Suasana kehangatan dan kebahagiaan menyelimuti Lapangan Helipad Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) pada Sabtu, (5/9/26). Ratusan tenaga pendidik yang tergabung dalam Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Yogyakarta berkumpul bersama sivitas akademika FKG UGM, Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Prof. Soedomo, Ikatan Prostodonsia Indonesia (IPROSI) Cabang Yogyakarta, serta PT Haleon Indonesia (Polident) dalam acara puncak dan penutupan rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Balikin Senyum Guru Indonesia”.
Program pengabdian masyarakat ini menjadi wujud apresiasi nyata dan komitmen sosial bersama dalam meningkatkan kesehatan rongga mulut serta mengembalikan kepercayaan diri para guru. Kota Yogyakarta secara istimewa terpilih menjadi kota pertama sekaligus penutup dari rangkaian program nasional Polident yang telah menjangkau lebih dari 1.000 guru di berbagai kota besar di Indonesia.
Acara diawali dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh drg.Indra Wijaya dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Hymne Gadjah Mada, dan Mars PGRI secara khidmat. Setelahnya, rangkaian sambutan disampaikan oleh para pimpinan lintas instansi.
Ketua Panitia Kegiatan, drg. Henry Setiawan, dalam reportase pelaksanaannya menyampaikan pencapaian nyata dari program pengabdian ini:
“Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa. Pada kesempatan ini, kami dapat memberikan pelayanan kepada 85 orang guru penerima manfaat, dengan total 130 protesa gigi tiruan yang telah dipersiapkan. Angka tersebut bukan sekadar data, tetapi merupakan gambaran dari 85 senyum yang telah kita kembalikan, 85 bentuk apresiasi, dan 85 cerita dari para guru yang telah berjasa mendidik bangsa. Kami berharap gigi tiruan ini tidak hanya membantu fungsi makan dan berbicara, tetapi juga mengembalikan kepercayaan diri Bapak dan Ibu Guru. Terima kasih kepada pimpinan FKG, RSGM Soedomo, para dosen pembimbing, residen prostodonsia, hingga adik-adik koas yang telah mencurahkan waktu dan dedikasinya.” Jelas drg.Henry
Wakil Ketua PGRI Kota Yogyakarta,Muhammad Mufidari, S.Pd., yang hadir mewakili Ketua PGRI, menyampaikan rasa haru dan terima kasih yang mendalam:
“Meskipun nama programnya adalah gigi palsu, pengabdian para dokter dan sivitas FKG UGM ini sama sekali tidak palsu. Ini tulus pengabdian kepada masyarakat dan guru-guru kami di Kota Yogyakarta. Kami berharap program ini tidak berhenti di sini karena masih banyak guru yang membutuhkan. Dari sekitar 7.000 guru di Jogja, bantuan ini sangat menyentuh dan bermanfaat. Semoga kerja sama ini terus terjalin baik untuk pelayanan kesehatan gigi maupun pengabdian masyarakat lainnya.” Ujar beliau
Selanjutnya,Fahmi Faturrahman selaku Head of Brand Management PT Haleon Indonesia, menekankan pentingnya sinergi antara dunia industri dan akademisi:
“Dua tahun lalu kami memulai inisiatif pembagian gigi tiruan. Tahun ini kami berdiskusi, profesi apa yang paling berjasa dalam hidup kita? Jawabannya adalah Guru. Keberhasilan kita semua yang hadir di sini pasti ada peran dari guru-guru kita. Sangat miris ketika mendengar ada guru yang tidak percaya diri mengajar atau bahkan menjadi bahan olokan karena ompong. Melalui kolaborasi manis antara industri dan akademisi FKG UGM ini, kami ingin mengembalikan senyum mereka. Ketika guru percaya diri mengajar ribuan murid, setiap kebaikan yang lahir akan menjadi amal jariah yang terus mengalir.” Harapnya

Sambutan berikut nya Ketua Departemen Prostodonsia FKG UGM, drg.Intan Ruspita,M.Kes,PhD, Sp.Pros Subsp OGST (K), memberikan terminologi edukatif mengenai penggunaan istilah medis yang tepat:
“Bagi Departemen Prostodonsia, kegiatan ini adalah capaian pembelajaran nyata bagi mahasiswa dalam mengaplikasikan ilmu. Saya ingin sedikit mengklarifikasi penggunaan istilah ‘gigi palsu’. Kami di bidang kedokteran gigi lebih suka menyebutnya sebagai ‘gigi tiruan’. Kata ‘palsu’ terkesan negatif atau tidak sah, sedangkan ‘tiruan’ berfokus pada replika yang menyerupai bentuk aslinya untuk mengembalikan fungsi. Terima kasih kepada PT Haleon dan seluruh tim yang telah bekerja keras. Semoga gigi tiruan yang dipasang membawa kenyamanan dan kesehatan.” Pungkas nya

