Di sebuah ruangan Laboratorium Radiologi Kedokteran FKG UGM, percakapan itu dimulai dengan nada praktis: tentang peralatan, utilitas, dan kebutuhan pelayanan kesehatan yang terus bertambah. Namun dari diskusi teknis itu, terselip gagasan yang lebih luas, bagaimana sumber daya di lingkungan UGM dapat diikat dalam satu simpul sinergi, melayani bukan hanya institusi, tetapi juga manusianya.
Direktur SDM & Akademik Rumah Sakit Akademik UGM (RSA UGM) Prof. apt. Ika Puspita Sari, M.Si., Ph.D. menyatakan “Saat ini RSA UGM tengah bersiap mengoperasikan tambahan sekitar 100 tempat tidur VIP. Ekspansi ini menandai fase pertumbuhan baru rumah sakit pendidikan. Seiring pertambahan kapasitas, kebutuhan layanan penunjang medis, termasuk radiologi ikut meningkat”.
Di saat yang sama, di lingkungan Fakultas Kedokteran Gigi UGM, sejumlah fasilitas radiologi dinilai memiliki potensi pemanfaatan yang lebih luas. Dari sinilah penjajakan kerja sama dimulai. Kehadiran Direksi RSA UGM disambut oleh Wakil Dekan Bidang Kerja Sama, Pengabdian Masyarakat & Riset drg. Trianna Wahyu Utami, MD.Sc., Ph.D, Kepala Departemen Radiologi Kedokteran Gigi FKG UGM drg. Isti Rahayu Suryani, M.Biotech., Sp.Rad.OM., Subsp.RDP., Ph.D beserta jajarannya.
Bukan Sekadar Soal Alat
Percakapan antara RSA dan Radiologi FKG UGM berangkat dari gagasan sederhana: mungkinkah alat yang ada dimanfaatkan lebih efisien untuk kepentingan bersama?
Sebagai rumah sakit pendidikan, RSA membutuhkan dukungan diagnostik yang kuat untuk menopang pelayanan sekaligus pembelajaran klinis. Variasi kasus yang semakin banyak menuntut sistem penunjang yang responsif dan terintegrasi.
Gagasan yang mengemuka bukan sekadar pemindahan atau penggunaan alat, melainkan skema kolaboratif yang tetap memperhatikan tata kelola aset universitas. Setiap kemungkinan akan dibahas bersama unit pengelola aset, memastikan bahwa langkah yang diambil tidak melampaui koridor kelembagaan.
Ekspansi yang Ditopang Kemandirian
Rencana penambahan 100 tempat tidur di RSA bukan langkah kecil. Pengembangan tersebut dilakukan dengan pembiayaan internal, sebuah penegasan bahwa ekspansi layanan dibangun dengan tanggung jawab institusional.
Namun, pertumbuhan membawa konsekuensi. Kapasitas rawat inap bertambah, beban layanan meningkat, dan kebutuhan pemeriksaan diagnostik pun ikut terdorong naik. Di titik itulah kolaborasi menjadi relevan—bukan sebagai pilihan, melainkan kebutuhan strategis.
RSA tidak hanya memosisikan diri sebagai rumah sakit rujukan, tetapi juga sebagai laboratorium hidup bagi pendidikan kedokteran dan kesehatan. Integrasi fasilitas radiologi berpotensi memperkaya paparan kasus mahasiswa, mempercepat layanan pasien, dan mengoptimalkan investasi alat yang sudah dimiliki UGM.
Melayani Lebih Luas dari Sekadar Dosen
Di balik perhitungan kapasitas dan efisiensi, ada dimensi lain yang tak kalah penting: pelayanan kepada warga UGM secara menyeluruh.
RSA merencanakan pembukaan poli khusus di Gedung Serikandi 1 yang diperuntukkan bagi dosen, tenaga kependidikan, dan pensiunan UGM. Layanan ini terintegrasi dengan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) seperti GMC dan Korpagama, sehingga alur pelayanan menjadi lebih terkoordinasi.
Langkah ini menandai pergeseran pendekatan dari sekadar rumah sakit pendidikan menjadi simpul layanan kesehatan internal universitas. Bukan hanya akademisi, melainkan seluruh ekosistem kampus.

Merawat Sinergi, Menguatkan Institusi
Penjajakan antara RSA dan Radiologi FKG UGM memang masih dalam tahap pembahasan. Namun gagasan yang mengemuka mencerminkan arah pengelolaan universitas modern: memaksimalkan apa yang dimiliki, menyatukan yang terpisah, dan menghindari duplikasi sumber daya.
Sinergi internal bukan perkara teknis semata. Ia menyangkut kepercayaan antarunit, keberanian membuka ruang kolaborasi, dan kesediaan berbagi manfaat.
Di tengah dinamika pengelolaan rumah sakit pendidikan yang kian kompleks, percakapan tentang alat radiologi itu mungkin tampak sederhana. Tetapi di situlah fondasi institusi dibangun—dari dialog, dari kehendak untuk bekerja bersama.
Dan bagi UGM, pertumbuhan bukan hanya soal bertambahnya tempat tidur atau gedung baru. Ia adalah tentang bagaimana seluruh bagiannya bergerak dalam satu irama: melayani, mendidik, dan merawat.
(Reporter: Andri Wicaksono, Foto: Fajar Budi Harsakti)