Bayangkan seorang anak usia tujuh tahun duduk di kursi dental, sedikit gelisah, menunggu foto panoramik giginya diambil. Foto itu akan menentukan apakah giginya tumbuh normal, apakah ada karies tersembunyi, atau apakah ada kelainan yang belum terdeteksi. Masalahnya: daerah gigi depan atas dan bawah — justru area yang paling kritis untuk dievaluasi — sering tampil buram dalam gambar standar. Dokter harus memutuskan: ambil foto tambahan dan tambah paparan radiasi, atau bertaruh dengan gambar yang kurang jelas?
drg. Isti Rahayu Suryani, M.Biotech., Sp.RKG, Subsp.RDP(K), PhD, dari Departemen Radiologi Dentomaxillofasial FKG Universitas Gadjah Mada, menolak menerima dilema itu sebagai sesuatu yang tak terhindarkan.
Satu Foto, Banyak Lapisan yang Dipilih Otomatis
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Imaging Science in Dentistry (2018) ini melibatkan 50 foto panoramik digital anak-anak berusia 6 hingga 12 tahun dengan kondisi gigi bercampur (mixed dentition), yaitu fase di mana gigi susu dan gigi permanen hadir bersamaan dalam satu rahang. Fase ini adalah salah satu periode paling kompleks dalam perkembangan gigi geligi, dan kebutuhan diagnostik yang akurat di sini sangat tinggi.
Semua foto diambil menggunakan perangkat VistaPano dari Dürr Dental, lalu diproses menggunakan teknologi Smart Panoramic (S-Pan). Cara kerja teknologi ini cukup elegan: dari satu kali paparan sinar-X, alat ini menangkap beberapa lapisan paralel sekaligus. Setiap lapisan dipotong-potong oleh algoritma secara otomatis, lalu fragmen-fragmen yang paling tajam dan paling fokus dipilih dan disusun kembali menjadi satu gambar panoramik yang utuh. Tidak ada paparan tambahan. Tidak ada prosedur ulang.
Hasilnya dibandingkan dengan gambar asli sebelum diproses. Dua ahli radiologi maksilofasial mengevaluasi struktur anatomis secara terpisah dan buta, menggunakan sistem skoring modifikasi dari Choi et al. yang menilai kejelasan struktur dari skala 1 (tidak terlihat) hingga 5 (terlihat jelas di semua regio).
Daerah Anterior Menjadi Titik Balik
Temuan paling mencolok muncul dari regio anterior — gigi depan atas dan bawah. Di area inilah perbedaan antara gambar sebelum dan sesudah pemrosesan terasa paling dramatis, dan secara statistik signifikan (P < 0,05) untuk seluruh struktur anatomis yang dinilai.
Peningkatan terbesar tercatat pada ruang ligamen periodontal dan lamina dura gigi permanen, dengan selisih rata-rata skor mencapai 1,86 poin. Artinya, struktur yang sebelumnya nyaris tak terbaca kini terlihat jauh lebih jelas. Mahkota gigi permanen bahkan mencapai skor rata-rata 4,56 dari 5, mendekati sempurna.
Mengapa regio anterior begitu sulit? Jawabannya ada pada geometri pencitraan panoramik. Gigi depan yang posisinya melengkung sering mengalami tumpang tindih dan kabur (blurriness) karena pengaruh bayangan tulang belakang leher. Teknologi S-Pan secara efektif menghilangkan gangguan itu dengan memilih hanya fragmen lapisan yang paling fokus.
“Teknik ini memungkinkan visualisasi yang lebih baik pada regio anterior maksila dan mandibula tanpa kekaburan akibat artefak ghost image dari kolom vertebra,” tulis drg. Isti Rahayu Suryani dan tim dalam makalah tersebut.
Sementara itu, regio premolar maksila tidak menunjukkan perbedaan signifikan secara keseluruhan, kecuali pada bentuk akar gigi premolar permanen dan pola trabekuler tulang alveolar. Ini konsisten dengan literatur sebelumnya: regio posterior dan premolar memang secara alami lebih stabil dalam pencitraan panoramik karena posisinya lebih dekat dengan bidang fokus alat.
Konsistensi Penilai, Bukan Sekadar Keberuntungan
Satu hal yang membuat temuan ini lebih kuat adalah tingginya reliabilitas antar-penilai dan intra-penilai. Untuk regio anterior, kesepakatan antara dua pengamat mencapai nilai kappa di atas 0,82, yang masuk kategori excellent. Untuk regio premolar, nilai kappa di atas 0,63, masuk kategori good. Nilai-nilai ini konsisten baik pada gambar sebelum maupun sesudah pemrosesan.
Artinya, hasil evaluasi bukan bergantung pada siapa yang melihat atau kapan ia melihat. Gambar yang diproses dengan S-Pan menghasilkan penilaian yang stabil dan dapat diandalkan — syarat mutlak untuk sebuah metode diagnostik yang ingin digunakan secara klinis.
Penelitian ini merupakan bagian dari kolaborasi internasional antara UGM, KU Leuven (Belgia), Universidad de Los Andes (Chile), Universitas Padjadjaran, dan Karolinska Institutet (Swedia), didanai oleh program AREAS Erasmus Mundus Action II. Skala kolaborasi ini bukan sekadar formalitas akademik — ia mencerminkan bahwa pertanyaan tentang keamanan radiasi pada anak adalah pertanyaan global yang membutuhkan jawaban bersama.
Di klinik gigi anak, setiap keputusan untuk mengambil foto rontgen adalah pertimbangan antara manfaat diagnostik dan risiko paparan radiasi. Teknologi pemrosesan gambar seperti S-Pan menawarkan jalan tengah yang selama ini dicari: gambar yang lebih baik, tanpa harus meminta anak-anak duduk lebih lama di bawah sinar.
Sumber DOI : https://doi.org/10.5624/isd.2018.48.4.261
Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels