Internasionalisasi pendidikan kedokteran gigi tidak lagi berhenti pada wacana. Selama lima hari, 19–23 Januari 2026, dua mahasiswa Program Profesi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) mengikuti Student Exchange Program di National University of Singapore (NUS), menyelami langsung praktik pendidikan dan layanan klinik di salah satu pusat akademik terkemuka Asia. Program ini menandai upaya konkret perguruan tinggi Indonesia memperkuat daya saing global melalui pengalaman belajar lintas negara.
Kedua mahasiswa FKG UGM : Nabila Amelia Putri dan Annisa Zahro Nugroho, didampingi dosen FKG UGM, Dr. drg. Sri Budi Barunawati, M.Kes., Sp.Pros.(K), mengikuti rangkaian kegiatan akademik yang padat: observasi klinik, kuliah mini, seminar tematik, diskusi problem-based learning (PBL), hingga pengenalan fasilitas pendidikan dan laboratorium NUS. Model pembelajaran ini memberi ruang bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung integrasi teori, etika klinik, dan teknologi dalam pelayanan kesehatan gigi di Singapura.
DARI RUANG KULIAH KE KLINIK
Sejak hari pertama, peserta diperkenalkan pada sistem keselamatan dan fasilitas pengajaran Fakultas Kedokteran Gigi NUS, sebelum memasuki sesi observasi di klinik tingkat sarjana dan profesi. Pada hari-hari berikutnya, mahasiswa bergantian mengamati praktik restorative dentistry, periodonsia, endodonti, prostodonsia lepasan, kedokteran gigi anak, hingga special care dentistry. Paparan lintas disiplin ini memperlihatkan bagaimana standar klinik, alur pelayanan pasien, serta pendekatan berbasis kasus diterapkan secara konsisten di lingkungan pendidikan internasional.
Selain observasi, mahasiswa mengikuti kuliah kedokteran internal, behavioral science, bedah mulut (OMS), serta seminar perencanaan perawatan komprehensif. Diskusi kasus dan PBL menjadi ruang dialog aktif, mendorong mahasiswa membandingkan pendekatan klinis di Singapura dengan praktik yang lazim di Indonesia sebuah proses reflektif yang krusial bagi pembentukan nalar klinik dan profesionalisme
MENJAJAKI KOLABORASI AKADEMIK
Program ini tidak hanya berorientasi pada pengalaman mahasiswa. Di sela kegiatan, dilakukan pertemuan akademik dengan Dr. Hu Shijia dari Departemen Prostodonsia NUS untuk membahas peluang kerja sama lanjutan, termasuk kemungkinan program clinical fellowship selama tiga tahun yang berujung pada sertifikasi profesi dari NUS sebuah skema yang menyerupai pendidikan spesialis di Indonesia. Peluang menghadirkan konsultan Prostodonsia NUS sebagai dosen tamu juga mengemuka sebagai bagian dari rencana tindak lanjut kolaborasi.
Bagi FKG UGM, penjajakan ini membuka pintu penguatan jejaring akademik dan riset, sekaligus memperkaya international exposure bagi mahasiswa kelas internasional. Interaksi dengan mahasiswa dan tenaga kesehatan dari berbagai negara antara lain: India, China, Australia, dan Indonesia memperluas perspektif lintas budaya yang kian relevan di era mobilitas global.
MENYIAPKAN PROFESIONAL KESEHATAN GLOBAL
Pendampingan dosen pembimbing berperan memastikan kesesuaian capaian pembelajaran dengan kurikulum asal, memantau perkembangan akademik dan etika, serta memfasilitasi peluang kolaborasi pascaprogram. Sementara itu, mahasiswa dituntut beradaptasi dengan budaya akademik baru, menjaga reputasi institusi, & mendiseminasikan pengalaman sepulang ke Tanah Air sebuah siklus pembelajaran yang menempatkan mahasiswa sebagai duta akademik UGM.
Di tengah tantangan globalisasi layanan kesehatan, program pertukaran seperti ini menegaskan pentingnya pengalaman langsung sebagai fondasi peningkatan kualitas pendidikan. Bagi mahasiswa FKG UGM, Singapura menjadi laboratorium belajar bukan sekadar tujuan untuk menumbuhkan kompetensi klinis, kepekaan budaya, dan jejaring internasional yang akan membentuk mereka sebagai tenaga profesional kedokteran gigi berdaya saing global.
(Kontributor: Dr. drg. Sri Budi Barunawati, M.Kes., Sp.Pros.(K), Redaksi: Andri Wicaksono, S.Sos., M.I.Kom)