Metode kajian systematic review saat ini memungkinkan peneliti merangkum puluhan hasil penelitian menjadi satu kesimpulan medis yang akurat. Cara ini dinilai sebagai metode yang dapat menghasilkan bukti ilmiah kuat tanpa harus selalu turun ke lapangan untuk melakukan uji klinis baru terhadap pasien.
Demikian pernyataan Prof. dr. Detty Siti Nurdiati, M.P.H., Ph.D., Sp.O.G., Subsp. K.F.M., Direktur Cochrane Indonesia saat menjadi pembicara workshop berjudul Systematic Review Following Cochrane Method pada 16 Juli 2026.
“Membuat pertanyaan penelitian adalah langkah pertama yang esensial untuk pembuatan systematic review kita. Dari pertanyaan inilah kita diarahkan untuk menyeleksi mana data yang layak dimasukkan atau harus disingkirkan,” ucap Prof. Detty, melalui zoom meeting.
Lebih lanjut beliau menjelaskan tiga poin penting untuk keperluan riset ini, yaitu penggunaan kerangka rumusan masalah, penentuan batasan topik, dan pembaruan data. Peneliti harus merumuskan kerangka yang jelas, meliputi siapa pasiennya, apa tindakan medisnya, dan hasil apa yang diukur. Terkait batasan, topik yang sempit menghasilkan data yang lebih mudah diolah, sedangkan topik luas memberi ruang perbandingan yang lebih banyak. Sementara itu, untuk topik yang sudah pernah diterbitkan oleh orang lain, peneliti dapat berkolaborasi melakukan pembaruan data memanfaatkan temuan riset terbaru.
“Kita harus melihat kebutuhan seluruh pemangku kepentingan, terutama pasien, pembuat kebijakan, dan tenaga kesehatan,” ujarnya.




Bagi Detty, workshop ini menjadi momentum penting bagi institusi dalam upaya memenuhi standar publikasi khususnya dengan Metode Cochrane. Dia berharap kegiatan ini mampu mendorong peneliti mengangkat isu kesehatan yang berdampak luas bagi dunia medis internasional.
“Metode systematic review ini juga bisa diaplikasikan pada riset ranah ilmu dasar. Kita bisa mengeksplorasi konsistensi temuan dan membandingkan opsi intervensi yang ada,” tambahnya.
Cochrane Indonesia adalah jaringan dan pusat penelitian independen yang menyediakan bukti ilmiah medis terpercaya untuk mendukung layanan kesehatan berbasis bukti (evidence base). Cochrane Indonesia berdiri sejak tahun 2018 yang memiliki misi untuk mengembangkan dan mempromosikan penyusunan systematic review (tinjauan sistematis) sesuai standar metode Cochrane.
Sementara itu, Prof. drg. Ika Dewi Ana M.Kes., Ph.D., Ketua Departemen Biomedika Kedokteran Gigi FKG UGM menyatakan publikasi ilmiah bereputasi kini menjadi standar luaran yang harus dipenuhi. “Per tahunnya kita ditargetkan menghasilkan 15 publikasi internasional di jurnal bereputasi, sehingga kontribusi publikasi berbasis kajian literatur sangat diperlukan,” pungkas Ika.
Author and Photo: Fajar Budi Harsakti