News

/

Latest News

FKG UGM Menerima Kunjungan Benchmarking FKG UMY Siapkan Pendirian PPDGS Prostodonsia

Kunjungan benchmarking Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ke Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) bukan hanya agenda berbagi pengalaman pengelolaan pendidikan. Pertemuan tersebut berkembang menjadi pembicaraan strategis mengenai rencana pembukaan Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis (PPDGS) Prostodonsia di UMY.

Bagi kedua institusi, rencana tersebut memiliki makna lebih luas. Kolaborasi FKG UGM dan FKG UMY diproyeksikan menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas pendidikan dokter gigi spesialis sekaligus mendukung agenda nasional pemerataan tenaga kesehatan kedokteran gigi spesialis prostodonsia.

Dalam pertemuan tersebut, FKG UGM menyatakan kesiapannya untuk mendukung proses pengembangan PPDGS Prostodonsia UMY melalui skema pembinaan, pendampingan akademik, penguatan sumber daya manusia, pengembangan kurikulum, hingga aspek tata kelola kerja sama.

Wakil Dekan FKG UGM bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia, drg. Heribertus Deddy Kusuma Yulianto, M.Biotech., Ph.D., serta Wakil Dekan bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama, drg. Trianna Wahyu Utami, M.DSc., Ph.D., hadir bersama jajaran Departemen Prostodonsia & Program Studi PPDGS Prostodonsia.

Dari UMY, rombongan dipimpin Wakil Rektor Bidang Pengembangan Al-Islam Kemuhammadiyahan, Prof. Muhammad Faris Al Fadhat bersama Dekan FKG UMY drg. Edwyn Saleh, Sp.BMM, MARS dan jajaran yang terlibat dalam persiapan pembukaan program spesialis prostodonsia. Perguruan tinggi kini semakin bergeser dari sekadar aktivitas melihat dan membandingkan tata kelola institusi menjadi ruang membangun kemitraan strategis.

FKG UMY hadir dengan kebutuhan yang cukup spesifik, memperoleh pembinaan dan pendampingan FKG UGM dalam menyiapkan pembukaan PPDGS Prostodonsia. Prof. Muhammad Faris Al-Fadhat mengatakan hubungan FKG UMY dengan FKG UGM memiliki sejarah panjang. Bahkan, perkembangan sejumlah program pendidikan di UMY tidak dapat dilepaskan dari kontribusi akademisi dan alumni UGM.

Ia mengatakan, UMY memperoleh amanah untuk mengembangkan pendidikan dokter gigi spesialis, termasuk melalui dukungan dan pembinaan dari institusi yang memiliki pengalaman serta kapasitas akademik. Bagi UMY, pembukaan PPDGS Prostodonsia bukan hanya kebutuhan internal perguruan tinggi. FKG UMY dipandang memiliki tanggung jawab lebih luas karena merupakan program studi kedokteran gigi pertama di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah.

“Kalau ini berhasil, mudah-mudahan menjadi amanah baik bagi UMY sekaligus menjadi berkah juga bagi UGM yang ikut membantu melahirkan spesialis-spesialis di luar PTN dan juga perguruan tinggi negeri,” kata Prof. Muhammad Faris.

Menjawab Kekurangan Dokter Gigi Spesialis

Urgensi pengembangan pendidikan dokter gigi spesialis menjadi salah satu isu penting dalam pertemuan tersebut. Data yang disampaikan dalam forum menggarisbawahi masih besarnya kebutuhan dokter gigi di Indonesia. Bahkan, kebutuhan dokter gigi spesialis disebut masih jauh dari terpenuhi.

Kondisi tersebut membuat ekspansi pendidikan dokter gigi spesialis menjadi bagian penting dari strategi pembangunan kesehatan. Namun, persoalannya bukan semata-mata berapa banyak program studi baru yang dibuka. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan program studi baru memiliki sumber daya manusia, kurikulum, sistem pendidikan, fasilitas, tata kelola, dan jejaring rumah sakit pendidikan yang memenuhi standar.

Di sinilah kemitraan antara FKG UGM dan FKG UMY memperoleh relevansinya. Pembukaan program spesialis tidak dapat dilakukan hanya dengan keputusan administratif. Ia membutuhkan ekosistem akademik yang mampu menghasilkan lulusan dengan kompetensi klinis dan akademik yang memadai. Karena itu, FKG UGM memandang proses pembinaan harus dilakukan sejak tahap awal. Prof. drg. Rosa Amalia, M.Kes., Ph.D., menegaskan bahwa FKG UGM memiliki pengalaman dalam menjalankan mandat pembinaan terhadap institusi lain.

“Kita mengharapkan adanya kerja sama dan juga kemitraan yang nantinya bersama-sama kita dapat meluluskan dokter gigi baru, baik dari program SP1 maupun juga SP2,” ujarnya. Menurut Prof. Rosa, kerja sama tersebut perlu dibangun dengan kerangka yang jelas, termasuk melalui MoU dan PKS serta pembahasan kebutuhan program studi secara bertahap.

SDM Modalitas Utama

Salah satu persoalan paling strategis dalam pembukaan PPDGS Prostodonsia adalah sumber daya manusia. Dalam forum tersebut disampaikan bahwa FKG UMY telah memiliki sejumlah dosen dengan kualifikasi yang mendukung pengembangan Prostodonsia, termasuk dosen yang telah mencapai level KKNI 9. Namun, keberadaan SDM yang memenuhi kualifikasi belum otomatis menyelesaikan seluruh persoalan. Masih diperlukan mekanisme penguatan kompetensi dan pemenuhan persyaratan pendidikan spesialis.

Salah satu skema yang dibahas adalah Recognition of Prior Learning (RPL) Tipe B. Skema tersebut menjadi penting karena dosen yang diproyeksikan memperkuat program spesialis perlu memiliki jalur pendidikan yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Dengan demikian, pembukaan program studi, penguatan SDM, dan pendidikan lanjutan bagi calon tenaga pengajar harus berjalan secara simultan. “Kita menginisiasi, semoga nanti kita bisa bersama-sama mengembangkan spesialisasi di bidang Prostodonsia,” demikian disampaikan dari pihak FKG UMY dalam forum tersebut.

Pemerataan Dokter Gigi Spesialis di Indonesia

Salah satu dimensi paling penting dari rencana pembukaan PPDGS Prostodonsia UMY adalah potensi kontribusinya terhadap pemerataan dokter gigi spesialis. FKG UGM menyampaikan bahwa pendidikan spesialis juga memiliki mandat sosial untuk memastikan lulusan tidak hanya terkonsentrasi di pusat-pusat perkotaan.

Penerimaan mahasiswa pun diarahkan agar memperhatikan aspek afirmasi dan pemerataan. “Kita juga memerhatikan dokter-dokter gigi umum yang berasal dari wilayah-wilayah terutama di wilayah 3T,” ujar Prof. Rosa. Ia mencontohkan masih adanya rumah sakit di sejumlah wilayah yang belum memiliki dokter gigi spesialis.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masalah distribusi tenaga kesehatan tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah jumlah lulusan. Diperlukan kebijakan pendidikan yang sejak awal mempertimbangkan asal mahasiswa, kebutuhan daerah, serta kemungkinan lulusan kembali mengabdi di wilayah yang kekurangan tenaga spesialis.

Dengan perspektif tersebut, rencana pendirian PPDGS Prostodonsia di UMY dapat memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar memperbesar kapasitas pendidikan. Program tersebut berpotensi menjadi salah satu simpul baru dalam jaringan distribusi dokter gigi spesialis di Indonesia.

(Reporter: Andri Wicaksono, Photo: Fajar Budi Harsakti)

Tags

Share News

Related News
13 October 2026

Wujudkan Fasilitas Pembelajaran Modern, FKG UGM Resmi Memulai Pembangunan Gedung Harkati Dewanto dan Subagyo Harjowiyoto

12 October 2026

Pembangunan Gedung Baru FKG UGM Segera Dimulai

12 October 2026

Debat Eksternal PEMIRA 2026 FKG UGM: Uji Gagasan di Hadapan Publik