Kebutuhan mahasiswa terhadap Dosen Pembimbing Akademik (DPA) di kampus rupanya lebih dari urusan administratif seperti persetujuan Kartu Rencana Studi (KRS). Astri, M.Psi. Psikolog mengungkapkan hal utama yang paling dibutuhkan mahasiswa dari sosok DPA adalah kesediaan untuk mendengar, memahami, memvalidasi emosi, dan memberi arahan kepada mahasiswa.
Kebutuhan ini muncul akibat tingginya beban psikologis yang dihadapi mahasiswa Generasi Z. Psikolog Astri mengibaratkan persoalan mahasiswa di kampus menyerupai fenomena gunung es. Dosen umumnya hanya melihat gejala dari luar, seperti penurunan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), terlambat masuk kelas, hingga sikap pasif di kelas.
Pada kenyataannya, mahasiswa harus berhadapan dengan kurikulum yang padat, ekspektasi orang tua, persoalan finansial, hingga konflik keluarga. Akibatnya, mereka sangat rentan mengalami kelelahan akademik (burnout), kecemasan berlebih, dan ketakutan akan kegagalan.
“Mahasiswa sering kali tidak mencari seseorang yang selalu punya jawaban atas masalah mereka. Mereka hanya butuh orang yang bersedia mendengarkan keluh kesahnya,” papar Astri.
Astri menyarankan DPA mengubah pola komunikasi dan membuang kalimat yang berpotensi menutup ruang diskusi. Respons dosen seperti “tenang saja”, atau “itu hal biasa” justru berisiko membuat mahasiswa merasa perasaannya tidak diperdulikan.
Sebagai gantinya, dosen perlu mempraktikkan empati dan pendengaran aktif. Dosen dapat merespons dengan kalimat yang memvalidasi emosi, seperti “Saya bisa memahami kekhawatiranmu,” atau mengucapkan terima kasih karena mahasiswa sudah mau terbuka dan bercerita.
Astri juga mendorong DPA menerapkan Psychological First Aid (Pertolongan Pertama Psikologis) melalui prinsip Look, Listen, and Link. Dosen mengambil peran sebagai pendengar pertama dan pemberi dukungan. Apabila mahasiswa mulai menunjukkan gejala krisis, seperti menyakiti diri sendiri atau kehilangan keinginan hidup, dosen wajib merujuk mahasiswa ke layanan psikolog profesional.

Sementara itu, Prof. drg. Rosa Amalia M.Kes., Ph.D. selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FKG UGM menegaskan DPA berkedudukan sebagai pendamping perjalanan mahasiswa. Mereka hadir pada fase-fase penting saat mahasiswa mengenali potensi diri maupun saat mahasiswa berjuang menghadapi persoalan tersembunyi.
Di tengah tantangan akademik yang makin kompleks, Rosa meminta para DPA untuk menguasai aturan akademik sekaligus benar-benar memahami karakter individu yang didampingi.
“Mahasiswa mungkin tidak akan mengingat setiap nasihat kita. Namun, mereka akan selalu mengingat bagaimana kita membuat mereka merasa didengar, dihargai, dan dipercaya,” tutur Rosa.
Menurutnya, proses pembimbingan yang berkualitas ini menjadi pijakan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada dalam mencetak lulusan dokter gigi yang kompeten secara akademik dan klinis, sekaligus membentuk insan berintegritas dan memiliki kepedulian terhadap sesama.
Author: Fajar Budi Harsakti
Foto: Tangkapan Layar Zoom Meeting