News

/

Latest News

FKG UGM Ambil Bagian Dalam 3 Tim Pada PIMNAS ke-39 Undip

Tiga tim mahasiswa FKG UGM menghadirkan gagasan inovatif dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39 di Universitas Diponegoro, Semarang. Mengusung pendekatan lintas disiplin ilmu, ketiga tim mengembangkan inovasi yang menjawab persoalan nyata di masyarakat, mulai dari akses energi bagi penyintas banjir, teknologi simulasi pencabutan gigi, hingga deteksi dini risiko prediabetes melalui air liur.

Keikutsertaan mahasiswa FKG UGM dalam PIMNAS ke-39 bersama 3 dosen pembimbing: Prof. Dr. drg. Archadian Nuryanti, M.Kes. drg. Hendri Susanto, M.Kes., PhD, Sp.PM & Dr. drg. Indra Bramanti, M.Sc., Sp.KGA(K) tidak sekadar menjadi ruang kompetisi akademik, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kreativitas, penguasaan ilmu pengetahuan, dan kolaborasi lintas disiplin dapat diarahkan untuk menghasilkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

Tiga gagasan yang dikembangkan memperlihatkan spektrum inovasi yang menarik. Mahasiswa tidak hanya berupaya menghasilkan teknologi baru, tetapi juga merancang pendekatan yang memiliki relevansi terhadap kebutuhan kesehatan, keselamatan, dan keberlanjutan kehidupan masyarakat.

Solar Bridge: Energi Terbarukan untuk Penyintas Banjir

Salah satu inovasi tersebut dikembangkan melalui program PKM-VGK berjudul Solar Bridge: Jembatan Sistem Saling Mengunci dengan Integrasi Energi Terbarukan sebagai Solusi Akses dan Listrik Darurat bagi Penyintas Banjir.

Tim yang diketuai Amanda Syifa Lusayni ini menawarkan gagasan jembatan dengan sistem saling mengunci yang terintegrasi dengan energi terbarukan. Inovasi tersebut diarahkan untuk menjawab dua persoalan yang kerap muncul ketika bencana banjir melanda, yakni terputusnya akses mobilitas masyarakat dan terganggunya pasokan listrik.

Dalam situasi bencana, keterbatasan infrastruktur penghubung dapat menghambat proses evakuasi, distribusi bantuan, serta mobilitas penyintas. Pada saat bersamaan, terputusnya jaringan listrik dapat memperbesar kerentanan masyarakat, terutama di wilayah yang sulit dijangkau.

Melalui konsep Solar Bridge, tim berupaya mengintegrasikan fungsi infrastruktur penghubung dengan penyediaan energi darurat berbasis energi terbarukan.

Tim ini melibatkan mahasiswa dari Kedokteran Gigi, Teknik Sipil, Teknik Elektro, dan Arsitektur. Selain Amanda Syifa Lusayni sebagai ketua, tim terdiri atas Danys Aqela, Rainy Azzahra, Muhammad Akbar, dan Annisa Hasna Alefia. Tim dibimbing drg. Hendri Susanto, M.Kes., Sp.PM., Ph.D.

Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kebencanaan membutuhkan pendekatan multidisiplin. Rekayasa struktur, sistem kelistrikan, dan perencanaan ruang perlu dipertemukan untuk menghasilkan infrastruktur yang tidak hanya fungsional, tetapi juga adaptif terhadap situasi darurat.

PRIME: Menghadirkan Simulasi Pencabutan Gigi yang Lebih Realistis

Inovasi kedua datang dari bidang pendidikan kedokteran gigi melalui program PKM-KI bertajuk Phantom Realistic Instruction Model for Extraction (PRIME): Simulator Pencabutan Gigi Berbasis Phantom dengan Tahanan Elektromagnetik dan Sistem Monitoring Terintegrasi.

Diketuai Davin Izhrel Ngilamele, tim ini mengembangkan simulator pencabutan gigi berbasis phantom yang dirancang menghadirkan pengalaman latihan lebih realistis melalui mekanisme tahanan elektromagnetik dan sistem pemantauan terintegrasi.

Gagasan ini berangkat dari pentingnya pengalaman praktik dalam pendidikan kedokteran gigi. Keterampilan melakukan tindakan klinis tidak cukup diperoleh melalui penguasaan teori, tetapi juga membutuhkan latihan berulang untuk membangun ketepatan gerakan, koordinasi tangan, dan pemahaman terhadap respons mekanis selama prosedur berlangsung.

Simulator PRIME diarahkan untuk menghadirkan pengalaman pembelajaran yang lebih mendekati kondisi tindakan klinis. Integrasi tahanan elektromagnetik menjadi bagian penting dari konsep inovasi tersebut, sementara sistem monitoring diharapkan dapat mendukung proses evaluasi keterampilan mahasiswa.

Tim PRIME terdiri atas Davin Izhrel Ngilamele, Dimas Nada, Gary Christian, Luthfi Han, dan Nafisa Afnan. Mereka berasal dari bidang Kedokteran Gigi, Teknik, dan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA). Tim ini dibimbing Prof. Dr. drg. Archadian Nuryant, M.Kes.

