News

/

Artikel, Latest News

Membaca Bayangan Kanker: Lima Modalitas Imejing yang Bisa Menentukan Hidup Mati Pasien

Separuh dari penderita kanker mulut di seluruh dunia tidak akan bertahan melewati lima tahun sejak diagnosis. Bukan karena kankernya tak bisa diobati, melainkan karena ketika akhirnya terdeteksi, sel-sel ganas itu sudah terlanjur menyebar jauh. Di sinilah imejing diagnostik masuk sebagai penentu nasib.

Dr. drg. Rini Widyaningrum, M.Biotech, dari Departemen Radiologi Dentomaksilofasial FKG UGM, bersama tim lintas disiplin dari Fakultas Kedokteran dan FMIPA UGM, menerbitkan tinjauan ilmiah komprehensif di Indonesian Dentistry Magazine (Vol. 4, No. 1, April 2018) yang menguraikan prinsip interpretasi kanker oral menggunakan lima modalitas imejing utama: radiografi konvensional, CT, CBCT, MRI, dan USG. Pesannya serius: dokter gigi yang tidak memahami cara membaca citra-citra ini sedang melewatkan jendela waktu yang sempit untuk menyelamatkan pasien.

Ketika Kanker Bersembunyi di Balik Bayangan Putih dan Hitam

Kanker oral bukan penyakit langka. Di Indonesia, ia menyumbang 3 hingga 4 persen dari seluruh kasus kanker. Mayoritas kasusnya, sekitar 84 hingga 97 persen, merupakan Karsinoma Sel Skuamosa (KSS) yang berkembang dari mutasi keratinosit di lapisan terdalam epitel mukosa mulut. Masalahnya, pada tahap awal, lesi ini hampir selalu asimtomatis. Pasien baru datang ke dokter saat tumor sudah besar, terasa sakit, atau mengganggu penampilan.

Radiografi konvensional, terutama foto panoramik, masih menjadi titik awal pemeriksaan di Indonesia karena biayanya terjangkau dan alat tersedia luas. Namun modalitas ini punya batas yang tidak bisa diabaikan: ia hanya merekam objek tiga dimensi menjadi citra dua dimensi, rentan superimposisi, dan tidak mampu mencitrakan jaringan lunak dengan baik.

Pada radiograf, cara paling dasar membedakan lesi jinak dari ganas adalah melihat tepi lesi. Lesi berbatas tegas (well defined) cenderung jinak. Sebaliknya, tepi yang tidak jelas dan invasif ke arah tulang trabekula sehat dengan pola finger-like or bay-type mencurigakan ke arah malignansi. Osteosarkoma bahkan bisa memperlihatkan gambaran khas sunburst or hair-on-end: spikula-spikula tipis tulang yang berdiri seperti bulu landak di area yang diserang tumor.

Teknologi CBCT hadir sebagai jalan tengah. Ia menawarkan citra tiga dimensi dengan paparan radiasi lebih rendah dari CT konvensional, dan akurasinya dalam mencitrakan tumor jaringan lunak setara dengan CT, MRI, bahkan bone scintigraphy. Namun CBCT tetap tidak bisa dipakai untuk memeriksa metastase pada limfonodi servikalis, sebuah keterbatasan yang krusial.

Ketebalan Lima Milimeter yang Mengubah Prognosis

MRI dan CT berbasis kontras (CECT) adalah dua modalitas yang paling sering digunakan untuk menentukan stadium kanker kepala-leher sekaligus merencanakan terapi. Keduanya mampu memvisualisasikan jaringan lunak, mendeteksi infiltrasi ke pembuluh darah, dan mengidentifikasi metastase di limfonodi.

Pada citra MRI, jaringan patologis umumnya tampak hypointense pada sekuen T1-weighted (karena kandungan airnya lebih tinggi dari jaringan sehat) dan hyperintense pada T2-weighted. Untuk kanker lidah, MRI bisa mengukur ketebalan tumor, sebuah informasi yang ternyata menjadi prediktor kritis.

Penelitian menunjukkan bahwa ketebalan tumor lidah berkorelasi langsung dengan risiko metastase ke limfonodi servikalis dan risiko rekurensi. Tumor dengan ketebalan di bawah 3 mm memiliki insidensi rekurensi yang rendah dan tingkat kesembuhan yang masih baik. Namun tumor dengan ketebalan lebih dari 9 mm membawa probabilitas rekurensi sebesar 24 persen, dan angka bertahan hidup lima tahun pada kondisi ini hanya 66 persen.

“Diagnosis yang tepat akan menentukan jenis terapi yang paling efektif bagi pasien, yang selanjutnya dapat meningkatkan prognosis dan survival rate penderitanya.” — Dr. drg. Rini Widyaningrum, M.Biotech, dkk., Majalah Kedokteran Gigi Indonesia, 2018

CT memiliki keunggulan tersendiri: ia sangat sensitif mendeteksi invasi kanker pada tulang kortikal, karena erosi atau diskontinyuitas tepian tulang tampak sangat jelas. Sebaliknya, MRI lebih unggul untuk mengevaluasi invasi ke sumsum tulang dan mendeteksi keterlibatan perineural, dua hal yang tidak bisa dilihat dengan baik oleh CT.

USG: Modalitas Murah yang Masih Terabaikan

Di antara semua modalitas yang dibahas, USG mungkin yang paling underutilized di Indonesia. Padahal ia punya sejumlah keunggulan yang sulit diabaikan: tidak menghasilkan radiasi pengion, biaya relatif terjangkau, tidak terpengaruh artefak logam dari restorasi gigi, dan bisa dilakukan berulang tanpa efek samping.

Pada sonogram, kanker lidah dan mukosa bukal tampak hypoechoic (gelap), sementara ameloblastoma pada tulang rahang tampak hyperechoic (terang). USG intraoral bahkan bisa mengukur ketebalan kanker lidah menggunakan probe linear berfrekuensi 7 hingga 18 MHz, memberikan informasi yang setara dengan MRI untuk parameter tersebut.

Untuk deteksi metastase di limfonodi servikalis, USG menunjukkan sensitivitas 86 persen dan spesifisitas 73 persen dibandingkan hasil histopatologis. Bahkan, kombinasi USG dengan CT terbukti memberikan hasil terbaik pada pemeriksaan metastase limfonodi. Namun kenyataannya, sangat sedikit radiolog kedokteran gigi di Indonesia yang terampil menggunakan USG untuk pemeriksaan penyakit oral.

Peta Jalan yang Belum Selesai Digambar

Tidak ada satu pun modalitas imejing yang sempurna untuk semua kondisi. Radiografi konvensional dan CBCT cocok sebagai langkah awal dan terjangkau, tetapi tidak cukup untuk tumor besar atau pemeriksaan metastase limfonodi. CT unggul di jaringan keras dan cepat dalam akuisisi citra. MRI terbaik untuk jaringan lunak dan tanpa radiasi. USG ideal untuk skrining awal dan pengukuran ketebalan tumor, tanpa risiko radiasi sama sekali.

Penetapan stadium menggunakan sistem TNM, yang mengklasifikasikan ukuran tumor (T), keterlibatan limfonodi (N), dan metastase jauh (M), menjadi acuan untuk menentukan terapi. Kanker stadium I dan II umumnya cukup dengan pembedahan atau radioterapi. Stadium III dan IV memerlukan kombinasi bedah, radioterapi, dan kemoterapi.

Yang mengkhawatirkan: mayoritas pasien kanker oral di Indonesia baru datang pada stadium lanjut. Artinya, jendela emas untuk terapi tunggal sudah terlewat. Deteksi dini, yang sangat bergantung pada pemahaman dokter gigi terhadap citra imejing, adalah satu-satunya cara menggeser angka itu.

Setiap foto rontgen yang dibaca dokter gigi, setiap bercak putih di tulang rahang yang tampak aneh, setiap tepi lesi yang tidak tegas di panoramik, bisa jadi pintu masuk untuk menyelamatkan seseorang dari statistik yang muram itu.

Sumber DOI : DOI: http://doi.org/10.22146/majkedgiind.22050

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Share News

Related News
20 July 2026

Hubungan Kesehatan dan Integritas

20 July 2026

FKG UGM ‘Bedah’ Kurikulum & Tantangan Regulasi Baru Penyelenggaraan Pendidikan Dokter Gigi Spesialis (Sp-2)

20 July 2026

Ketika Tikus Transgenik Membuka Jendela Baru Memahami Kanker Mulut

en_US