Angka itu terlihat kecil: 1,23 CFU/cm². Tapi di balik satuan koloni bakteri per sentimeter persegi itu, tersimpan pertanyaan yang selama ini menggantung di setiap klinik ortodonsi: seberapa bersih sebenarnya face shield yang dipakai dokter gigi setelah menyikat braket pasien?
Dr. drg. Andi Triawan, Sp.Ort., dari Departemen Ortodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, mencoba menjawab pertanyaan itu secara terukur. Bersama Belladina Yusi Lasara dari Rumah Sakit Akademik UGM, ia merancang penelitian yang hasilnya dipublikasikan di Indonesian Dentistry Magazine edisi Agustus 2022. Temuan utamanya sederhana sekaligus penting: jarak alat sedot aerosol dari rongga mulut pasien menentukan seberapa banyak bakteri yang mendarat di face shield dokter.
Aerosol yang Tidak Terlihat Mata
Setiap kali bur kecepatan tinggi, skaler ultrasonik, atau sikat braket berputar di dalam mulut pasien, ribuan partikel aerosol melayang ke udara. Partikel-partikel ini membawa serta mikroorganisme dari saliva, darah, dan plak gigi. Beberapa nama bakteri yang ikut melayang bersama aerosol dental cukup membuat bulu kuduk berdiri: Staphylococcus aureus, MRSA, Streptococcus pneumoniae, hingga Mycobacterium tuberculosis.
Dalam perawatan ortodonsi, prosedur menyikat braket dengan micro brush yang digerakkan handpiece berkecepatan rendah termasuk dalam prosedur yang menghasilkan aerosol. Dokter gigi berdiri dekat, berhadapan langsung dengan sumber partikel itu. Face shield menjadi benteng terakhir sebelum aerosol mencapai mukosa mata, hidung, dan mulut.
Pertanyaannya bukan lagi apakah aerosol suction perlu digunakan, melainkan: pada jarak berapa alat itu paling efektif?
Tiga Jarak, Satu Jawaban
Penelitian ini dilakukan di Klinik Gigi RSA UGM dengan melibatkan lima pasien ortodonsi berusia 17 hingga 22 tahun, semuanya bebas karies dengan skor kebersihan mulut sedang. Setiap pasien menjalani empat kondisi perlakuan berbeda: tanpa aerosol suction, dengan aerosol suction berjarak 10 cm, 15 cm, dan 20 cm dari rongga mulut.
Usapan (swab) diambil dari permukaan face shield setelah prosedur penyikatan braket selesai. Sampel kemudian diinkubasi dan dianalisis di Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu (LPPT) UGM untuk menghitung total plate count (TPC) serta mengidentifikasi keberadaan Streptococcus and Staphylococcus.
Hasilnya berbicara sendiri. Face shield tanpa aerosol suction mencatat TPC tertinggi: 7,25 ± 0,03 CFU/cm². Angka ini masih berada di batas atas standar Keputusan Menteri Kesehatan No. 1204/MENKES/SK/X/2004, yang menetapkan ambang 5 hingga 10 CFU/cm². Ketika aerosol suction dinyalakan dengan jarak 20 cm, angka turun menjadi 3,15 CFU/cm². Jarak 15 cm menghasilkan 2,78 CFU/cm². Dan pada jarak 10 cm, kontaminasi mencapai titik terendah: 1,23 ± 0,01 CFU/cm².
Uji statistik one-way ANOVA mengonfirmasi bahwa perbedaan antar kelompok ini bermakna secara signifikan (p < 0,05). Makin dekat ujung selang suction ke rongga mulut pasien, makin sedikit bakteri yang lolos ke face shield dokter.
Staphylococcus Hadir, Streptococcus Absen
Di luar perhitungan koloni, penelitian ini juga mengungkap sesuatu yang menarik soal identitas bakteri yang tertangkap. Dari seluruh kelompok perlakuan, tidak ditemukan satu pun koloni Streptococcus di permukaan face shield. Sebaliknya, Staphylococcus sp. ditemukan positif di semua kelompok, termasuk kelompok dengan aerosol suction jarak 10 cm.
“The presence of Staphylococcus sp. in the face shield indicated that some orthodontic patients had moderate OHIS with plaque around the orthodontic bracket.”
Penjelasannya logis. Pasien dengan alat ortodonsi cekat cenderung mengalami akumulasi plak di sekitar braket, dan plak itulah tempat tinggal Staphylococcus aureus serta spesies Staphylococcus lainnya. Ketiadaan Streptococcus, di sisi lain, selaras dengan kondisi pasien yang bebas karies, karena Streptococcus mutans tumbuh subur justru pada lingkungan mulut yang kaya karies.
Identifikasi dilakukan melalui uji katalase: koloni yang menghasilkan gelembung gas O₂ saat diberi hidrogen peroksida dikonfirmasi sebagai Staphylococcus sp. Koloni dengan reaksi negatif diklasifikasikan sebagai Streptococcus sp., dan pada penelitian ini hasilnya negatif di semua sampel.
Satu Sentimeter yang Bisa Mengubah Banyak Hal
Temuan Dr. drg. Andi Triawan, Sp.Ort., dan tim ini mungkin terdengar teknis. Namun implikasinya sangat praktis. Di klinik ortodonsi mana pun, posisi ujung selang aerosol suction sering disesuaikan seadanya, tanpa panduan jarak yang terukur. Penelitian ini memberikan titik acuan konkret: 10 cm dari rongga mulut adalah posisi yang paling efektif menekan kontaminasi bakteri pada face shield.
Tentu ini bukan satu-satunya lapisan perlindungan. Penggunaan obat kumur berbasis hidrogen peroksida 1% atau povidon iodin 0,2% sebelum prosedur, kombinasi intraoral suction dan extraoral suction, serta protokol APD level 3 yang lengkap tetap menjadi bagian dari sistem perlindungan yang saling melengkapi.
Yang berubah adalah kesadaran bahwa jarak itu bukan detail minor. Satu sentimeter, dikalikan ratusan prosedur dalam setahun, bisa berarti perbedaan yang cukup besar dalam akumulasi paparan bakteri pada wajah dokter yang berdiri di garis terdepan perawatan.
Sumber DOI : http://doi.org/10.22146/majkedgiind.77444
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels