News

/

Latest News

Dari Cetakan Alginat ke Pindai Digital: Tantangan Pendidikan Prostodonti di Era Teknologi Digital

PEMBUKAAN PSMKGI XIX

Ketelitian dalam mencetak rahang masih menjadi fondasi pendidikan prostodonti di Indonesia. Namun, ketika teknologi digital menawarkan presisi yang lebih tinggi, perguruan tinggi dihadapkan pada pertanyaan mendasar: sejauh mana kesiapan beradaptasi tanpa meninggalkan dasar klinis. drg. Mohammad Fadyl Yunizar, M.PH., Ph.D menyampaikan paparannya pada Pembukaan PSMKGI XIX

Pendidikan kedokteran gigi di Indonesia tengah berada pada persimpangan penting. Di satu sisi, metode konvensional masih menjadi fondasi pembelajaran prostodonti. Di sisi lain, transformasi digital mendorong perubahan cara kerja yang menuntut adaptasi cepat, baik dari institusi pendidikan maupun calon dokter gigi.

Perubahan itu mengemuka dalam kegiatan akademik yang membahas praktik prostodonti, mulai dari pencetakan gigi tiruan hingga penerapan teknologi computer-aided design/computer-aided manufacturing (CAD/CAM). Diskusi tersebut menyoroti bahwa kesalahan kecil pada tahap awal—seperti pencetakan anatomi yang tidak lengkap—dapat berdampak panjang hingga tahap pemasangan pada pasien

Dalam praktik konvensional, pencetakan rahang dengan bahan alginat atau silikon masih lazim digunakan. Namun metode ini menyimpan tantangan: perubahan dimensi bahan, risiko hasil cetakan berpori, hingga ketidakakuratan yang baru terdeteksi ketika gigi tiruan telah diproses dan dicoba pada pasien. Ketika kesalahan terjadi, proses sering kali harus diulang dari awal.

KETEPATAN AWAL MENENTUKAN HASIL

Para pengajar menekankan bahwa kunci keberhasilan prostodonti terletak pada tahap awal, yakni model studi. Anatomi rahang atas dan bawah harus terekam utuh—mulai dari tuberositas, hamular notch, hingga area molar posterior—agar desain gigi tiruan memiliki retensi dan stabilitas yang memadai.

Kesalahan pada tahap ini tidak hanya berdampak teknis, tetapi juga klinis. Gigitan yang terlalu tinggi atau tidak seimbang, misalnya, dapat memicu ketidaknyamanan jangka panjang, gangguan sendi temporomandibular (TMJ), hingga keluhan nyeri kepala pada pasien.

Selain itu, proses penyesuaian oklusi (occlusal adjustment) menjadi tahap krusial yang sering kali terlewat. Tanpa penyesuaian yang tepat, gigi tiruan atau restorasi dapat terlihat “baik” secara visual, tetapi bermasalah secara fungsi.

MASUKNYA TEKNOLOGI DIGITAL

Perkembangan teknologi digital menawarkan solusi atas sebagian kendala tersebut. Intraoral scanner memungkinkan pencatatan anatomi rahang secara langsung tanpa bahan cetak konvensional, mengurangi risiko distorsi dan ketidaknyamanan pasien.

Dengan sistem CAD/CAM, desain gigi tiruan dapat dilakukan secara digital, kemudian diproduksi melalui proses milling atau pencetakan tiga dimensi. Dalam konsep chairside, seluruh proses dari preparasi hingga pemasangan, bahkan dapat diselesaikan dalam satu kali kunjungan.

Namun adopsi teknologi ini tidak tanpa hambatan. Investasi awal perangkat digital tergolong mahal, dengan harga pemindai intraoral mencapai ratusan juta rupiah, belum termasuk perangkat lunak dan mesin produksi. Kondisi ini membuat penerapan teknologi digital belum merata, terutama di institusi pendidikan dengan keterbatasan anggaran

TANTANGAN KURIKULUM DAN ETIKA

Di tingkat pendidikan sarjana dan profesi, teknologi digital umumnya masih diperkenalkan sebagai materi pengantar. Mahasiswa dikenalkan pada prinsip dasar pemindaian dan desain digital, tetapi belum sepenuhnya terlibat dalam praktik klinis berbasis teknologi tersebut.

Di sisi lain, muncul pula perhatian terhadap aspek etika. Paparan prosedur klinis secara rinci di media sosial dinilai berpotensi disalahgunakan oleh pihak yang tidak memiliki kompetensi, termasuk praktik ilegal yang dapat membahayakan pasien.

MENYIAPKAN DOKTER GIGI MASA DEPAN

Transformasi digital dalam prostodonti pada akhirnya tidak sekadar soal alat, melainkan perubahan paradigma. Kolaborasi lintas spesialis prostodonti, ortodonti, bedah mulut, hingga rehabilitasi maksilofasial menjadi semakin penting dalam menangani kasus kompleks, mulai dari kehilangan jaringan akibat kanker hingga rehabilitasi estetik menyeluruh.

Bagi pendidikan kedokteran gigi, tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara penguasaan dasar konvensional dan kesiapan menghadapi teknologi masa depan. Ketepatan klinis, pemahaman anatomi, serta etika profesi tetap menjadi fondasi, sementara teknologi hadir sebagai alat bantu untuk meningkatkan mutu layanan.

Di tengah perubahan jaman, satu prinsip tetap berlaku: “Hasil perawatan terbaik selalu bermula dari ketelitian sejak langkah pertama”.

(Reporter: Andri Wicaksono, Fotografi: Fajar Budi Harsakti)

Tags

Share News

Related News
30 January 2026

PSMKGI: Menguji Konsolidasi, Merawat Persatuan

30 January 2026

Paradoks Kedokteran Gigi Indonesia: Menyongsong Masa Keemasan di Tengah Krisis Distribusi dan Tantangan Etika Digital

29 January 2026

Digital Workflow Berbasis CAD/CAM Perkuat Presisi Bedah Implan Gigi

en_US