Bayangkan seorang pasien kanker payudara berusia 60-an yang telah menjalani kemoterapi dan konsumsi bisfosfat selama berbulan-bulan. Ia mengeluhkan mulut kering yang tak kunjung membaik, lalu muncul rasa nyeri di rahang, bau tidak sedap, dan akhirnya terdeteksi tulang yang terekspos di rongga mulutnya. Kondisi itu bukan komplikasi biasa itulah osteonecrosis rahang terkait obat, atau yang dikenal sebagai medication-related osteonecrosis of the jaw(MRONJ). Dan pertanyaan yang kini mulai dijawab para peneliti adalah: apakah perubahan pada air liur selama terapi obat menjadi penanda awal sekaligus pemicu kondisi serius itu?
Pertanyaan inilah yang mendorong drg. Isti Rahayu Suryani, M.Biotech., Sp.RKG, Subsp.RDP(K), Ph.D., bersama tim peneliti dari KU Leuven, Belgia, untuk melakukan tinjauan sistematis yang diterbitkan di jurnal Frontiers in Medicine pada Agustus 2023. Penelitian ini menjadi yang pertama secara khusus menelaah hubungan antara perubahan saliva yang dipicu obat-obatan dan risiko berkembangnya MRONJ.
Obat Kanker, Mulut Kering, dan Tulang yang Mati Perlahan
MRONJ bukan kondisi yang mudah diabaikan. Secara klinis, ia didefinisikan sebagai tulang nekrotik yang terekspos di regio maksilofasial dan bertahan lebih dari delapan minggu, tanpa riwayat radioterapi. Kondisi ini paling sering dijumpai pada pasien onkologi yang mengonsumsi obat antiresorptif seperti bisfosfat dan denosumab, obat antiangiogenik, imunomodulator, serta imunosupresan. Pasien dengan mieloma multipel dan osteoporosis termasuk yang paling rentan.
Tim peneliti menyisir empat basis data ilmiah PubMed, Web of Science, Cochrane, dan Embase dan menemukan 765 studi. Setelah proses seleksi ketat menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi yang terstandar berdasarkan panduan PRISMA, hanya 10 artikel yang memenuhi syarat untuk dianalisis secara kualitatif. Dari 10 studi itu, tercatat total 272 kasus MRONJ 35 persen perempuan, 32 persen laki-laki, dan sisanya tidak dilaporkan jenis kelaminnya dengan rerata usia diagnosis 66 tahun.
Kanker payudara menjadi penyakit primer terbanyak (57 kasus), sementara hipertensi adalah komorbiditas yang paling sering menyertai (107 kasus). Bisfosfat mendominasi daftar obat penyebab mencakup lebih dari 85 persen kasus diikuti kemoterapi dan kortikosteroid.
Saat Saliva Berubah, Rahang Menanggung Akibatnya
Saliva bukan sekadar cairan pembasah mulut. Ia adalah sistem pertahanan biologis yang menjaga keseimbangan oral: meremineralisasi gigi, menetralisir asam, menghambat pertumbuhan mikroorganisme berbahaya, dan memfasilitasi proses bicara serta menelan. Ketika produksinya terganggu, efek domino pun dimulai.
Hasil tinjauan ini mengungkap dua jalur utama yang menghubungkan perubahan saliva dengan MRONJ. Pertama adalah penurunan aliran saliva (hiposalivasi). Pasien yang mengonsumsi bisfosfat, steroid, kemoterapi, thalidomide, interferon, dan terapi hormon menunjukkan asosiasi yang signifikan antara berkurangnya laju aliran saliva dan kejadian MRONJ. Xerostomia sensasi mulut kering kronis sering kali dipicu oleh sindrom Sjögren yang muncul sebagai efek samping obat. Pada pasien dengan sindrom ini, prevalensi karies gigi dua kali lebih tinggi dan risiko infeksi Candida albicans sepuluh kali lipat dibanding populasi umum.
