Satu dari sepuluh lansia Indonesia tidak punya satu pun gigi tersisa. Angka itu mungkin terdengar seperti statistik biasa, sampai Anda membaca apa yang ditemukan Rieski Prihastuti, S.Kp.G., MPH., Ph.D., peneliti dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, bersama tim dari Tokushima University, Jepang. Dalam sebuah studi yang terbit di jurnal internasional INQUIRY: The Journal of Health Care Organization, Provision, and Financing pada 2025, mereka menemukan bahwa kondisi ompong total, yang dalam istilah medis disebut edentulisme, bukan sekadar soal estetika atau kemampuan mengunyah. Kondisi ini berkaitan erat dengan kemunduran fungsi fisik tubuh secara keseluruhan, dan risikonya berbeda-beda tergantung usia.
Penelitian ini menggunakan data dari Indonesian Family Life Survey gelombang kelima (IFLS-5) tahun 2014-2015, yang mencakup 2.554 lansia berusia 60 tahun ke atas dari 13 provinsi di Indonesia. Hasilnya cukup mengejutkan: 280 orang atau sekitar 10,96 persen dari total responden mengalami edentulisme.
Makin Tua, Makin Banyak Gigi yang Hilang
Pola yang ditemukan tim peneliti cukup konsisten. Pada kelompok usia 60 hingga 69 tahun, prevalensi edentulisme berada di angka 7,68 persen. Angka itu melonjak hampir dua kali lipat pada kelompok 70 hingga 79 tahun, yakni 17,39 persen. Dan pada mereka yang berusia 80 tahun ke atas, hampir seperempat responden, tepatnya 23,58 persen, tidak lagi memiliki gigi sama sekali.
Yang lebih penting dari sekadar angka prevalensi adalah temuan soal hubungannya dengan kondisi fisik. Peneliti mengukur fungsi fisik melalui tiga aspek: performa fisik menggunakan uji berdiri dari kursi sebanyak lima kali (5-time chair stand test), kemampuan fungsional melalui penilaian kemandirian dalam aktivitas harian (Activities of Daily Living/ADL dan Instrumental Activities of Daily Living/IADL), serta massa otot rangka (appendicular skeletal muscle mass/ASM).
Pada kelompok usia 60 hingga 69 tahun, lansia dengan performa fisik rendah, yaitu mereka yang membutuhkan waktu lebih dari 12 detik untuk berdiri dari kursi sebanyak lima kali, memiliki risiko mengalami edentulisme dua kali lebih besar dibandingkan mereka yang performanya normal (OR 2,02). Artinya, seseorang yang sudah mulai kesulitan bergerak di usia 60-an cenderung lebih rentan kehilangan seluruh giginya.
Pada kelompok usia 70 hingga 79 tahun, gambarannya makin kompleks. Selain performa fisik rendah (OR 1,62), ketergantungan pada satu aktivitas harian pun sudah cukup meningkatkan risiko edentulisme (OR 1,75). Sedangkan pada kelompok usia 80 tahun ke atas, yang paling menonjol adalah ketergantungan pada dua aktivitas harian atau lebih, yang risikonya meningkat drastis hingga empat kali lipat (OR 4,02).
Lingkaran Setan yang Perlu Diputus
Mengapa orang yang fungsi fisiknya menurun lebih mudah kehilangan gigi? Jawabannya tidak sederhana, tapi logis.
Ketika otot melemah dan kemampuan bergerak berkurang, seseorang menjadi lebih sulit menjaga kebersihan mulut secara mandiri, menyikat gigi, berkumur, bahkan sekadar pergi ke dokter gigi. Kebersihan mulut yang buruk meningkatkan risiko penyakit periodontal atau radang jaringan pendukung gigi, yang pada akhirnya menyebabkan gigi tanggal satu per satu. Sebaliknya, gigi yang hilang membuat kemampuan mengunyah terganggu, asupan gizi memburuk, dan kondisi tubuh semakin merosot.
“Temuan ini menegaskan pentingnya mempertahankan gigi asli dan meningkatkan kesehatan mulut selama proses penuaan, terutama bagi individu dengan keterbatasan fungsi fisik.”
Demikian simpulan yang ditulis tim peneliti dalam makalah mereka, yang sekaligus menjadi pengingat bahwa kesehatan gigi bukan urusan terpisah dari kesehatan tubuh secara umum.
Menariknya, peneliti juga menemukan bahwa hubungan antara fungsi fisik dan edentulisme tidak berlaku linear di semua kelompok usia. Pada kelompok 80 tahun ke atas, kaitan langsung antara performa fisik dan edentulisme justru tidak signifikan secara statistik. Peneliti menduga ini karena pada usia sangat lanjut, kondisi kronis yang sudah ada sejak lama lebih mendominasi, sehingga hubungan spesifik antara fungsi fisik dan kondisi gigi menjadi lebih sulit diidentifikasi.
Data Nasional yang Bicara Lebih Keras
Kekuatan penelitian ini terletak pada skala datanya. IFLS-5 adalah survei berskala nasional yang dilakukan secara acak di 13 provinsi Indonesia, mencakup lebih dari 30.000 rumah tangga. Dari data besar itu, tim peneliti memilih 2.554 responden lansia yang datanya lengkap, jauh melampaui batas minimum sampel yang diperlukan untuk studi jenis ini.
Rieski Prihastuti, yang juga merupakan staf pengajar di Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Pencegahan dan Kesehatan Gigi Masyarakat (IKGP dan KGM) FKG UGM, merancang analisis ini bersama tim dari Jepang. Penelitian ini dikerjakan dalam kerangka kerja sama akademik antara FKG UGM dan Graduate School of Biomedical Sciences, Tokushima University.
Tentu ada keterbatasan yang diakui para peneliti sendiri. Data edentulisme bersifat self-reported, artinya berdasarkan jawaban responden atas pertanyaan “Apakah Anda telah kehilangan semua gigi?”, bukan hasil pemeriksaan klinis langsung. Desain studi potong lintang (cross-sectional) juga tidak bisa membuktikan hubungan sebab-akibat secara definitif. Para peneliti menyarankan agar studi lanjutan menyertakan pemeriksaan mulut langsung, data penggunaan gigi tiruan, dan informasi tentang jumlah gigi fungsional yang tersisa.
Gigi Bukan Sekadar Alat Kunyah
Penelitian ini membawa pesan yang lebih luas dari sekadar angka. Selama ini, perawatan gigi sering dianggap kebutuhan sekunder, sesuatu yang bisa ditunda ketika kondisi keuangan atau akses terbatas. Padahal, bagi lansia, kehilangan seluruh gigi bisa menjadi penanda dan sekaligus pemicu kemunduran fisik yang lebih serius.
Intervensi komprehensif yang menyasar sekaligus fungsi fisik dan kesehatan mulut, itulah yang disarankan tim peneliti sebagai langkah konkret untuk meningkatkan kualitas hidup lansia. Bukan program terpisah untuk “bagian tubuh” yang berbeda, melainkan pendekatan terpadu yang memahami tubuh manusia sebagaimana adanya: satu kesatuan yang utuh.
Di negara dengan populasi lansia yang terus bertumbuh seperti Indonesia, pertanyaan tentang siapa yang akan merawat kesehatan gigi mereka, dan apakah mereka masih mampu merawat dirinya sendiri, menjadi semakin mendesak untuk dijawab.
Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam
Photo: Freepik
Sumber DOI: https://doi.org/10.1177/00469580251317643