,
Di tengah tuntutan teknologi yang kian canggih, pertanyaannya kini bukan lagi apakah Indonesia membutuhkan lebih banyak radiolog gigi, melainkan seberapa cepat negara mampu menjawab kebutuhan peran radiologi kedokteran gigi, sebelum kesenjangan semakin melebar..?
Reporter: Andri Wicaksono, Photographer: Fajar Budi Harsakti