drg. Margareta Rinastiti, M.Kes., Sp.KG. Subsp.KR(K)., Ph.D. (Direktur RSGM UGM Prof Soedomo) menegaskan kesiapan fasilitas pelayanan RSGM UGM dalam mendukung kesehatan para guru:
“RSGM UGM memiliki pelayanan kesehatan gigi dan mulut paling lengkap dengan dokter spesialis dan subspesialisasi yang komprehensif. Kami siap terbuka bekerja sama dengan PGRI. Untuk pelayanan rutin, RSGM Soedomo juga telah terintegrasi dengan BPJS Kesehatan. Kami sangat bangga adik-adik residen dan koas dapat memberikan karya nyata terbaiknya bagi para guru yang dulu telah mendidik kita semua.” Tegasnya
Sebagai pemungkas rangkaian sambutan, Dekan FKG UGM, Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D., menyampaikan apresiasinya dengan gaya yang hangat, penuh humor, serta menyisipkan aksi panggung hiburan:
“Tema ‘Balikin Senyum Guru Indonesia’ ini sangat menarik. Melalui kolaborasi FKG UGM, IPROSI, dan Haleon, senyum Bapak dan Ibu Guru yang sempat hilang kini kita kembalikan. Gigi tiruan ini akan membuat Bapak dan Ibu lebih luwes mengajar, pengucapan kata lebih jelas, dan tampil percaya diri. Walaupun disebut gigi palsu, ini adalah satu-satunya benda ‘palsu’ yang diberikan secara gratis, bermanfaat, dan tidak akan pernah ditangkap oleh polisi!” Tandasnya
Di sela-sela sambutannya, Prof. Suryono secara mengejutkan menampilkan pertunjukan sulap permainan kartu yang disambut gelak tawa dan tepuk tangan riuh dari seluruh hadirin di Lapangan Heliped.

Sesi dilanjutkan dengan edukasi interaktif perawatan gigi tiruan yang dibawakan oleh drg. Nabila dan drg. Rino Prisma Sasongko. Kedua narasumber membagikan tips penting agar gigi tiruan tetap awet dan higienis:
- Lama Pakai & Waktu Istirahat: Gigi tiruan rata-rata bertahan 5–10 tahun karena jaringan gusi dan tulang akan terus mengalami perubahan. Gigi tiruan wajib dilepas saat tidur malam untuk memberikan kesempatan gusi beristirahat dan mencegah perkembangbiakan kuman/jamur.
- Cara Membersihkan yang Tepat: Dilarang menggosok gigi tiruan menggunakan pasta gigi biasa atau sabun cair pencuci piring karena bersifat abrasif (mengikis permukaan akrilik hingga kasar dan mudah menampung bakteri). Pembersihan disarankan menggunakan sikat berbulu halus di bawah air mengalir, atau direndam menggunakan tablet pembersih khusus (denture cleanser).
- Penyimpanan Safe-Handling: Saat mencuci gigi tiruan, isi wadah/baskom di bawahnya dengan air guna mengantisipasi jika gigi tiruan terlepas dari tangan agar tidak pecah membentur lantai. Jika sedang tidak dipakai, simpan dalam wadah tertutup yang bersih dan lembap.
- Adaptasi Awal: Penggunaan perekat gigi tiruan (denture adhesive) dapat membantu menahan posisi gigi tiruan agar makanan tidak mudah terselip serta meredam tekanan saat mengunyah pada masa adaptasi.

Rasa bahagia dan haru terpancar jelas dari para guru penerima manfaat. Ibu Neni Nuraeni, seorang guru TK Masjid Syuhada, mengaku sangat bersyukur.
“Sudah lama ompong jadi nggak bisa makan makanan renyah. Setelah dipasang gigi tiruan ini, saya kangen banget dan pengin langsung makan slondok satu toples,” ujarnya penuh tawa.
Senada dengan Ibu Neni, Ibu Siska yang juga seorang guru TK menyampaikan apresiasinya.
“Harga pembuatan gigi tiruan cukup tinggi. Bantuan gratis dari FKG UGM dan Polident ini sangat membantu mengembalikan rasa percaya diri kami saat berdiri mengajar di depan anak-anak. Sekarang saya sudah berani makan makanan yang lebih berserat lagi,” tuturnya.
Rangkaian acara ditutup dengan gelora semangat seluruh peserta menyuarakan slogan bersama “Balikin Senyum Guru Indonesia Bersama Polident Rekatkan Percaya Diri, Kembali Menginspirasi!” Rangkaian pengabdian masyarakat ini membuktikan bahwa sinergi antara akademisi, rumah sakit pendidikan, organisasi profesi, dan dunia industri mampu menghadirkan dampak sosial yang nyata bagi kesejahteraan bangsa.
(Reporter : Andri Wicaksono, Nanda ,Foto: Dody Hendro, Anny)