Wacana kesetaraan dan inklusivitas di ranah pendidikan tinggi Indonesia kini memasuki babak baru yang lebih substantif. Universitas Gadjah Mada (UGM) memelopori diskusi kritis mengenai pentingnya merombak sistem pendidikan kedokteran dan kesehatan agar ramah terhadap individu neurodivergent seperti spektrum autisme, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), hingga Obsessive-Compulsive Disorder (OCD).
Melalui forum akademis Studium Generale di UGM, Prof. Dr. drg. Rosa Amalia, M.Kes dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM menegaskan perlunya penyusunan panduan penerimaan dan pembelajaran yang adaptif. Hal ini ditujukan agar syarat fisik maupun batasan neurodiversitas tidak lagi menjadi dinding penghalang bagi calon akademisi dan praktisi medis berkebutuhan khusus.
“Saat ini kita di-encourage untuk memberlakukan pendidikan yang inklusif. Diharapkan kita tidak lagi menolak adanya persyaratan disabilitas, melainkan memiliki panduan yang jelas agar mereka memahami persyaratan serta kompetensi yang diperlukan untuk menjadi seorang tenaga medis,” ungkap Prof. Rosa.
Prof. Rosa mengaitkan fenomena ini dengan representasi pop-kultur dalam drama The Good Doctor, yang menampilkan sosok dokter bedah autis dengan savant syndrome. Menurutnya, gambaran tersebut memberikan pesan riil bahwa individu dengan spektrum autisme mampu memiliki kapasitas klinis dan intelektual luar biasa jika diberikan ruang serta skema pendidikan yang tepat.
Menanggapi tantangan tersebut, pakar antropologi biologis UGM, Prof. Dr. drg. Etty Indriati, Ph.D., memaparkan analisis mendalam mengenai landasan ilmiah neurodiversitas. Prof. Etty menegaskan bahwa kondisi neurodivergent sama sekali bukanlah sebuah gangguan (disorder) atau penyakit mental, melainkan bentuk variasi biologis normal dalam jejak evolusi otak manusia.
“Orang-orang yang mengalami neurodivergent itu bukan disorder, tetapi secara evolusi adalah variasi biologis yang normal dengan konektivitas otak yang hypoactive atau hyperactive. Mayoritas dari mereka memiliki kemampuan kognitif di atas rata-rata, tetapi tidak mempunyai kesempatan untuk diterima dalam lingkungan sosial yang didesain bukan untuk mereka,” tegas Prof. Etty.
Secara neurosains, pola konektivitas saraf pada individu neurodivergent bekerja pada empat jaringan utama otak: default mode network, salience network, affective network, and cognitive control network. Perbedaan kecepatan konektivitas ini melahirkan lompatan kognitif yang unik. Prof. Etty mencatat bahwa sekitar 20% populasi dunia berada dalam spektrum ini. Bahkan, berbagai terobosan teknologi modern di Silicon Valley hingga inovasi keanekaragaman seni dunia lahir dari ketajaman fokus (hyperfocus), pola pikir visual (thinking in pictures), serta kemampuan memecahkan masalah secara out-of-the-box dari individu neurodivergent.

Meski memiliki keunggulan kognitif, tantangan terbesar individu neurodivergent justru bersumber dari kekakuan norma sosial (social rules). Sistem pendidikan konvensional sering kali gagal mengenali hambatan fungsi eksekutif (executive dysfunction) dan sensitivitas sensoris (sensory sensitivity) yang dialami mahasiswa neurodivergent. Guna mengikis ketimpangan tersebut dan mentransformasi potensi mahasiswa neurodivergent, Prof. Etty menawarkan kerangka kerja operasional yang komprehensif bagi perguruan tinggi.
“Untuk bisa menolong, kita harus terlebih dahulu memiliki pengetahuan dan memahami akar permasalahannya. Ketika kita sudah memiliki literasi dan kosakatanya, baru kita dapat menciptakan lingkungan yang neuro-friendly,” pungkas Prof. Etty
Langkah yang diusung FKG UGM ini menandai pergeseran penting dalam dunia pendidikan kedokteran gigi. Paradigma medis konvensional yang memandang perbedaan sebagai kelainan, menuju pendekatan inklusif yang menghargai variasi otak manusia sebagai aset intelektual demi kemajuan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan.
(Reporter: Andri Wicaksono, Nanda, Annisa. Foto: Fajar Budi Harsakti)