Jalur kedua, yang lebih kompleks, melibatkan perubahan komposisi protein dan profil biologis saliva. Bisfosfat, denosumab, dan agen pengubah tulang lainnya terbukti mengubah profil mikrobioma saliva, meningkatkan sitokin pro-inflamasi seperti IL-6, IL-1α, IL-1β, dan TNF-α, serta meningkatkan konsentrasi matrix metalloproteinase (MMP8 dan MMP9). Selain itu, senyawa hipotaurin ditemukan meningkat pada pasien MRONJ dan berpotensi menjadi penanda deteksi dini. Ekspresi gen RBMS3 protein pengikat RNA yang berperan dalam metabolisme kolagen juga berkorelasi signifikan dengan kejadian MRONJ.
“Pengurangan aliran saliva dan perubahan konsentrasi protein saliva berkaitan dengan berkembangnya MRONJ. Namun, mengingat terbatasnya bukti yang tersedia, temuan tinjauan ini harus diinterpretasikan dengan hati-hati.” drg. Isti Rahayu Suryani, M.Biotech., Sp.RKG, Subsp.RDP(K), Ph.D., dan tim, Frontiers in Medicine, 2023
Polifarmasi: Ketika Kombinasi Obat Memperburuk Segalanya
Satu temuan yang cukup mengejutkan adalah peran polifarmasi — konsumsi lima obat atau lebih secara bersamaan. Kondisi ini ditemukan sebagai prediktor signifikan untuk xerostomia, terlepas dari usia dan jenis kelamin pasien. Prevalensi xerostomia dan MRONJ pada kelompok polifarmasi hampir tiga kali lebih tinggi dibanding mereka yang tidak mengonsumsi obat apapun. Bahkan, xerostomia tercatat sebagai efek samping pada 80 hingga 100 persen pasien dalam kelompok ini.
Mekanismenya beragam: obat sitotoksik merusak kelenjar saliva secara langsung, obat antikolinergik mengganggu stimulasi saraf untuk sekresi saliva, sementara diuretik mendorong dehidrasi sistemik. Mayoritas obat juga menekan aliran saliva melalui vasokonstriksi pada kelenjar saliva itu sendiri.
Diabetes melitus turut memperkuat rantai risiko ini. Kadar gula darah yang kronik tinggi mengganggu fungsi parasimpatis dan sekresi saliva. Pada pasien hiperglikemik, risiko MRONJ ditemukan secara signifikan lebih tinggi dibanding mereka dengan kadar glukosa normal.
Saliva Sebagai Jendela Diagnostik Masa Depan
Kekuatan utama tinjauan ini terletak pada satu gagasan yang selama ini luput dari perhatian: bahwa saliva, sebagai spesimen non-invasif yang mudah dikumpulkan, bisa menjadi jendela diagnostik untuk mendeteksi MRONJ lebih awal. Dengan berkembangnya bidang salivaomics, berbagai biomarker saliva kini berpotensi menggantikan pemeriksaan darah dalam memantau progresi penyakit.
Para peneliti merekomendasikan agar spesimen saliva dikumpulkan sebelum dan sesudah berkembangnya MRONJ untuk memvalidasi biomarker yang paling andal. Namun mereka juga mengakui keterbatasan tinjauan ini: jumlah studi yang memenuhi syarat masih sangat terbatas, ukuran sampel kecil, dan metodologi pengumpulan saliva antar studi tidak seragam sehingga meta-analisis pun tidak dapat dilakukan.
Pertanyaan yang belum terjawab juga masih banyak: apakah menghentikan sementara obat penyebab (drug holiday) benar-benar mengurangi risiko MRONJ? Bukti yang ada masih kontradiktif. Panduan klinis yang komprehensif tentang strategi alternatif terapi pun belum tersedia.
Yang pasti, bagi pasien kanker atau osteoporosis yang menjalani terapi jangka panjang, mulut kering bukan keluhan sepele yang bisa ditunda pemeriksaannya. Ia bisa jadi sinyal pertama dari sesuatu yang jauh lebih serius dan air liur, cairan yang sering kita anggap remeh, mungkin menyimpan jawaban yang selama ini kita cari.
Sumber DOI : http://DOI 10.3389/fmed.2023.1164051
Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels