Kadar kalsium enamel gigi sulung yang direndam dalam larutan mousse cangkang kerang hijau mencapai 28,97 ppm — melampaui CPP-ACP, produk remineralisasi komersial yang selama ini dianggap standar emas. Hasil itu mungkin terasa mengejutkan, mengingat bahan bakunya adalah limbah laut yang biasa dibuang begitu saja di tempat pelelangan ikan.
Itulah temuan utama penelitian yang baru diterbitkan di Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran edisi Desember 2025. Penelitian ini digagas oleh tim dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak FKG UGM: Sito Resmi Hayuning Wardani, Putri Kusuma Wardani Mahendra, dan Dr. drg. Indra Bramanti, M.Sc., Sp.KGA(K). Bagi para peneliti itu, pertanyaannya sederhana namun mendesak: apakah ada alternatif remineralisasi yang lebih ekonomis, lebih mudah diakses, dan tidak bergantung pada produk berbasis susu sapi?
Dari Limbah Maritim ke Prekursor Hidroksiapatit
Gigi sulung — gigi “pertama” yang menemani anak dari bayi hingga usia sekolah dasar — memiliki enamel yang lebih tipis dan lebih berpori dibandingkan gigi permanen. Karakter ini membuat gigi sulung lebih rentan terhadap serangan asam dari bakteri kariogenik. Ketika pH rongga mulut turun, ion kalsium dan fosfat larut dari enamel, membentuk lesi bercak putih yang, jika dibiarkan, berkembang menjadi kavitas.
Proses kebalikannya, remineralisasi, membutuhkan pasokan ion kalsium dan fosfat dari luar. CPP-ACP selama ini menjadi pilihan utama karena kemampuannya mengikat dan melepaskan ion-ion tersebut ke permukaan enamel. Namun CPP-ACP punya kelemahan struktural: mudah larut dalam suasana asam, daya penetrasi ke enamel terbatas, dan tidak dapat digunakan pada anak dengan hipersensitivitas terhadap protein susu sapi.
Cangkang kerang hijau (Perna viridis) menawarkan jalan keluar yang tidak terduga. Kandungannya mencapai 95% kalsium karbonat amorf murni — bahan baku ideal untuk mensintesis hidroksiapatit, mineral penyusun utama enamel gigi. Lebih dari itu, kerang hijau memiliki kandungan air 0%, ketahanan terhadap kontaminasi mikroba, dan biaya produksi yang jauh lebih rendah dibandingkan sumber kalsium maritim lain seperti cangkang tiram atau cangkang capiz.
Proses sintesisnya memang tidak sederhana. Cangkang dibersihkan, direbus, dikeringkan, lalu dikalsinasi pada suhu 1.000°C selama lima jam untuk mengubah kalsium karbonat menjadi kalsium oksida. Kalsium oksida kemudian direaksikan dengan diamonium fosfat melalui proses presipitasi bertahap, menghasilkan senyawa kalsium hidroksiapatit yang siap diformulasikan ke dalam sediaan mousse.
Mousse, Bukan Sekadar Tekstur
Pemilihan bentuk sediaan mousse bukan keputusan estetik semata. Dibandingkan gel, mousse memiliki konsistensi lebih ringan dan bersifat hidrofilik — memungkinkan penetrasi yang lebih dalam ke permukaan enamel yang halus dan berlapis. Formulasi mousse dalam penelitian ini dirancang dengan komponen humektan (gliserin dan propilen glikol), pengemulsi (stearic acid dan cetyl alcohol), serta surfaktan sodium lauryl sulfate, dengan tambahan minyak esensial peppermint untuk kenyamanan pengguna anak.
Mousse ekstrak kerang hijau konsentrasi 20% kemudian diuji pada 16 gigi insisivus desidui yang telah mengalami demineralisasi artifisial menggunakan asam fosfat 37%. Empat kelompok dibentuk: kelompok mousse kerang hijau, kelompok CPP-ACP sebagai kontrol positif, kelompok basis mousse tanpa ekstrak, dan kelompok kontrol negatif tanpa perlakuan. Seluruh sampel diinkubasi pada suhu 37°C selama 30 menit — mereplikasi suhu rongga mulut manusia. Kadar kalsium enamel kemudian diukur menggunakan Spektrofotometri Serapan Atom (SSA), metode analitik berketelitian tinggi.
Hasilnya berbicara lantang.
“Kelompok mousse kerang hijau menunjukkan kadar kalsium tertinggi dengan nilai 28,97±1,75 ppm, diikuti kelompok kontrol positif CPP-ACP sebesar 27,89±1,78 ppm, kelompok basis mousse 22,53±1,05 ppm, dan terendah pada kelompok kontrol negatif 22,17±0,36 ppm.” — Wardani SRH, Mahendra PKW, Bramanti I., Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, 2025
Uji statistik One Way ANOVA mengkonfirmasi perbedaan bermakna antar kelompok (p=0,0001). Uji Post Hoc LSD menunjukkan mousse kerang hijau unggul secara klinis atas CPP-ACP, meski selisih keduanya tidak mencapai signifikansi statistik (p=0,288) — sebuah detail yang justru memperkuat argumen: bahan alami ini setara dengan produk komersial yang harganya jauh lebih tinggi.
Mekanisme di Balik Angka
Keunggulan mousse kerang hijau bukan kebetulan. Ion kalsium dari ekstrak kerang hijau hadir dalam bentuk aragonit dengan bioavailabilitas tinggi, memudahkan pelepasannya ke permukaan enamel. pH larutan ekstrak yang tinggi (sekitar 11,8) menciptakan lingkungan mikro kondusif bagi aktivitas ion fosfat dan hidroksil — dua komponen kritis dalam proses pembentukan kembali kristal hidroksiapatit pada enamel yang rusak.
Mekanismenya terjadi melalui pengikatan ion kalsium pada gugus karboksil hidroksiapatit enamel, membentuk lapisan jenuh yang mencegah larutnya kristal lebih lanjut. Formulasi mousse memperkuat proses ini dengan mendistribusikan bahan aktif secara lebih merata dan meningkatkan waktu kontak bahan dengan permukaan gigi.
Penelitian ini memang masih bersifat in vitro dengan sampel terbatas — 16 gigi, waktu observasi 30 menit, dan kondisi saliva buatan yang belum merepresentasikan dinamika rongga mulut sesungguhnya. Para peneliti, termasuk Dr. drg. Indra Bramanti, M.Sc., Sp.KGA(K), secara eksplisit mengakui keterbatasan ini dan mendorong penelitian lanjutan dengan desain in vivo, sampel lebih besar, serta parameter evaluasi yang mencakup perubahan struktur mikro enamel.
Dari Laboratorium ke Klinik Anak
Yang membuat temuan ini relevan bukan hanya angka-angkanya, melainkan implikasinya. Di Indonesia, karies gigi sulung masih menjadi masalah kesehatan mulut anak yang meluas — dan CPP-ACP, sebagai produk impor berbasis protein susu, tidak selalu terjangkau atau aman untuk semua anak. Anak dengan alergi protein susu sapi, atau anak dari keluarga berpenghasilan rendah, praktis terpinggirkan dari akses remineralisasi modern.
Mousse cangkang kerang hijau menawarkan sesuatu yang berbeda: bahan baku lokal, berlimpah, dan murah; proses produksi yang dapat diskalakan; dan profil keamanan yang menjanjikan karena hidroksiapatit bersifat non-toksik dan non-imunogenik. Jika penelitian lanjutan mengkonfirmasi efektivitasnya dalam kondisi klinis nyata, produk ini berpotensi mengubah lanskap pencegahan karies anak di negara-negara berkembang.
Limbah yang selama ini dibuang di dermaga mungkin menyimpan jawaban untuk jutaan gigi kecil yang perlu diselamatkan.
Sumber DOI : https://doi.org/10.24198/jkg.v37i3.60956)
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels