News

/

Artikel, Latest News

Foto Panoramik Gigi Ternyata Menyisakan Jejak Kerusakan DNA, Meski Sebentar

Setiap kali pasien berdiri di depan mesin panoramik di klinik gigi, sinar-X memutar mengelilingi kepala mereka dalam hitungan detik. Hasilnya: gambar lengkap seluruh rahang yang membantu dokter mendiagnosis kondisi gigi, tulang, hingga sinus. Tapi di balik kemudahan itu, ada pertanyaan yang selama ini belum terjawab tuntas: apa yang sebenarnya terjadi pada sel-sel di dalam mulut pasien, tepat setelah paparan radiasi itu berlangsung?

drg. Ryna Dwi Yanuaryska, Ph.D., dari Departemen Radiologi Dentomaksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, mencoba menjawabnya secara langsung di tingkat molekuler. Penelitian yang dipublikasikan di Journal of Dentistry Indonesia pada 2018 ini menjadi yang pertama menggunakan metode comet assay untuk mengamati kerusakan DNA pada sel mukosa bukal manusia akibat paparan radiografi panoramik.

Dari Sel Pipi ke Bawah Mikroskop Fluoresen

Subjek penelitian ini adalah 20 pasien yang menjalani pemeriksaan panoramik rutin di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Prof. Soedomo FKG UGM. Mereka dibagi dalam dua kelompok: satu kelompok diambil sampel sel pipinya 30 menit setelah foto panoramik, kelompok lain diambil 24 jam kemudian. Semua peserta juga diambil sampelnya sebelum paparan, sebagai data pembanding.

Pemilihan sel mukosa bukal bukan tanpa alasan. Sel ini mudah diambil hanya dengan mengusap bagian dalam pipi menggunakan sikat kecil (cytobrush), jauh lebih nyaman dibanding mengambil sel limfosit dari darah yang bersifat invasif. Setelah sel dikumpulkan, proses comet assay dimulai: sel ditempatkan dalam gel agarosa, dilisis, lalu dipapar medan listrik. DNA yang utuh bergerak lambat, sementara fragmen DNA yang rusak bergerak lebih cepat dan membentuk “ekor komet” yang khas di bawah mikroskop fluoresen.

Analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak OpenComet, yang secara otomatis mengidentifikasi bentuk komet dan mengukur persentase DNA pada ekor (tail DNA%), parameter yang paling sensitif untuk mendeteksi double-strand breaks (DSBs), yaitu putusnya kedua untai DNA sekaligus.

Kerusakan Muncul, Lalu Menghilang

Hasilnya mengejutkan sekaligus melegakan. Pada kelompok yang diambil sampelnya 30 menit setelah paparan, terjadi peningkatan tail DNA% yang signifikan secara statistik (p=0,014). Artinya, radiasi dari foto panoramik benar-benar memicu DSBs pada sel mukosa bukal dalam waktu setengah jam. Namun pada kelompok yang diambil 24 jam kemudian, perbedaan itu tidak lagi terdeteksi (p=0,29). Tingkat kerusakan DNA kembali ke kondisi sebelum paparan.

“DSBs dapat dipicu pada sel mukosa bukal 30 menit setelah paparan radiasi panoramik, sehingga menegaskan pentingnya tiga prinsip proteksi radiasi: justifikasi, optimasi, dan limitasi dosis.” — drg. Ryna Dwi Yanuaryska, Ph.D.

Pemulihan dalam 24 jam itu bukan kebetulan. Sel manusia memiliki mekanisme perbaikan DNA yang canggih. Begitu kerusakan terdeteksi, kompleks protein MRN (Mre11-Rad50-Nbs1) aktif merekrut serangkaian protein perbaikan ke lokasi kerusakan. Dua mekanisme utama yang bekerja adalah non-homologous end-joining and homologous recombination, keduanya mampu menyambung kembali untai DNA yang putus.

Dosis Rendah Bukan Berarti Tanpa Risiko

Dosis radiasi yang digunakan dalam foto panoramik memang jauh di bawah batas aman yang ditetapkan International Commission on Radiological Protection (ICRP). Panoramik menggunakan sekitar 2,7 hingga 38 mikrosievert, sementara batas tahunan yang diperbolehkan adalah 0,3 milisievert. Namun temuan ini mengingatkan bahwa tidak ada dosis radiasi yang sepenuhnya bebas risiko biologis.

Prinsip dalam radioproteksi menyebutkan bahwa semua dosis radiasi, berapapun besarnya, dianggap berpotensi menimbulkan dampak. Ini yang dikenal sebagai model linear no-threshold, yang menjadi dasar regulasi keselamatan radiasi global. Penelitian drg. Ryna memberikan bukti konkret bahwa prinsip itu bukan sekadar teori konservatif.

Temuan ini juga membuka pertanyaan lanjutan yang belum terjawab: gen-gen apa saja yang terlibat dalam proses perbaikan DNA pada sel mukosa bukal setelah paparan dosis rendah? Seberapa cepat tepatnya perbaikan itu dimulai? Penelitian lebih lanjut dengan jendela waktu yang lebih rapat dan analisis ekspresi gen diharapkan dapat menjawabnya.

Implikasi untuk Praktik Klinis Sehari-hari

Foto panoramik adalah salah satu prosedur paling rutin di klinik gigi. Digunakan untuk mengevaluasi pertumbuhan gigi bungsu, perencanaan implan, hingga deteksi kista rahang. Setiap tahun, jutaan orang menjalaninya di seluruh dunia. Penelitian ini tidak mengatakan bahwa prosedur itu berbahaya atau harus dihindari. Namun ia mengingatkan satu hal yang kadang terlupakan di tengah rutinitas klinik: setiap permintaan foto radiografi harus memiliki alasan klinis yang jelas, menggunakan dosis serendah mungkin untuk hasil yang memadai (as low as reasonably achievable), dan pelindung radiasi seperti apron timbal tetap relevan.

Kerusakan DNA yang pulih sendiri dalam 24 jam mungkin terdengar tidak mengkhawatirkan. Tapi dalam jangka panjang, terutama bagi pasien yang menjalani banyak prosedur radiografi sepanjang hidupnya, akumulasi paparan tetap menjadi pertimbangan yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Sumber DOI : doi: 10.14693/jdi.v25i1.1124

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Freepik

Tags

Share News

Related News
20 July 2026

Hubungan Kesehatan dan Integritas

20 July 2026

FKG UGM ‘Bedah’ Kurikulum & Tantangan Regulasi Baru Penyelenggaraan Pendidikan Dokter Gigi Spesialis (Sp-2)

20 July 2026

Ketika Tikus Transgenik Membuka Jendela Baru Memahami Kanker Mulut

en_US