Kehadiran inovasi tersebut memperlihatkan peluang integrasi teknologi rekayasa dengan pendidikan kedokteran gigi. Pengembangan simulator yang semakin realistis dapat menjadi bagian dari transformasi pembelajaran klinis, sekaligus membuka ruang pengembangan teknologi pendidikan kedokteran gigi yang lebih mandiri.

Glicovia: Membaca Risiko Prediabetes melalui Air Liur

Sementara itu, inovasi ketiga mengangkat persoalan kesehatan masyarakat melalui program PKM-KC berjudul Glicovia: Inovasi Non-invasive Salivary Glucose Detector Berbasis Support Vector Machine (SVM) Terintegrasi IoT sebagai Upaya Deteksi Dini Prediabetes.

Dikembangkan oleh tim yang diketuai Alya Ramadhani, Glicovia menawarkan pendekatan deteksi glukosa melalui air liur dengan memanfaatkan teknologi Support Vector Machine (SVM) dan integrasi Internet of Things (IoT).

Gagasan utama inovasi ini adalah menghadirkan alternatif pendekatan pemeriksaan yang bersifat non-invasif atau tanpa tindakan pengambilan sampel darah secara langsung.

Pengembangan teknologi tersebut memiliki relevansi dengan kebutuhan deteksi dini gangguan metabolisme, terutama prediabetes. Kondisi prediabetes kerap tidak disadari karena belum selalu menunjukkan gejala yang jelas. Padahal, identifikasi risiko sejak awal menjadi salah satu langkah penting untuk mendorong perubahan perilaku dan tindak lanjut pemeriksaan kesehatan.

Melalui pemanfaatan algoritma SVM, tim mengembangkan pendekatan komputasional untuk mengolah dan mengklasifikasikan data yang diperoleh dari sistem deteksi. Sementara itu, integrasi IoT membuka peluang pengembangan sistem pemantauan dan pengolahan informasi secara digital.

Tim ini melibatkan mahasiswa Kedokteran Gigi dan Teknik Informatika. Selain Alya Ramadhani, anggota tim terdiri atas Naefi Luthfia, Emmily Marthia, dan Hendra Kurnia. Tim dibimbing Dr. drg. Indra Bramanti, M.Sc., Sp.KGA(K).

Inovasi Glicovia memperlihatkan potensi kolaborasi antara ilmu kedokteran gigi, teknologi kecerdasan komputasional, dan sistem digital dalam pengembangan teknologi kesehatan preventif.

Meski demikian, pengembangan alat deteksi berbasis air liur tetap membutuhkan pengujian akurasi, validasi klinis, serta pembuktian keterkaitannya dengan pemeriksaan glukosa darah yang menjadi standar klinis. Dengan demikian, inovasi ini dapat terus dikembangkan secara ilmiah sebelum diterapkan sebagai perangkat skrining kesehatan.

Riset Mahasiswa & Tantangan Menjawab Persoalan Masyarakat

Ketiga inovasi tersebut memperlihatkan arah pengembangan kreativitas mahasiswa yang semakin berorientasi pada penyelesaian persoalan nyata. Isu kebencanaan, peningkatan kualitas pendidikan klinis, dan pencegahan penyakit tidak lagi ditempatkan sebagai persoalan yang berdiri sendiri, melainkan sebagai ruang kolaborasi lintas bidang keilmuan.

Ada benang merah yang menghubungkan ketiganya: teknologi harus memiliki relevansi sosial. Solar Bridge berbicara tentang ketahanan masyarakat menghadapi bencana. PRIME menawarkan penguatan kualitas pendidikan tenaga kesehatan melalui simulasi yang lebih realistis. Adapun Glicovia berupaya membuka kemungkinan pendekatan deteksi dini penyakit yang lebih mudah dan nyaman.

Tantangan berikutnya adalah memastikan gagasan tersebut berkembang melampaui ruang kompetisi. Inovasi perlu melalui tahapan pengujian, penyempurnaan desain, validasi, serta pengembangan model penerapan agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.

PIMNAS dengan demikian menjadi lebih dari sekadar panggung untuk mempresentasikan hasil kreativitas mahasiswa. Ajang ini merupakan ruang pembuktian bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mempertemukan pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan masyarakat.

Ketika mahasiswa mampu membaca persoalan di sekitarnya dan menerjemahkannya menjadi inovasi, riset kampus menemukan makna yang lebih luas. Bukan hanya menghasilkan prototipe atau karya ilmiah, melainkan turut membangun harapan bagi lahirnya solusi yang bermanfaat bagi kehidupan.

(Reporter: Andri Wicaksono, Foto: Arsip drg. Muhammad Fahmi Alfian, M.P.H.)

Tags

Share News

Related News
4 November 2026

Meningkatkan Kesejahteraan Civitas Akademika, FKG UGM Hadirkan Koperasi Mitra Denta Sejahtera

4 November 2026

FKG UGM Perluas Kolaborasi Strategis Bersama IKARGI & Dentalities Group Asia, Pertajam Kompetensi Dokter Gigi

4 November 2026

Teknologi 3D Memperbaharui Lanskap Radiologi Kedokteran Gigi