News

/

Artikel, Latest News

Gigi Goyang, Hidup Terguncang: Peneliti FKG UGM Ungkap Kaitan Kerapuhan Mulut dan Kebahagiaan Lansia

Empat dari sepuluh lansia di Tokyo menderita oral frailty, kondisi kemunduran fungsi mulut yang ternyata tidak hanya menyulitkan mereka mengunyah atau berbicara, tetapi juga menggerogoti rasa bahagia dan kepuasan hidup mereka secara perlahan. Temuan mengejutkan itu muncul dari sebuah studi yang diterbitkan di Journal of Prosthodontic Research pada Mei 2026, melibatkan 849 warga lanjut usia di Distrik Itabashi, Tokyo Barat Laut, Jepang. Di balik riset lintas negara ini, ada satu nama dari Yogyakarta: drg. Agatha Ravi Vidiasratri, MPH, dosen dari Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Pencegahan dan Kesehatan Gigi Masyarakat (IKGP dan KGM) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, yang menjadi salah satu penulis utama studi tersebut bersama tim dari Universitas Hokkaido dan Tokyo Metropolitan Institute for Geriatrics and Gerontology.

Studi ini mengajukan pertanyaan yang terdengar sederhana namun jarang ditelusuri: bagaimana caranya kondisi mulut yang memburuk bisa berujung pada hidup yang terasa tidak bahagia?

Mulut yang Rapuh, Lebih dari Sekadar Masalah Gigi

Oral frailty, atau kerapuhan mulut, adalah istilah yang merujuk pada kemunduran fungsi mulut di berbagai aspek sekaligus. Bukan hanya soal gigi yang tanggal, tetapi juga kesulitan mengunyah makanan keras, sering tersedak saat minum, mulut kering yang mengganggu, hingga bicara yang mulai tidak jelas. Dalam studi ini, seseorang dinyatakan mengalami oral frailty jika memenuhi setidaknya dua dari lima kriteria tersebut.

Hasilnya mengejutkan. Dari 849 responden berusia rata-rata 75,8 tahun, sebanyak 40,2 persen teridentifikasi mengalami oral frailty. Angka itu jauh lebih besar dari prevalensi kondisi fisik lain yang diukur dalam studi yang sama: kerapuhan fisik hanya 6,5 persen, sementara gangguan kognitif hanya 5,4 persen.

Mereka yang mengalami oral frailty cenderung mendapatkan skor kesejahteraan yang lebih rendah, baik pada skala Philadelphia Geriatric Center Morale Scale (PGCMS) yang mengukur semangat hidup, maupun pada Cantril Self-Anchoring Striving Scale (CSASS) yang mengukur kepuasan hidup secara keseluruhan. Rata-rata skor PGCMS pada kelompok dengan oral frailty adalah 6,9 dari 11, dibandingkan 8,4 pada kelompok tanpa kondisi tersebut.

Tiga Jalan Tersembunyi Menuju Ketidakbahagiaan

Yang membuat studi ini menonjol bukan sekadar temuan hubungan antara mulut dan kebahagiaan, melainkan penelusuran jalan-jalan yang menghubungkan keduanya. Tim peneliti menggunakan metode Generalized Structural Equation Modeling (GSEM), sebuah teknik statistik yang mampu memetakan jalur tidak langsung antara satu kondisi dan dampaknya.

Tiga jalur terbukti bermakna secara statistik.

Pertama, jalur nutrisi. Lansia dengan oral frailty mengalami kesulitan mengunyah makanan berserat dan keras seperti daging atau sayuran segar. Mereka beralih ke makanan yang lebih lunak dan sering kali kurang bergizi. Akibatnya, kekurangan gizi meningkat, dan kondisi ini berkaitan dengan penurunan semangat hidup yang terukur secara statistik.

Kedua, jalur depresi. Ini adalah jalur terkuat yang ditemukan dalam studi. Gejala depresi menjadi perantara paling konsisten yang menghubungkan oral frailty dengan rendahnya kesejahteraan, baik pada pengukuran PGCMS maupun CSASS. Lansia yang giginya banyak tanggal atau mengalami disfagia (gangguan menelan) cenderung merasa malu, kehilangan otonomi, dan akhirnya mengalami tekanan psikologis yang menurunkan kualitas hidup mereka.

Ketiga, jalur isolasi sosial. Mulut yang tidak berfungsi baik membuat seseorang enggan makan bersama, enggan berbicara, bahkan enggan tersenyum di depan umum. Penarikan diri dari pergaulan ini, secara bertahap, mengikis rasa puas terhadap kehidupan.

“Temuan ini mendukung pandangan bahwa kesehatan mulut memainkan peran penting dalam persepsi diri dan kualitas hidup secara keseluruhan.”

Demikian dinyatakan tim peneliti dalam kesimpulan studi, menegaskan bahwa mulut bukan organ yang berdiri sendiri, melainkan pintu masuk ke sistem kesehatan yang jauh lebih luas.

Mengapa Ini Penting untuk Indonesia

Jepang memang menjadi lokasi riset ini, dengan 29,1 persen penduduknya berusia 65 tahun ke atas. Namun relevansinya bagi Indonesia tidak bisa diabaikan. Badan Pusat Statistik memproyeksikan jumlah lansia Indonesia akan terus meningkat dalam dua dekade mendatang, sementara akses terhadap layanan kesehatan gigi, terutama di daerah, masih sangat terbatas.

Studi ini memberi argumen kuat bahwa pemeriksaan oral frailty perlu diintegrasikan ke dalam layanan kesehatan rutin lansia, bukan hanya sebagai bagian dari perawatan gigi, melainkan sebagai bagian dari skrining kesehatan menyeluruh. Dengan deteksi dini, intervensi terhadap nutrisi dan dukungan sosial dapat diberikan lebih cepat, sebelum lingkaran setan antara mulut yang rapuh, gizi buruk, depresi, dan isolasi sosial sempat berputar terlalu jauh.

Penelitian ini juga menjadi pengingat bahwa kesehatan gigi bukan kemewahan. Bagi seorang lansia, kemampuan mengunyah sepotong daging atau mengucapkan nama cucu dengan jelas bisa berarti perbedaan antara hidup yang terasa bermakna dan hidup yang terasa hampa.

Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam

Photo: Pexels

Sumber DOI: https://doi.org/10.2186/jpr.JPR_D_25_00248

Tags

Share News

Related News
23 July 2026

Kawat Gigi Bukan Sekadar Meluruskan Gigi: Ini yang Terjadi pada Wajah Anda

23 July 2026

Alat Cetak Gigi Digital Lebih Nyaman untuk Anak, Riset UGM Buktikannya

23 July 2026

Saat Orang Tua Rajin Melatih, Anak Tetap Kesulitan Menggosok Gigi

en_US