Penuaan usia penduduk bukan lagi isu masa depan, melainkan realitas yang kian mendesak. Indonesia diproyeksikan memasuki fase aging population dalam dua dekade ke depan. Di tengah tantangan itu, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) bersama Japanese Society for Oral Health (JSOH) menandai babak baru kerja sama akademik internasional melalui penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) yang berfokus pada penguatan Geriatric Dentistry.
Kerja sama yang ditandatangani pada 22 Januari 2026 tersebut menjadi landasan pelaksanaan Workshop on Geriatric Dentistry, sekaligus membuka ruang kolaborasi riset, pertukaran keilmuan, dan penguatan kapasitas akademik lintas negara. Jepang dipilih bukan tanpa alasan, negara ini telah lama belajar dengan populasi lansia terbesar di dunia, termasuk implikasinya pada kesehatan gigi dan mulut.
"Geriatric dentistry bukan hanya persoalan klinis, tetapi menyangkut kualitas hidup, kemandirian lansia, dan sistem kesehatan secara keseluruhan,” ujar Prof. Hiroshi Ogawa selaku pimpinan JSOH.

DARI WORKSHOP KE KERANGKA AKADEMIK JANGKA PANJANG
MoA antara FKG UGM dan JSOH secara eksplisit menegaskan bahwa kerja sama ini tidak berhenti pada satu kegiatan seremonial. Workshop on Geriatric Dentistry diposisikan sebagai pintu masuk menuju agenda akademik yang lebih luas: pertukaran materi ajar, pelibatan pakar internasional, hingga pengembangan riset berbasis data populasi lansia.
JSOH, melalui jajaran pengurus dan tim internasionalnya, menugaskan sejumlah pakar senior dalam bidang kesehatan gigi masyarakat dan geriatri. Diantaranya Prof. Hiroshi Ogawa (Board of Director JSOH), Prof. Masanori Iwasaki, dan Dr. Takashi Hoshino, yang telah lama terlibat dalam pengembangan kebijakan dan riset kesehatan gigi & mulut lansia di Jepang.
Sementara dari FKG UGM, keterlibatan pimpinan fakultas hingga unit kerja strategis menunjukkan bahwa kerja sama ini dipersiapkan secara institusional. Wakil Dekan Bidang Akademik, Wakil Dekan Bidang Kerja Sama, Pengabdian Masyarakat & Riset hadir bersama para dosen dan pengelola unit terkait.
MENGAPA GERIATRIC DENTISTRY MENDESAK?
Data global menunjukkan bahwa kesehatan gigi dan mulut lansia kerap terpinggirkan dalam sistem layanan kesehatan. Padahal, kondisi rongga mulut berkaitan erat dengan penyakit sistemik seperti diabetes, penyakit kardiovaskular, hingga risiko malnutrisi.
Jepang menjadi contoh konkret bagaimana penuaan penduduk memaksa dunia akademik dan pembuat kebijakan berpikir lintas disiplin. Menariknya, bahkan di Jepang sendiri, geriatric dentistry masih menghadapi tantangan institusional.
“Di beberapa fakultas kedokteran gigi di Jepang, geriatri belum menjadi mata kuliah yang sepenuhnya mandiri. Ini tantangan global, bukan hanya Indonesia,” ujar Prof. Masanori Iwasaki
Di titik inilah kerja sama lintas negara menjadi relevan: berbagi praktik terbaik, sekaligus belajar dari keterbatasan masing-masing sistem.

RISET, DATA, DAN KEBIJAKAN PUBLIK
Salah satu penekanan penting dalam kerja sama FKG UGM–JSOH adalah penguatan riset berbasis data. Workshop tidak hanya diarahkan pada transfer pengetahuan klinis, tetapi juga pada pengumpulan data lapangan yang mencerminkan kondisi riil lansia di Indonesia.
Pendekatan ini dinilai krusial agar hasil akademik tidak berhenti di ruang kelas atau jurnal ilmiah, melainkan berkontribusi pada perumusan strategi kesehatan gigi dan mulut dalam kerangka kebijakan nasional.
JSOH bahkan membuka peluang lanjutan berupa kolaborasi riset internasional dan akses jejaring akademik, termasuk peluang studi lanjut dan beasiswa di Jepang bagi sivitas akademika Indonesia.

DIPLOMASI AKADEMIK DI TENGAH TANTANGAN GLOBAL
Di luar aspek teknis, kerja sama ini juga mencerminkan wajah lain diplomasi Indonesia–Jepang: diplomasi berbasis pengetahuan. Ketika isu kesehatan, penuaan, dan kesejahteraan sosial menjadi tantangan lintas batas, universitas mengambil peran sebagai simpul dialog dan solusi.
FKG UGM menempatkan diri bukan hanya sebagai penerima pengetahuan, tetapi sebagai mitra sejajar dalam pengembangan keilmuan. Harapannya, kolaborasi ini dapat berkembang melampaui satu kegiatan, menjangkau riset bersama, publikasi internasional, hingga kontribusi nyata pada peningkatan layanan kesehatan gigi lansia di Indonesia.
“Kerja sama ini baru permulaan. Tantangan penuaan penduduk membutuhkan keberlanjutan, bukan proyek sesaat,” demikian penegasan Dekan FKG UGM dalam forum tersebut.
Dengan MoA ini, FKG UGM dan JSOH tidak sekadar menandatangani dokumen kerja sama, tetapi juga menandai komitmen bersama: menjadikan ilmu kedokteran gigi lebih relevan dengan perubahan demografi, sekaligus lebih manusiawi dalam menjawab kebutuhan kelompok usia lanjut.
(Reporter: Andri Wicaksono, Fotografi: Fajar Budi Harsakti)