Selama bertahun-tahun, periodontitis dikenal sebagai penyakit gusi yang merusak jaringan penyangga gigi. Tapi ada sesuatu yang terjadi jauh di balik garis gusi, di kelenjar ludah submandibular, yang selama ini luput dari perhatian. Penelitian drg. Nunuk Purwanti, M.Kes., Ph.D. dari Departemen Biomedika Kedokteran Gigi FKG UGM, bersama koleganya dari Universitas Jember dan UGM, menjawab pertanyaan yang sudah lama menggantung: apa yang terjadi pada produksi mukus saliva saat periodontitis berkembang? Hasilnya, yang dipublikasikan di Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) pada Juni 2018, memperlihatkan pola yang tidak sederhana — dan justru karena itu menarik.
Ketika Bakteri Masuk, Tubuh Bergerak
Periodontitis bukan sekadar gusi berdarah. Penyakit ini melibatkan bakteri anaerob bernama Porphyromonas gingivalis (Pg) yang menghasilkan zat bernama lipopolisakarida (LPS). Zat inilah yang memicu peradangan di jaringan periodontal, yakni jaringan yang menopang gigi agar tetap di tempatnya.
Yang menarik, dampak bakteri ini tidak berhenti di gusi. Penelitian sebelumnya sudah mengaitkan periodontitis dengan berbagai penyakit sistemik seperti aterosklerosis, diabetes, kelahiran prematur, hingga penyakit ginjal kronis. Artinya, apa yang terjadi di mulut bisa berdampak jauh ke seluruh tubuh.
Di sinilah saliva menjadi penting. Ludah bukan sekadar cairan pembasah mulut. Ia mengandung protein, karbohidrat, dan mineral yang berfungsi sebagai antibakteri, antijamur, antivirus, dan pelindung jaringan. Salah satu komponen utamanya adalah mukus, zat kental seperti gel yang melapisi seluruh permukaan rongga mulut dan diproduksi dalam jumlah besar oleh kelenjar submandibular, kelenjar ludah yang terletak di bawah rahang bawah.
Pola yang Tak Terduga dari Kelenjar Submandibular
Untuk menjawab pertanyaan soal bagaimana produksi mukus berubah saat periodontitis berkembang, tim peneliti menggunakan 32 ekor tikus Wistar jantan berusia delapan minggu. Separuh dari tikus disuntik bakteri Pg setiap hari di area mesial molar pertama atas, sementara separuhnya lagi menerima larutan plasebo. Sampel diambil pada hari ke-7, 14, 21, dan 28 setelah penyuntikan, lalu dianalisis menggunakan pewarnaan khusus bernama periodic acid Schiff (PAS) untuk mendeteksi keberadaan mukus.
Hasilnya mengejutkan. Ekspresi mukus di kelenjar submandibular justru naik secara nyata pada hari ke-7, 14, dan 21 — lalu turun pada hari ke-28, saat kondisi periodontitis sudah semakin parah. Puncak ekspresi mukus terjadi pada hari ke-21.
Bersamaan dengan itu, ketebalan junctional epithelium (JE), lapisan epitel yang menjadi benteng pertahanan pertama jaringan periodontal, terus menipis seiring bertambahnya hari. Penipisan ini mulai terdeteksi pada hari ke-14 dan mencapai titik paling tipis di hari ke-28. Semakin tipis JE, semakin mudah produk bakteri menembus ke jaringan yang lebih dalam.
Mukus: Pelindung yang Punya Dua Wajah
Temuan ini membuka pemahaman baru tentang fungsi mukus yang ternyata tidak hitam-putih. Saat infeksi bakteri dimulai, sel-sel epitel dan sel goblet memproduksi lebih banyak mukus sebagai mekanisme pertahanan, mencegah bakteri berkoloni lebih jauh. Inilah yang menjelaskan kenaikan ekspresi mukus pada hari ke-7 hingga ke-21.
Namun di sisi lain, mukus juga bisa menjadi “tangga” bagi bakteri. Mukus memfasilitasi perlekatan bakteri pada permukaan epitel. Jadi saat produksinya meningkat, bakteri patogen sebenarnya juga mendapat keuntungan. Penelitian lain yang dikutip dalam studi ini mencatat bahwa remaja dengan karies gigi tinggi memiliki kadar MUC1 dan MUC5B yang meningkat, sementara MUC7-nya justru menurun. Ini memperkuat gagasan bahwa komposisi dan kadar mukus yang berubah bisa menjadi penanda kondisi kesehatan mulut.
Penurunan ekspresi mukus pada hari ke-28, saat periodontitis sudah lebih berat, kemungkinan besar melibatkan jalur sinyal yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Peneliti menduga bahwa LPS dari Pg mengaktifkan sistem kolinergik melalui NOS (nitric oxide synthase), yang kemudian meningkatkan konsentrasi kalsium di sel asinar kelenjar submandibular dan memicu sekresi mukus. Tapi saat peradangan makin parah, jalur ini tampaknya bergeser atau terganggu.
“Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekspresi mukus di kelenjar submandibular berbeda-beda selama induksi periodontitis. Ekspresi meningkat secara bertahap seiring hari induksi, mencapai puncaknya pada hari ke-21, dan menurun pada hari ke-28.”
Membuka Jalan untuk Biomarker Baru
Implikasi dari penelitian ini melampaui laboratorium tikus. Jika mukus saliva ternyata merespons secara dinamis terhadap proses periodontitis, maka kadar mukus berpotensi dikembangkan sebagai biomarker non-invasif untuk diagnosis dan pemantauan terapi periodontitis. Pasien tidak perlu lagi menjalani prosedur yang rumit untuk mengetahui seberapa parah penyakit periodontalnya. Cukup dengan sampel air liur.
Penelitian ini juga membuka pertanyaan lanjutan yang penting: jalur sinyal mana yang persis terlibat saat ekspresi mukus turun di fase periodontitis yang lebih berat? Jawaban atas pertanyaan itu bisa membuka peluang terapi baru yang memanfaatkan sistem pertahanan alami saliva.
Selama ini, saliva sering dianggap sebagai sesuatu yang begitu saja ada. Penelitian drg. Nunuk Purwanti, M.Kes., Ph.D. dan timnya mengingatkan bahwa di balik cairan bening itu, ada sistem perlindungan yang bekerja keras, merespons ancaman, dan menyimpan informasi yang belum sepenuhnya kita baca.
Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam
Photo: Pexels
Sumber DOI: https://doi.org/10.20473/j.djmkg.v51.i2.p52–56