Pengelola Program Studi Profesi Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) menyelenggarakan kegiatan pembekalan panduan akademik bagi 18 mahasiswa profesi (koas) Angkatan 92 pada Rabu (26/8/2026). Bertempat di UGM, acara ini disampaikan langsung oleh Sekretaris Prodi Profesi Dokter Gigi, drg. Pramudya Aditama, MDSc., Sp.Pros., sebagai langkah strategis dalam menjaga kualitas serta mempertahankan keberhasilan kelulusan 100% pada Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter Gigi (UKMPPDGS).
Dalam pengarahannya, drg. Pramudya menjelaskan bahwa seluruh tahapan akademik—mulai dari seleksi entry exam hingga pembelajaran klinik—dirancang secara sistematis untuk memastikan seluruh mahasiswa mampu menuntaskan studi tepat waktu dengan standar kompetensi nasional yang tinggi. Pembekalan ini menjadi momentum krusial bagi koas baru yang akan menjalani pendidikan klinik selama dua tahun, terbagi dalam tahapan stase Junior, Madya, hingga Senior.
Analisis Akademik: Standarisasi Mutu dan Inovasi Simaspro keberhasilan FKG UGM mencetak kelulusan 100% pada exit exam nasional selama enam periode berturut-turut merupakan hasil dari pemantauan mutu yang ketat sejak entry exam. Guna mengoptimalkan pemantauan capaian target klinis mahasiswa secara akurat dan transparan, pengelola prodi kini mengimplementasikan sistem digital Simaspro. Inovasi ini menggantikan pemantauan manual spreadsheet, sehingga verifikasi target (requirement) klinik antar mahasiswa, Dosen Pembimbing Klinik (DPK), maupun Dosen Penanggung Jawab Perawatan (DPJP) terintegrasi secara real-time.
Selain pemantauan digital, drg. Pramudya juga menekankan pentingnya manajemen waktu yang mandiri dan tingkat kedewasaan tinggi dari para mahasiswa. Berbeda dengan jenjang S1 yang memiliki jadwal perkuliahan terstruktur, pendidikan profesi menuntut kemandirian penuh dalam mengatur jadwal pelayanan pasien di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) UGM maupun RS jejaring, penyelesaian syarat kasus, hingga persiapan ujian komprehensif.
Guna mendukung profesionalisme mahasiswa di lapangan, prodi profesi juga terus memperbarui struktur kurikulum menjadi 36 SKS sesuai instruksi nasional tanpa menambah beban teknis mahasiswa. Berbagai kegiatan penunjang seperti Pelayanan Kesehatan Masyarakat (PKM), pertukaran mahasiswa (student exchange), pelatihan kegawatdaruratan, serta fotografi dental kini direkognisi secara resmi ke dalam bobot SKS.

“Koas itu memang berat, tetapi kalian harus kuat. Ujian akademik dan ujian kehidupan di klinik bukan diciptakan untuk menghambat, melainkan untuk melatih ketangguhan, etika, dan keahlian kalian agar siap melayani masyarakat secara profesional.” — drg. Pramudya Aditama, MDSc., Sp.Pros.
Di akhir sesi, drg. Pramudya mengimbau seluruh mahasiswa untuk senantiasa menjaga etika profesi, menjaga kerahasiaan medis serta privasi pasien di media sosial, dan menjalin komunikasi yang harmonis dengan seluruh civitas hospitalia. Dengan kerja keras, kolaborasi antar sejawat, dan ketaatan pada panduan akademik, FKG UGM optimistis Angkatan 92 dapat melangkah bersama hingga meraih gelar dokter gigi secara tepat waktu dan membanggakan.
(Reporter: Andri Wicaksono, Nanda. Foto: Hazra)