Tidak semua anak memulai hidup dengan kondisi yang sama. Sebagian lahir membawa celahdi bibir, di langit-langit mulut, dan sering kali juga di kesempatan. Namun, di sebuah rumah sakit daerah di Lombok Timur, awal Februari lalu, sekelompok anak perlahan menemukan kembali sesuatu yang sederhana tetapi mendasar yakni, senyum yang merekah..
Selama beberapa hari, ruang operasi RSUD dr. R. Soedjono, Selong, Kabupaten Lombok Timur, NTB menjadi saksi perjumpaan antara keterbatasan dan harapan. Sebanyak 16 pasien, sebagian besar bayi dan anak balita, menjalani operasi celah bibir dan lelangit secara gratis pada 5-8 Februari 2026 melalui kerja sama RSUD dr. R. Soedjono, Smile Train, Yayasan Senyum Harapan Nusantara, dan Program Studi Bedah Mulut dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) yang diawaki oleh dosen: drg. Cahya Yustisia Hasan, Sp.B.M.Mf.,Subsp.C.O.Mf. & drg. Yosaphat Bayu Rosanto, Sp.B.M.Mf.,Subsp.I.G.Mf. Residen : drg. R. Sonny Sonny Aditya Santosa Setjadiningrat, drg. drg. Tresy Charlotte Marito, drg. Agatha Rufina Putriyanti, drg. Gilang Satriya Wastubrata. Alumni BMM UGM : drg. M. Bakhrul Lutfianto, Sp.B.M.Mf., Subsp.C.O.Mf. drg. Sumardi Yahya, Sp.B.M.Mf. drg. Linda, Sp.B.M.Mf. drg. Yahul Mazfar, Sp.B.M.Mf. drg. Kukuh Adhi Nastiti, Sp.B.M.Mf bersinergi dalam bakti sosial dengan misi mengembalikan senyum 16 pasien di Selong, Lombok Timur, NTB. Bagi keluarga pasien, tindakan medis itu bukan sekadar prosedur bedah, namun menumbuhkan harapan untuk senyum menyapa semesta.
Akses Kesehatan Terbatas
Celah bibir dan lelangit merupakan kelainan bawaan yang masih dijumpai di berbagai wilayah Indonesia, terutama di daerah dengan keterbatasan layanan spesialis. Tanpa penanganan, kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan makan, berbicara, hingga perkembangan psikososial anak.
Di Lombok Timur, jarak, biaya, dan keterbatasan fasilitas kerap menjadi penghalang bagi keluarga untuk mengakses layanan bedah lanjutan. Karena itu, kehadiran tim medis lintas lembaga menjadi lebih dari sekadar program bakti sosial, kehadirannya menjelma menjadi jembatan antara kebutuhan dan pelayanan.

Kerja Senyap di Balik Meja Operasi
Rangkaian kegiatan diawali dengan screening medis pada Kamis (5/2/2026). Setiap pasien diperiksa secara menyeluruh untuk memastikan kesiapan operasi, terutama bagi bayi berusia beberapa bulan. Tim kemudian menentukan teknik bedah yang paling sesuai, menyesuaikan kondisi anatomi dan riwayat pasien.
Operasi dilakukan sepanjang Jumat (6/2/2026), sejak pagi hingga malam. Beragam teknik diterapkan, mulai dari labioplasti Millard, Tennison Randall, dan Barsky, hingga palatoplasti two flap dan Furlow. Semua dilakukan dengan prinsip patient-centered care, menempatkan keselamatan dan kebutuhan pasien sebagai pusat keputusan medis. Di sela-sela jadwal panjang, tim medis tetap melakukan kunjungan pascaoperasi untuk memastikan setiap pasien melewati fase pemulihan awal dengan aman.

Belajar, Berbagi, dan Menjaga Mutu
Kegiatan ini juga menjadi ruang penting pembelajaran klinis. Dosen, residen, dan alumni Bedah Mulut dan Maksilofasial FKG UGM bekerja bersama, berdiskusi kasus, dan berbagi pengalaman lapangan. Kolaborasi dengan rumah sakit daerah memperkuat jejaring layanan sekaligus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia kesehatan. Pendekatan ini mencerminkan upaya jangka panjang: bukan hanya menyelesaikan kasus hari ini, tetapi membangun sistem yang lebih tangguh untuk esok.
Penyuluhan Kesehatan
Operasi bukan akhir dari perjalanan. Pada Sabtu (7/2/2026), tim menggelar penyuluhan kesehatan bagi keluarga pasien, membahas perawatan pascaoperasi, pentingnya kontrol berkelanjutan, serta dukungan nutrisi dan psikososial.
Bagi para orangtua, pengetahuan ini menjadi bekal menghadapi masa depan anak mereka. Di ruang perawatan, seorang ibu menggendong bayinya yang masih tertidur dengan jahitan halus di bibirnya. “Yang penting nanti dia bisa makan dan bicara dengan baik,” ujarnya singkat.

Menjaga Harapan Tetap Hidup
Di balik statistik dan laporan kegiatan, bakti sosial ini menyisakan pengingat bahwa akses kesehatan masih belum merata. Bahwa bagi sebagian warga, senyum anak bukan sesuatu yang datang dengan mudah.
Di Selong, Lombok Timur, senyum-senyum itu mulai kembali. Perlahan, satu per satu. Dari Selong, harapan tumbuh bahwa sejauh apa pun adanya celah, selalu bisa dipersatukan ketika kepedulian & keahlian bersinergi untuk menemukan jalannya.
(Redaksi: Andri Wicaksono, Foto: Arsip Departemen Bedah Mulut & Maksilofasial FKG UGM)