News

/

Artikel, Latest News

Foto Rontgen Gigi Bisa Mendeteksi Osteoporosis Lebih Awal? Peneliti UGM Membuktikannya

Bayangkan seorang perempuan pascamenopause datang ke klinik gigi untuk menambal giginya. Tanpa ia sadari, foto rontgen periapikalnya menyimpan informasi jauh lebih besar dari sekadar kondisi akar gigi. Di sanalah Dr. drg. Rini Widyaningrum, M.Biotech melihat peluang: tulang rahang bawah yang tertangkap dalam selembar radiograf bisa menjadi cermin kondisi tulang belakang dan panggul pasien tersebut.

Temuan ini bukan spekulasi. Penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Electrical and Computer Engineering (IJECE) volume 8 nomor 4 tahun 2018 membuktikan bahwa analisis citra radiograf periapikalnya mampu berkorelasi secara signifikan dengan kepadatan mineral tulang di lumbar spine dan panggul.

Dua dari Lima Orang Indonesia Berisiko, Alatnya Mahal

Osteoporosis bukan sekadar tulang rapuh. Ini adalah penyakit sistemik yang meningkatkan risiko patah tulang, mengurangi kualitas hidup, dan menelan biaya perawatan yang tidak sedikit. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat bahwa dua dari lima orang Indonesia berisiko mengidap kondisi ini, angka yang cukup untuk menjadikannya prioritas kesehatan nasional.

Masalahnya ada di alat diagnostik. Gold standard pemeriksaan kepadatan mineral tulang saat ini adalah Dual X-ray Absorptiometry atau DEXA, yang diakui oleh WHO. Namun mesin DEXA tidak murah, tidak tersebar merata, dan tidak ada di setiap puskesmas atau klinik gigi. Di sisi lain, alat rontgen gigi tersedia hampir di setiap fasilitas kesehatan gigi di Indonesia, dari kota besar hingga kota kecil.

Di sinilah celah yang ingin diisi oleh penelitian ini.

Rahang Bawah Sebagai Jendela Tulang Tubuh

Dr. drg. Rini Widyaningrum, M.Biotech bersama Sri Lestari dari Universitas Respati Yogyakarta dan Ferry Jie dari Edith Cowan University, Australia, merekrut 37 perempuan pascamenopause sebagai subjek penelitian. Setiap subjek menjalani dua prosedur: pemindaian DEXA di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta untuk mengukur kepadatan mineral tulang panggul dan lumbar spine, serta pemotretan rontgen periapikalnya di RSGM Prof. Soedomo FKG UGM.

Dari radiograf periapikalnya, tim mengekstrak dua parameter menggunakan perangkat lunak ImageJ dengan metode canny edge detection: area parameter (proporsi area trabekular yang terdeteksi terhadap total area) dan integrated density (hasil perkalian area dengan nilai rata-rata keabuan piksel). Kedua parameter ini mencerminkan kondisi konektivitas tulang trabekular mandibula, yakni jaringan tulang berpori yang merespons perubahan kepadatan mineral secara sistemik.

Hasilnya cukup mengejutkan. Area parameter menunjukkan korelasi negatif yang signifikan dengan BMD lumbar spine (r = -0,371) dan T-score lumbar spine (r = -0,383). Artinya, semakin tinggi nilai area parameter dalam radiograf, semakin rendah kepadatan tulang belakangnya. Uji regresi linear lebih jauh membuktikan bahwa area parameter dapat digunakan untuk memprediksi T-score lumbar spine (F = 5,822, α < 0,05).

“The area parameter can be used as one of input parameters for computer-aided system of osteoporosis early detection by using periapical radiograph.” — Dr. drg. Rini Widyaningrum, M.Biotech, dalam paper IJECE 2018

The integrated density menunjukkan korelasi negatif signifikan dengan T-score panggul (r = -0,332) dan T-score lumbar spine (r = -0,377), meski belum cukup kuat untuk dijadikan prediktor mandiri melalui uji regresi.

Mengapa Lumbar Spine, Bukan Panggul?

Salah satu temuan menarik adalah mengapa korelasi lebih kuat ke lumbar spine dibanding panggul. Jawabannya ada pada komposisi tulang: lumbar spine tersusun dari 66 persen tulang trabekular, sementara panggul hanya 25 persen. Karena tulang trabekular mandibula yang dianalisis dalam radiograf periapikalnya juga merupakan jaringan yang sama, perubahan sistemik pada trabekular lebih mudah “terbaca” secara paralel antara rahang dan tulang belakang.

Ketika osteoporosis berkembang, perforasi pada tulang trabekular mandibula meningkat. Ini mengakibatkan nilai area parameter naik karena lebih banyak “lubang” yang terdeteksi oleh canny edge detection. Pola inilah yang berkorelasi dengan menurunnya T-score lumbar spine.

Meski korelasi yang ditemukan masih dalam kategori lemah hingga sedang, para peneliti menegaskan bahwa ini adalah langkah pertama yang valid dalam membangun sistem computer-aided diagnosis (CAD) untuk skrining osteoporosis berbasis radiograf gigi. Nilai R-square sebesar 14,6 persen untuk prediksi T-score lumbar spine memang kecil, namun cukup bermakna sebagai satu dari banyak parameter input yang akan diintegrasikan dalam sistem CAD yang lebih komprehensif.

Langkah Kecil Menuju Deteksi Dini yang Terjangkau

Penelitian ini memiliki implikasi praktis yang nyata. Jika sistem CAD berbasis radiograf periapikalnya berhasil dikembangkan secara penuh, seorang dokter gigi di klinik kecil sekalipun bisa memberikan peringatan dini osteoporosis kepada pasiennya, cukup dari foto rontgen rutin yang sudah ada. Tidak perlu mesin DEXA senilai ratusan juta rupiah. Tidak perlu rujukan ke rumah sakit besar.

Penelitian ini juga menjadi salah satu literatur awal yang secara khusus mengkaji perempuan pascamenopause dari populasi Indonesia, kelompok yang selama ini kurang terwakili dalam studi serupa yang didominasi data Barat.

Perempuan yang datang ke klinik gigi untuk urusan tambal gigi itu, tanpa sadar, mungkin sedang membawa data penting tentang kondisi tulangnya sendiri. Yang dibutuhkan tinggal sistem yang cukup cerdas untuk membacanya.

Sumber DOI : DOI: 10.11591/ijece.v8i4.pp2083-2090

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Freepik

Tags

Share News

Related News
21 July 2026

FKG UGM Usung Konsep Green Dentistry pada Summer Course 2026

21 July 2026

Ketika Karier Mandek, Siapa yang Bertanggung Jawab?

21 July 2026

Nanokitosan Lawan Bakteri Tersembunyi di Balik Kawat Gigi

en_US