Selama ini, foto rontgen panoramik dianggap prosedur rutin yang aman. Pasien duduk, mesin berputar mengelilingi kepala, dan dalam hitungan detik gambaran lengkap rahang atas dan bawah tersaji di layar. Namun, sebuah studi yang diterbitkan di Archives of Orofacial Sciences mengungkapkan sesuatu yang selama ini luput dari perhatian: bahkan dalam dosis rendah, radiasi dari prosedur itu cukup untuk merusak DNA dan menurunkan viabilitas sel-sel mukosa mulut, setidaknya dalam jangka pendek.
Apa yang Diteliti dan Mengapa Ini Penting
Penelitian ini dilakukan oleh drg. Ryna Dwi Yanuaryska, Ph.D., bersama tim dari Departemen Radiologi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada. Mereka ingin menjawab pertanyaan yang terdengar sederhana namun belum pernah benar-benar dijawab sebelumnya: apakah satu kali paparan rontgen panoramik cukup untuk merusak sel-sel pipi bagian dalam, dan jika ya, seberapa cepat kerusakan itu terjadi?
Studi ini melibatkan 20 pasien sehat berusia 18 hingga 25 tahun yang menjalani pemeriksaan rontgen panoramik rutin di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Prof. Soedomo UGM. Tidak ada yang merokok, tidak ada yang mengonsumsi alkohol, dan tidak ada yang pernah menjalani paparan radiasi dalam dua minggu sebelumnya. Kondisi ini penting, karena peneliti ingin memastikan bahwa perubahan yang terdeteksi benar-benar disebabkan oleh rontgen, bukan faktor lain.
Sel mukosa bukal, yakni lapisan dalam pipi, dipilih karena mudah diambil tanpa prosedur invasif. Cukup dengan sikat kecil yang diusapkan ke bagian dalam pipi, sel-sel itu sudah bisa dikumpulkan. Sampel diambil tiga kali: sebelum paparan, 30 menit setelah paparan (Grup 1), dan 24 jam setelah paparan (Grup 2).
Apa yang Ditemukan di Balik Mikroskop
Dua metode digunakan untuk menilai kerusakan. Pertama, uji trypan blue untuk mengukur viabilitas sel, yaitu berapa banyak sel yang masih hidup. Prinsipnya sederhana: sel hidup memiliki membran yang utuh sehingga menolak zat warna biru, sementara sel mati menyerapnya dan tampak berwarna biru di bawah mikroskop. Kedua, comet assay, sebuah teknik elektroforesis yang memperlihatkan “ekor komet” dari fragmen DNA yang rusak. Semakin panjang ekornya, semakin parah kerusakannya.
Hasilnya cukup mengejutkan. Tiga puluh menit setelah satu kali paparan rontgen panoramik, viabilitas sel turun secara signifikan. Persentase “ekor DNA” dalam comet assay melonjak hingga 16 persen, dan skor visual kerusakan DNA naik sekitar 24 persen dibandingkan kondisi sebelum paparan. Artinya, dalam waktu setengah jam setelah foto rontgen, sel-sel mukosa mulut sudah menunjukkan tanda-tanda stres seluler yang nyata.
“Panoramic X-ray discharged cell viability and induced double-strand breaks within 30 minutes after exposure. Even though at low doses, panoramic X-ray induce cytotoxicity and genotoxicity in human buccal mucosa cells.”
Kabar baiknya: pada pengukuran 24 jam kemudian, kerusakan itu tampak mulai pulih. Persentase ekor DNA turun kembali ke sekitar 3 persen, dan skor visual juga menurun, meski penurunan ini secara statistik tidak signifikan. Viabilitas sel pun tidak mengalami penurunan lebih lanjut dibanding kondisi 30 menit pasca-paparan.
Tubuh Punya Mekanisme Pertahanan, tapi Bukan Tanpa Batas
Pemulihan parsial ini bukan kebetulan. Tubuh manusia memiliki jalur perbaikan DNA yang bekerja aktif pasca-paparan radiasi. Dua jalur utama yang dikenal adalah non-homologous end-joining (NHEJ) dan homologous recombination (HR). Radiasi sinar-X seperti yang digunakan dalam rontgen panoramik umumnya diperbaiki melalui jalur NHEJ, yang bekerja relatif cepat. Respons adaptif tubuh terhadap dosis rendah radiasi, termasuk perlindungan dari spesies oksigen reaktif dan eliminasi sel yang rusak parah, turut berkontribusi pada pemulihan ini.
Namun, para peneliti mengingatkan bahwa pemulihan dalam 24 jam bukan berarti paparan berulang tidak perlu dikhawatirkan. Mereka menegaskan bahwa perlindungan radiasi pada pasien yang menjalani rontgen panoramik tetap harus diprioritaskan, bukan karena satu paparan pasti berbahaya, melainkan karena setiap dosis radiasi, seberapapun kecilnya, berpotensi menghasilkan perubahan biologis.
Mengapa Penelitian Ini Membuka Jalan Baru
Sebelum studi ini, sebagian besar penelitian serupa menggunakan uji mikronukleus atau pengamatan perubahan inti sel seperti karyorrhexis dan pyknosis. Pendekatan trypan blue exclusion untuk menilai viabilitas sel mukosa bukal akibat rontgen panoramik belum pernah dilaporkan sebelumnya. Kombinasi dua metode, uji viabilitas dan comet assay, memberikan gambaran yang lebih lengkap: bukan hanya apakah DNA rusak, tetapi juga apakah sel-selnya masih hidup dan berfungsi.
Studi ini juga membuka pertanyaan lanjutan yang belum terjawab: molekul apa saja yang terlibat dalam proses kerusakan dan perbaikan itu? Seberapa besar variasi respons antar individu? Bagaimana jika paparan dilakukan berulang kali dalam interval pendek?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu mungkin belum ada sekarang. Tapi setidaknya, kita kini tahu bahwa rontgen panoramik, yang terasa sepele karena berlangsung hanya beberapa detik, meninggalkan jejak biologis yang bisa diukur. Dan tubuh, dengan segala kecerdasannya, bekerja keras membenahi jejak itu.
Sumber DOI : http://10.21315/aos2021.16.s1.8
Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Freepik