News

/

Latest News

Melampaui Kursi Dental, Memaknai Arti Profesi

Kelulusan sering dipahami sebagai puncak. Padahal, bagi para dokter gigi muda di FKG UGM, kelulusan justru adalah pintu masuk menuju tanggung jawab yang terjal & lebih panjang.

Di sebuah ruang pembekalan menjelang internship, nada yang mengemuka bukan euforia, melainkan kesadaran. Prof. Rosa, dalam sambutannya, mengingatkan bahwa pelantikan bukanlah garis akhir. “Ini awal,” ujarnya. Awal untuk berhadapan dengan realitas pelayanan kesehatan gigi Indonesia: ketimpangan akses, kompleksitas kasus, dan kebutuhan empati yang tak tercatat dalam angka.

Internship, ditegaskannya, bukan sekadar tahap administratif menuju praktik mandiri. Ia adalah ruang belajar memahami manusia dalam konteks sosialnya. Di sanalah ilmu yang selama ini terbingkai laboratorium dan klinik kampus, bertemu dengan wajah masyarakat yang sesungguhnya.

Krisis dan Titik Balik

Narasumber berikutnya, drg. Yohanes Robertson Hasta Pustaka, Sp.Pros membuka perspektif yang lebih luas. Dokter gigi spesialis prostodonsia itu memulai dengan pertanyaan sederhana: Apakah semua dokter gigi harus selamanya duduk di hadapan kursi dental unit?

Pertanyaan itu lahir dari pengalaman personal. Lulus dan menempuh pendidikan spesialis di kampus yang sama, Robertson menjalani praktik klinis sebagaimana lazimnya. Namun pandemi Covid-19 menjadi jeda yang tak direncanakan. Klinik membatasi layanan, aktivitas akademik tersendat, dan ketidakpastian menyelimuti.

Di tengah situasi itu, ia mengambil langkah yang tidak linear, masuk ke manajemen holding company keluarga yang membawahi klinik estetik, industri kosmetik, hingga pariwisata. Dari ruang praktik, ia berpindah ke ruang rapat.

Salah satu unit usaha yang ia tangani kala itu berada dalam kondisi merugi. Strategi lama yang bergantung pada pola pemasaran konvensional tak lagi memadai. Ia mengubah pendekatan, dari meniru kompetitor menjadi memahami pelanggan, digitalisasi pemasaran, media sosial, hingga digitalisasi penjualan dijadikan tumpuan. Hasilnya, dalam beberapa tahun, merek tersebut bangkit dan memperluas jangkauan pasar.

Kisah itu bukan sekadar tentang keberhasilan bisnis. Ia adalah refleksi tentang kesiapan membaca peluang di tengah krisis.

“Keberuntungan bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Ia muncul ketika kesempatan bertemu kesiapan,” ujarnya.

Fondasi yang Tak Terlihat

Bagi sebagian kalangan, meninggalkan praktik klinis setelah menempuh pendidikan panjang mungkin dianggap sia-sia. Robertson mengakui sempat bergulat dengan pertanyaan serupa. Namun ia melihat pendidikan kedokteran gigi bukan sekadar bekal teknis.

Ketekunan menyelesaikan kasus, disiplin prosedur, empati terhadap pasien, serta ketahanan mental menghadapi tekanan, semuanya membentuk fondasi karakter. Dalam dunia manajemen dan bisnis, keterampilan itu justru menjadi modal penting.

“Profesi adalah fondasi, bukan batasan,” katanya.

Pesan itu menemukan relevansinya di hadapan para lulusan yang sedang berada di persimpangan. Sebagian mungkin akan melanjutkan studi spesialis, sebagian membuka praktik, sebagian lainnya meniti karier akademik. Tidak tertutup kemungkinan ada yang memilih jalur berbeda.

Dalam sesi tanya jawab, muncul pertanyaan tentang waktu ideal mengevaluasi karier dan cara mengenali peluang yang layak diperjuangkan. Jawaban yang diberikan tidak normatif. Ia tidak menyebut angka pasti, melainkan prinsip: pahami risiko terburuknya, dan tanyakan pada diri sendiri apakah siap menerimanya.

Integritas dan Generasi Baru

Di tengah derasnya arus digital dan budaya instan, ia mengingatkan pentingnya integritas. Gaya hidup, gengsi, hingga godaan keuntungan cepat, termasuk fenomena judi daring dan pinjaman digital disebutnya sebagai jebakan yang dapat merusak fondasi profesional muda.

Pembekalan pagi itu akhirnya bukan hanya tentang teknis internship atau opsi studi lanjut. Ia menjadi ruang refleksi tentang makna profesi. Bahwa dokter gigi tidak semata-mata identik dengan kursi dental, melainkan dengan kapasitas memecahkan masalah, di mana pun ia berada.

UGM, tegas Robertson, tidak hanya mencetak dokter gigi, namun membentuk karakter problem solver.

Bagi para lulusan yang akan segera terjun ke lapangan, pesan itu mungkin akan menemukan maknanya kelak di ruang praktik sederhana di daerah, di laboratorium riset, atau bahkan di ruang-ruang manajemen yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Kelulusan memang sebuah capaian. Tetapi seperti pagi itu mengajarkan, yang lebih penting adalah bagaimana seseorang membaca peluang, menjaga integritas, dan terus bertumbuhmelampaui kursi dental, tanpa kehilangan makna pengabdian.

Reporter: Andri Wicaksono, Photographer: Fajar Budi Harsakti

Tags

Share News

Related News
27 February 2026

Departemen Radiologi Kedokteran Gigi FKG UGM Siap Dukung Ekspansi Pengembangan Layanan RSA UGM

27 February 2026

Dua Tim FKG UGM Borong Juara di IMUNITY 2026, Wujud Ketangguhan Akademik FKG UGM di Kancah Nasional

23 February 2026

Prodi Kedokteran Gigi UNP Belajar ke FKG UGM: Merintis Prodi Kedokteran Gigi dengan Semangat Tak Kunjung Padam

en_US