Bunyi klik dari sendi rahang sering dianggap sepele. Banyak pasien mendengarnya saat mengunyah atau membuka mulut lebar, lalu memilih mengabaikannya. Padahal, klik itu bisa menjadi tanda awal pergeseran diskus artikularis, struktur tulang rawan tipis yang menjaga sendi temporomandibular (TMJ) bekerja dengan mulus. Dan untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi di dalam sendi itu, dokter gigi membutuhkan gambaran radiografis yang akurat, bukan sekadar perkiraan.
Pertanyaannya: apakah foto panoramik biasa sudah cukup, atau harus selalu menggunakan CBCT yang lebih mahal dan tidak selalu tersedia?
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Stomatology (2023) menjawab pertanyaan itu dengan tegas, dan jawabannya penting bagi praktik klinis sehari-hari.
Ketika Celah Sendi Menjadi Kunci Diagnosis
Celah sendi atau joint space adalah area radiolusen, tampak gelap pada gambaran radiografis, yang berada di antara kondilus mandibula dan fossa glenoidalis. Jarak di area ini bukan sekadar angka. Ia mencerminkan posisi kondilus di dalam fossa, dan pergeserannya bisa mengisyaratkan adanya kelainan pada TMJ.
Dalam penelitian ini, drg. Silviana Farrah Diba, Sp. RKG. Subsp. RP (K) bersama tim dari Departemen Radiologi Dentomaksilofasial FKG UGM mengukur tiga parameter celah sendi: anterior (anterior joint space/AJS), superior (superior joint space/SJS), dan posterior (posterior joint space/PJS). Pengukuran dilakukan pada 34 pasien berusia 20–55 tahun yang mengalami klik pada satu atau kedua sisi TMJ, dalam posisi oklusi sentrik.
Setiap pasien menjalani dua modalitas pencitraan: panoramik TMJ (PanTMJ) menggunakan mesin Vatech PaX-I Insight, dan CBCT menggunakan Orthopantomograph Instrumentarium Dental P 300. Metode pengukuran mengikuti protokol Ikeda dan Kawamura, dengan irisan sagital sebagai bidang observasi utama.
Dari 34 partisipan, 31 di antaranya perempuan, dengan rata-rata usia 26 tahun. Mayoritas mengalami klik unilateral. Riwayat perawatan ortodonti menjadi faktor predisposisi yang paling banyak ditemukan, disusul kebiasaan mengunyah satu sisi.
Angka yang Berbeda, Kesimpulan yang Berbeda
Hasil analisis statistik menggunakan uji Mann-Whitney menunjukkan perbedaan yang signifikan antara pengukuran PanTMJ dan CBCT pada ketiga parameter celah sendi (p < 0,05). Bukan perbedaan kecil yang bisa diabaikan, melainkan perbedaan yang secara klinis bermakna.
Pada CBCT, rata-rata AJS tercatat 2,50 mm dan SJS 2,69 mm, keduanya lebih besar dibanding hasil pada PanTMJ. Sebaliknya, PJS pada PanTMJ (2,38 mm) justru lebih besar dibanding CBCT. Artinya, panoramik cenderung underestimate celah anterior dan superior, sementara overestimate celah posterior.
“Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengukuran celah sendi pada PanTMJ tidak dapat dibandingkan dengan CBCT. Untuk ruang kondilus-fossa, CBCT merupakan metode yang paling dapat diandalkan karena menyediakan tampilan multiplanar.”
Mengapa bisa berbeda sebegitu jauh? Salah satu penjelasannya ada pada anatomi. Pada pengukuran celah posterior, fossa glenoidalis terlevisikan bersama basis kranium. Superimposisi dengan sel-sel udara mastoid dari tulang temporal membuat titik pengukuran sulit ditentukan dengan presisi. Distorsi geometris dan pembesaran gambar pada panoramik juga menambah ketidakpastian, terutama jika pemosisian kepala pasien tidak sempurna.
CBCT, di sisi lain, memungkinkan rekonstruksi tiga dimensi yang dapat diiris sesuai sumbu kondilus. Hasilnya jauh lebih akurat untuk mengukur jarak kondilus-fossa secara kuantitatif.
Panoramik Tetap Berguna, Tapi Ada Batasnya
Temuan ini bukan berarti foto panoramik tidak berguna. Panoramik tetap menjadi tulang punggung pemeriksaan radiologi gigi: biayanya rendah, aksesibilitasnya tinggi, dan dosisnya lebih kecil. Di Indonesia, CBCT masih terpusat di kota-kota besar dan biayanya jauh lebih tinggi. Bagi banyak pasien di daerah, panoramik adalah satu-satunya pilihan yang tersedia.
Namun penelitian ini menegaskan satu hal: pengukuran celah sendi pada panoramik TMJ tidak bisa digunakan sebagai pengganti CBCT untuk menentukan posisi kondilus secara kuantitatif. Panoramik masih relevan sebagai skrining awal, untuk mendeteksi perubahan morfologi kondilus yang sudah nyata. Tapi jika klinisi membutuhkan angka yang presisi guna menentukan apakah kondilus bergeser ke anterior, superior, atau posterior, CBCT adalah pilihan yang lebih andal.
Penelitian ini juga mengakui keterbatasannya. Konfirmasi posisi diskus melalui MRI tidak dilakukan, sehingga klik yang diamati hanya berdasarkan kriteria klinis RDC/TMD. Pengelompokan berdasarkan jenis kelamin juga tidak dilakukan, padahal beberapa studi sebelumnya menunjukkan bahwa ukuran celah sendi laki-laki cenderung lebih besar dari perempuan.
Ke depan, pertanyaan yang tersisa cukup menarik: jika panoramik tidak dapat diandalkan untuk mengukur celah sendi secara kuantitatif, dapatkah morfologi kondilus pada panoramik memberikan informasi lain yang tetap berguna secara klinis? Penelitian lanjutan yang mengintegrasikan MRI, CBCT, dan panoramik dalam satu desain studi mungkin akan memberi gambaran yang lebih lengkap, sekaligus membuka jalan bagi protokol diagnosis TMD yang lebih efisien dan terjangkau.
Sendi rahang yang berbunyi klik memang tidak selalu menyakitkan. Tapi di balik bunyi itu, ada struktur kecil yang sedang berjuang mempertahankan posisinya. Dan untuk melihatnya dengan jelas, alat yang tepat adalah segalanya.
Sumber DOI : DOI: https://doi.org/10.5114/jos.2023.133645
Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels